Beranda Teras Berita Ada Apa dengan Byarpet di Lampung ?

Ada Apa dengan Byarpet di Lampung ?

208
BERBAGI
Oleh Karina Lin
Pet, pet, pet !
Sabtu malam 3 Mei 2014 lalu byarpet kembali datang tanpa diundang. Ditengah
kesibukan saya mengetik tulisan sembari bermedia sosial di laman Facebook,
tahu-tahu saja ruang kamar saja menjadi gelap gurita. Kipas angin yang
menghembuskan angin sepoi-sepoi berhenti berputar sehingga selain kegelapan
menyergap, panas pun membekap.
Sontak sumpahan
dan dumelan terucap dari mulut saya dan siapa lagi kalau bukan PLN yang menjadi
objek sumpahan dan dumelan itu. PLN yang katanya Perusahaan Listrik Negara,
bagi saya dan mungkin rerata warga masyarakat yang pernah mengalami kejadian
tak enak dengan PLN – lebih tepat disebut Perusahaan Lilin Negara.
Sungguh terlalu!
Menyebalkan dan rasanya pengen sekali menggrebek Kantor PLN serta melemparinya
dengan bom molotov. Biarlah kantor Perusahaan Lilin Negara itu hancur lebur.
Apalagi lokasi kantor Pe-el-en itu tak jauh dari lokasi tempat tinggal saya.
Kekesalan saya makin membumbung di ubun-ubun ketika mengingat bahwa seminggu
sebelumnya dan tepatnya juga di Sabtu (malam minggu) 26 April 2014, Pe-el-en juga
melakukan hal yang sama. Listrik dimatikan mulai pukul setengah tujuh malam dan
baru menyala sekira hampir pukul setengah sebelas malam.
Ketika Peelen
mematikan listrik di Sabtu dua minggu lalu itu, saya beruntung. Pasalnya di Cafe
Dawiels, awak AJI Bandarlampung menggelar acara Pengumuman dan Penyerahan
hadiah pemenang Beasiswa dan Workshop Tata Kelola Kehutanan 2014. Sebagai
anggota AJI maka tentulah saya hadir di acara tersebut. Kejenuhan yang dipicu
oleh Pe-el-en, untuk sementara bisa teredakan. Namun, tidak
demikian ketika Sabtu malam minggu berikutnya (yang tanggal 3 Mei 2014) itu
loh. Berharap diapelin kekasih tercinta, eh malah Pe-el-en byarpet yang mengapel.
Oh malangnya….
Pet, pet, pet !
Saya bertanya-tanya, ada apakah gerangan dengan Pe-el-en
di Provinsi Sai Bumi Ruwa Jurai ini yang lagi-lagi melakukan byarpet bergilir?
Dulu, ketika saya masih tinggal – ngekost di Jalan Ahmad Yani, Peelen juga melakukan
hal yang sama. Kalau tidak salah dimulai bulan Agustus 2013. Lantas berlanjut
di bulan Desember 2013, Februari 2014 (atau Maret 2014 ya ?
Saya lupa
lantaran terlalu seringnya mengalami byarpet), saya benar-benar merasakan manis
madunya byarpet oleh Pe-el-en. Setiap dua hari sekali, Pe-el-en rajin wakuncar ke
tempat kost saya. Sampai-sampai, saking telah terbiasanya – saya perlu
mempersiapkan segala sesuatu yang bagus supaya saat si byarpet Peelen tiba,
saya bisa memberikan “servis” terbaik kepada mereka.
Sore-sore sekira
pukul empatan, saya sudah mengisi penuh bak air di kamar mandi. Kenapa ?
Lantaran kalau mati lampu, pompa air di kost-an ya jelas mati juga. Sementara
tempat kost saya waktu itu berada di lantai dua. Berhubung keran kamar mandi
saya rusak patah, maka proses mengisi penuh air ke bak mandi saya lakukan
dengan menggotong air dari keran yang berada di luar, di dekat dapur kecil dari
kamar kost saya. Bolak-balik saya mengangkati air tersebut sampai full dan
rasanya ? Cukup pegal terutama di bagian punggung bawah bagian belakang.
Sisi positifnya
ada juga sih. Saya perhatikan, pada kedua lengan saya mulai terbentuk otot-otot
yang kencang dan tubuh menjadi lebih bugar. Angkat-angkat air begitu rupanya
cukup menjadi olahraga yang bisa membakar kalori dan membantu pembentukan tubuh
langsing juga, begitu pikir saya.
Oh ya, kembali
ke soal Peelen kerap byarpet. Sewaktu di kost-an lama – kabarnya Peelen
melakukan byarpet bergilir disebabkan oleh proses maintenance yang dilakukan
oleh mereka terhadap pembangkit-pembangkit listriknya.
Mengutip
pemberitaan di sejumlah media cetak lokal online, konon (waktu itu) pemadaman
bergilir yang dilakukan sejak 26-31 Agustus 2013 dikarenakan pemeliharaan
terhadap pipa boiler Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tarahan Unit 4, PLTP
Ulubelu Unit satu, berkurangnya debit ait di pembangkit Listrik Tenaga Air
(PLTA) Way Besai dan prioritas pengairan PLTA Batutegi yang membuat sistem
Lampung mengalami defisit daya berkisar 50-60 Megawatt (MW). Dan menurut
mereka, proses maintenance ini membutuhkan waktu hingga September 2013.
Itu alasan yang
dipakai setahun lalu. Sekarang, saat byarpet kembali menghampiri, saya
bertanya-tanya alasan apa lagi yang akan dikemukakan oleh Peelen kepada warga
masyarakat Lampung ?  Ternyata Peelen,
selain rajin byarpet – hebat pula dalam hal merangkai alasan byarpet yang telah
dilakukan mereka terhadap masyarakat Lampung. Saya menduga, mungkin karena
telah terlalu sering Peelen Lampung menjalankan aksi byarpet maka tak heran
mereka menjadi terbiasa lihai membikin alasan.
Tambahan,
masyarakat Lampung bahkan seluruh Indonesia tidak bisa menggugat andaikata
Peelen byarpet. Dalam tulisan Nasib Listrik Kita yang dimuat surat kabar
Lampung Post edisi 7 Mei 2014 ini, Daeng Novrial menulis demikian:
inilah faktanya negara yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya, tetapi
masih krisis listrik sampai sekarang. Besarnya kebutuhan penduduk di negara
kita ternyata tidak bisa diimbangi dengan ketersediaan daya listrik yang
seharusnya melimpah. Padahal,  alam dan
potensi yang disediakan oleh negara untuk PLN telah dikuasai dan perusahaan
listrik inilah satu-satunya yang memonopoli penyediaan listrik di negara kita.
Ya, monopoli
inilah yang menjadikan masyarakat hanya bisa menerima (tentu sambil memendam
kekecewaan) dari setiap penyataan maaf dan alasan yang diajukan oleh Peelen
terkait aksi byarpet mereka.
Lantas alasan
apa yang dikemukakan oleh Peelen terkait byarpet yang terjadi dari akhir bulan
April 2014 ini. Menurut yang diberitakan oleh berbagai media massa lokal
setempat, salah satu gardu induk Pe-el-en di daerah Tegineneng meledak. OMG,
meledak ?! Lagi, lagi ?! Sungguh terlalu !
Pet ! Pet ! Pet
! Tidak lebay jika kita membelalak mata, mulut menganga lebar dan menupuk
jidat. Medengar alasan Peelen kali ini, justru respon yang patut kita layangkan
ialah mempertanyakan mengapa bisa terjadi. Mengapa dan kenapa gardu tersebut
bisa meledak ?
Logikanya
begini: setiap tahun dalam bulan-bulan tertentu Peelen melakukan pemdaman
bergilir dengan alasan sedang melakukan proses pemeliharaan (maintenance)
kepada para pembangkit listrik yang mereka miliki. Dikarenakan maintenance tadi
maka, daya pasokan listrik menjadi berkurang. Imbasnya dilakukanlah pemadaman
bergilir sebagai solusi sementara.
Nah, jika Pe-el-en
sangat rajin melakukan proses pemeliharaan,  kenapa salah satu gardu
listrik mereka bisa meledak tak lama pascapemeliharaan? Tanda tanya besar
menghampiri saya dan kita. Kalau sampai terjadi, bukan kalau sampai. Namun
faktanya sampai terjadi gardu meledak. Jadi ,sesungguhnya apa sih yang dilakukan
oleh Pe-el-en selama pemeliharaan  beberapa bulan lalu? Sungguhkah mereka
melakukan pemeliharaan?  Sukucadang-sukucadang mesin kualitas macam apakah yang mereka pakai? Apakah sukucadang  kelas KW ataukah
orisinal dalam melakukan pemeliharaanterhadap aset mereka ? Atau jangan-jangan
ada udang di balik byarpet (baca: korupsi) ? 
Ah, ada apa dengan byarpet di
Lampung sih ?
Loading...