Beranda News Ada Rahasia Besarkah sehingga Wartawan Dilarang Meliput Kunjungan Kapolri di Polda Lampung?

Ada Rahasia Besarkah sehingga Wartawan Dilarang Meliput Kunjungan Kapolri di Polda Lampung?

632
BERBAGI
Para awak media kecewa dan pergi meninggalkan Mapolda Lampung, Jumat siang (7/4/2017).

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Pernah terbayang bahwa Polri akan hebat di mata publik jika prestasi dan kinerja para Kapolda, Kapolres, tim buser, tim gegana, Tekab 308 tidak ada wartawan yang menulis dan disebarluaskan di medi massa? Berapa dana yang harus dikeluarkan Polri untuk menyosialisasikan kinerjanya di seantero jagat?

Karena polisi butuh media, maka  pimpinan lembaga kepolisian akan berbaik-baik dengan media. Bahkan, saking ingin baiknya dengan media pernah ada pejabat kepolisian yang oleh publik dianggap punya beberapa wakil. Wakil resminya adalah perwira tinggi yang mendapatkan gaji negara. Wakil tidak resminya adalah petingga media massa yang ikut ke mana pun sang pimpinan kepolisian pergi. Cecunguk, bahasa kasarnya.

Karena saling membutuhkan itulah maka biasanya pejabat kepolisian akrab dengan para wartawan yang biasa ngepos di lembaga kepolisian semisal Mapolda, Mapolres, Mapolsek.

Namun, yang terjadi pada Jumat siang sebelum waktu shalat Jumat  (7/4/2017), ceritanya lain lagi. Para wartawan yang diundang untuk meliput kunjungan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian justru tidak boleh meliput. Seperti ada rahasia yang dikunci rapat, para wartawan tidak boleh meliput saat Kapolri memberikan pengarahan kepada jajaran kepolisian di Lampung.

Bagi para wartawan yang biasa meliput di Mapolda Lampung perlkuan seperti ini aneh. Sebab, beberapapa waktu lalu Kapolri (Jenderal Badrodin Haiti) juga datang ke Mapolda Lampung saat Kapolda dijabat Brigjen Ike Edwin. Saat itu para wartawan dapat leluasa mengambil gambar dari jarak dekat, mulai datangnya Kapolri saat akan masuk ke Halaman Mapolda Lampung hingga acara kunjungan tersebut usai.

Saat Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan pengarahan di Graha Wiyono Siregar (GWS) Mapolda Lampung, para awak media hanya disuruh oleh Bidang Humas Polda Lampung menunggu di tenda yang disiapkan di lapangan Mapolda Lampung.

Usai Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian berikan arahan dan penghargaan kepada jajaran Polda Lampung, sekitar pukul 11.40 WIB Kapolri bersama rombongan Kapolda Lampung dan para pejabat utama Polda Lampung langsung pergi meninggalkan Mapolda Lampung dan menuju ke Masjid Al-Furqon untuk melaksanakan sholat Jumat.

Para awak media yang tadinya diminta oleh Bidang Humas Polda Lampung untuk menunggu di tenda dan menyatakan nanti akan diberikan kesempatan untu mewawancara Kapolri setelah memberikan arahan terhadap jajaran Polda Lampung.

Namun kenyataannya, ketika acara pengarahan itu selesai, para awak media yang sudah menunggu dan akan mewawancarai terkait dengan kunjungan kerjanya, tidak diberikan ruang dan waktu sedikit pun oleh petugas Polda Lampung untuk mewawancarai Kapolri.

Para awak media terpaksa harus kecewa dan gigit jari karena tidak mendapat statmen sedikit pun terkait kunjungannya tersebut meski semua peralatan kamera sudah disiapkan.

Padahal sejumlah awak media, sudah mempersiapkan sejumlah pertanyaan yang akan dilayangkan. Baik masalah kunjungan kerjanya, tentang perkara masih banyaknya pelaku begal dan kasus kekerasan terhadap anak serta kasus lainnya.

Selain itu juga, mengenai masalah bahwa Komisi III DPR sudah meminta Polri untuk melakukan penjemputan paksa terhadap Gubernur Lampung untuk dihadirkan ke Komisi III DPR, terkait kasus bersama seorang wanita bernama Shinta Melyati.

Kemudian ada juga terkait masalah sanksi apa yang diberikan terhadap anggota polisi yang foto pose dengan lima pelaku begal yang ditembak mati hingga foto tersebut menjadi viral di media sosial dan beberapa pertanyaan lainnya.

Dengan hal tersebut, menimbulkan banyak pertanyaan dari masing-masing awak media yang sudah lama menunggu saat melakukan peliputan. Ada apa dan kenapa Kapolri langsung pergi dan wartawan tidak bisa mewawancarainya.

“Jadi kunjungan kerja Kapolri di Polda Lampung ini cuma begini aja, mau ambil gambar susah dan wawancara juga gak dapet, Tau begini mah, enak tidur aja di rumah,”ucap Oscar salah satu wartawan dari media Kupas Tuntas dengan nada kekesalannya.

Sementara menurut Eko, wartawan Bongkar Pos dan Arliyus wartawan Lampung Ekspres, keduanya sangat menyayangkan, kunjungan Kapolri kenapa wartawan susah saat mau wawancara.

“Sewaktu kunjungan Presiden saja, wartawan boleh melakukan peliputan dan wawancara. Kenapa kunjungan Kapolri ini kok susah ya,”ujar Yus.

Hal senada juga dikatakan oleh Sugiyanto wartawan dari media CNN, merasa kecewa karena tidak mendapat gambar yang laik dan statmen Kapolri dalam kunjungannya ke Polda Lampung.

“Ya kalau memang gak bisa dan gak dapet wawancara Kapolri, ya sudah pulang aja,”ungkapnya.

Dengan penuh rasa kekecewaan, dan tidak mendapat kepastian para awak media akhirnya pergi meninggalkan Mapolda Lampung.

Belum diketahui alasan pasti dari pejabat utama Polda Lampung, terkait adanya pembatasan kepada sejumlah awak media yang akan melakukan peliputan terkait dengan kunjungan Kapolri tersebut. Sehingga, membuat kekecewaan para awak media cetak, oneline, elektronik dan televisi.

Larangan bagi wartawan untuk meliput kunjungan Kapolri di Lampung justru menimbulkan banyak spekulasi. Di kalangan wartawan beredar rumor bahwa kunjungan Kapolri sengaja dibuat tertutup bagi wartawan agar pertanyaan-pertanyaan seputar masalah yang sedang hot di Lampung tidak muncul dan jadi berita.

Misalnya soal kasus beberapa polisi yang berwefie ria dengan lima mayat tersangka begal yang baru ditembak mati, kasus polisi yang ditangkapkn Polsek Natar saat membawa tiga sepeda motor curian dan kerjasama dengan begal Lamtim, soal kasus Gubernur Ridho Ficardo yang katanya akan dibawa paksa oleh polisi terkait panggilan Komisi III DPR RI dalam kasus perundungn Sinta Melyati, soal tidak satu pun kasus BBM ilegal jelas proses hukumnya, soal kelanjutan kasus perwira Polda yang ditangkap saat mesum dengan polwan di sebuah hotel, dan lain-lain.

Loading...