Ade Saskia, Penjaga Mangrove dari Makassar

Bagikan/Suka/Tweet:

TERASLAMPUNG.COM, MAKASSAR — Kepedulian terhadap lingkungan, bukan hal mudah. Terutama dalam hal membangun kesadaran untuk menjaga dan mau berjibaku mengajak yang lain untuk peduli kondisi lingkungan yang rusak.

Namun, hal itu tidak terjadi pada Ade Saskia Ramadina, perempuan kelahiran 9 November 2000 yang merupakan warga Kelurahan Lantebung, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.

Kepeduliannya menjaga lingkungan dengan menanam mangrove dan menjaganya dari sampah plastik, sudah dilakukan sejak masih duduk di bangku SMA.

Karena itu, setamat SMA ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara Indonesia, Jurusan Teknik Lingkungan, pada 2020 untuk dapat lebih mendalami persoalan lingkungan.

Kepedulian terhadap kawasan mangrove di Lantebung, berawal dari mimpi buruk terjadi banjir rob yang “menyapu bersih” rumahnya dan rumah warga di perkampungan yang berada di bibir pantai itu.

Mimpi buruk tersebut terus terbayang dan merasuki pikirannya, sehingga ia bertekad untuk berbuat sesuatu yang dapat menghalau agar mimpi buruk itu tidak menjadi kenyataan.

Segala aktivitas mulai digelutinya, mulai dari cara membibitkan tanaman mangrove, menanam hingga merawat agar tanaman itu dapat berkembang subur dilakukan Ade Saskia.

Selain itu, ia turut membantu menyosialisasikan pada warga agar peduli terhadap lingkungan dan juga terlibat dalam berbagai aksi penyelamatan lingkungan.

“Semua itu dengan harapan agar bencana yang pernah terjadi pada era 1990-an tidak terulang lagi,” katanya, belum lama ini.

Ketika itu, Kawasan mangrove Lantebung mengalami bencana banjir dan angin kencang yang cukup parah dan menyebabkan rumah warga rusak.

Hal itu dipicu oleh kondisi mangrove yang rusak akibat penebangan tanaman itu yang kemudian dijual warga setempat sebagai bahan arang atau kayu bakar.

Belajar dari pengalaman buruk warga di kampungnya itu, Ade Saskia pun terus menambah wawasan dengan membaca artikel penyelamatan lingkungan baik dari buku, internet maupun ikut berdiskusi atau workshop bertema lingkungan.

“Pengetahuan dan pengalaman yang saya peroleh itu kemudian saya bagikan baik kepada warga maupun teman sebaya,” ujar penggiat lingkungan ini.

Tak puas dengan upaya tersebut, ia pun menceburkan diri dengan berbagai aktivitas di tingkat lokal melalui lembaga Ikatan Keluarga Lantebung (Ikal) dan Jaringan Ekowisata Mangrove Lantebung (Jekomala), kemudian ditingkatkan lagi dengan memperluas jejaring dengan berbagai pihak luar.

Salah satunya adalah masuk dalam komunitas yang disebut Hutan Merdeka yang diinisiasi Yayasan Lindungi Hutan pada 2019.

Melalui Hutan Merdeka ini, Ade Saskia mendapat kepercayaan sebagai Ketua Panitia untuk melakukan berbagai aktivitas seperti perkemahan anak muda, diskusi dan penanaman mangrove.

Selanjutnya, pada 2020 ia kembali menginisiasi Hutan Merdeka 2, namun tidak lagi atas nama yayasan, melainkan dilakukan secara swadaya dengan sejumlah lembaga yang fokus pada isu lingkungan.

Bersama komunitas anak muda peduli lingkungan, Ade Saskia pun menggagas pembuatan rumah sampah yang bertujuan untuk memilah sampah, khususnya limbah plastik yang dapat merusak kawasan mangrove.

Dari limbah plastik itupun dapat memberikan nilai ekonomi bagi warga, karena dapat dijadikan kerajinan tangan atau didaur ulang.

“Ini kemudian menjadi tambahan pendapatan bagi ibu-ibu dan perempuan di Lantebung, sehingga bisa membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Kembangkan Ekowisata

Kawasan mangrove Lantebung yang semula hanya sebagai penahan abrasi, dalam dua tahun terakhir sudah memperlihatkan geliatnya menjadi kawasan ekowisata yang menarik untuk dikunjungi baik untuk studi lingkungan maupun untuk menikmati panoramanya.

Kawasan mangrove ini dikelola komunitas anak muda yang didalamnya termasuk Ade Saskia sebagai si penjaga mangrove. Tak heran, jika mendapat apresiasi dari Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman dan Wali Kota Makassar H Ramdhan Pomanto.

Sebagai bentuk simpati, sejumlah donatur baik dari lembaga pemerintah dan swasta pun memberikan sumbangsih untuk menata kawasan mangrove itu.

Kini, sudah ada jalan untuk tracking mengelilingi kawasan mangrove Lantebung, termasuk spot untuk berswafoto yang sangat menarik.

“Kami patut berbangga atas kepedulian komunitas anak muda yang mau menjaga lingkungan. Tentu ini harus ditularkan kepada generasi muda lainnya,” kata Sudirman.

Sementara Wali Kota Makassar mengatakan upaya yang dilakukan warganya itu, telah mengurangi sebagian beban Pemkot Makassar untuk mengadakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di wilayah perkotaan, termasuk menjaga kawasan mangrove untuk mencegah abrasi.

Apalagi berdasarkan data Balai Besar Kehutanan dan Lingkungan Hidup Makassar pada 2018 tercatat mangrove di Makassar tersisa sekitar 56,61 hektar yang tersebar dari pesisir selatan hingga utara Makassar.

Luas kawasan mangrove itu, semakin berkurang akibat berbagai aktivitas penimbunan pribadi, pengembangan perumahan maupun reklamasi untuk pelabuhan baru di Makassar.

Tantangan tersebut, bukan suatu hal yang mudah dilalui, apalagi bagi seorang penjaga mangrove seperti Ade Saskia, namun itu membutuhkan komitmen bersama antara pihak pemerintah, swasta dan masyarakat.

Jadi percontohan

Kawasan mangrove Lantebung menjadi percontohan rehabilitasi mangrove yang cukup berhasil sejak 2010 hingga saat ini.

Tentu keterlibatan semua pihak menjadi kunci keberhasilan. Pada momen tertentu seperti hari ulang tahun (HUT) instansi pemerintah atau swasta selalu merangkaikan dengan aksi penanaman pohon mangrove di kawasan itu.

Termasuk adanya pendampingan dari instansi terkait diantaranya Dinas Kehutanan Sulsel dan sejumlah LSM yang fokus pada isu lingkungan.

Kepala Dinas Kehutanan Sulsel Andi Parenrengi MP menyebutkan, pentingnya terus mendorong pelestarian kawasan mangrove Lantebung ini, karena hutan mangrove ini memberikan manfaat ekologi, ekonomi dan sosial.

“Masyarakat harus terus diedukasi pentingnya mangrove untuk jangka panjang,” ujarnya.

Selain itu, tokoh penerima Kalpataru karena melestarikan mangrove Lantebung, Saraba turut membantu mengedukasi dan memberikan percontohan pelestarian tanaman mangrove.

Dia mengatakan, dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya sejak 1980an itu, telah ia ditularkan pada generasi muda yang kini sudah membentuk sejumlah komunitas untuk menyelamatkan hutan mangrove Lantebung.

Kini, buah dari kerja kerasnya menanam mangrove secara bertahap bersama komunitas di sepanjang bibir pantai itu luasnya mencapai 60 hektare.

Dari area tersebut, sebagian sudah ada fasilitas tracking untuk menyusuri keindahan hutan mangrove di Lantebung.

Lambat tapi pasti, pengujung pun terus berdatangan menikmati ekowisata di sisi utara Kota Makassar itu. Hal tersebut tentu memberikan multiplier effect bagi masyarakat setempat.

“Sumber ekonomi baru bagi warga setempat, karena mereka diberi kesempatan untuk mengelolanya,” kata Saraba.

Namun, yang terpenting, ungkap lelaki paruh baya itu, kawasan mangrove Lantemung ini menjadi objek pembelajaran bagi generasi muda untuk menjaga lingkungan. Bukan sekedar datang berswafoto untuk kepentingan konten media sosialnya.

Ant