Beranda Views Kopi Pagi Afi Nihaya Faradisa dan Penghuni Media Sosial di Abad yang Sakit

Afi Nihaya Faradisa dan Penghuni Media Sosial di Abad yang Sakit

597
BERBAGI
Afi Nihaya Faradisa (Foto: Ist/Facebook)

Nama Afi Nihaya Faradisa tiba-tiba menjadi sangat terkenal karena akun Facebook miliknya ditangguhkan oleh Facebook. Penangguhan akun Facebook milik pelajar SMA Negeri 1 Gambiran Banyuwangi, Jawa Timur, 18 Mei 2017 itu diduga kuat karena ada banyak orang yang mengirim laporan ke Facebook terkait dengan status-status gadis cerdas itu yang jernih dalam menyikapi suatu isu.

SMA Negeri 1 Gambiran masih sangat muda, masih duduk di bangku SMA. Namun, pemikiran atau pendapat-pendapatnya di Facebook jauh lebih dewasa dibanding umumnya remaja seusianya.

Beberapa tulisan Afi Nihaya Faradisa sebelumnya memang sudah sering menjadi viral di media sosial. Artinya, Afi Nihaya Faradisa memang sudah dikenal sebagai pelajar yang cerdas dalam memahami dan mengelola isu. Lebih dari itu, tulisan yang disebarluaskan sebagai buah pemikirannya menunjukkan bahwa dia lebih dewasa dan bijaksana dibanding penghuni dunia maya sesuai dengan saya yang sudah berkepala 3, 4, 5, bahkan 6.

Contoh tulisan jernih Afi Nihaya Faradisa bisa disimak seperti berikut ini:

WARISAN

Oleh: Afi Nihaya Faradisa

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.

Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita.

Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.

Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar.

Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

Ternyata, teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya.

Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka, Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

Jalaluddin Rumi mengatakan, “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya.

Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja “iman”. Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan.

Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, “Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya”.

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.

Tapi tidak, kan?

Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan?

Tidak!

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.

Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar ’45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain.

Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.

Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.

Pemikiran yang diungkapkan dalam tulisan seperti itu tidak mungkin lahir dari remaja yang tidak suka membaca, tidak pernah meragukan sesuatu, tidak mampu berlogika dengan baik, dan tidak belajar bahasa Indonesia.

Cara berlogika Afi Nihaya Faradisa sangat baik. Ia paham hubungan sebab akibat. Afi Nihaya Faradisa pandai merangkai kalimat untuk mengungkapkan kegundahannya. Kegundahannya bukan sekadar karena hatinya berontak terhadap fenomena sekitarnya yang busuk, tetapi dilandasi logika berpikir.

Pengalaman saya beberapa tahun menjadi redaktur halaman opini sebuah koran, alangkah banyaknya ‘cerdik pandai’ (baca dosen) yang logikanya payah dan bahasanya buruk. Ironisnya, mereka ada yang bergelar doktor dan profesor. Meskipun sangat diagungkan di kampus. kalau logika dan bahasanya buruk, tulisan mereka tidak akan saya muat.

Saya juga sering bertemu dengan puluhan guru SMA dan SMK di forum pelatihan menulis. Aneh bin ajaib, sebagian besar di antara mereka tidak bisa mengungkapkan pemilirannya dengan baik dalam sebuah paragraf. Padahal, mereka rata-rata sarjana. Bahkan ada yang sudah lulus strata dua. Apa maknanya? Artinya, gelar panjang dan usia tua tidak menjamin  seseorang sudah pasti bagus dalam menulis atau mengungkapkan pemikiran dalam bentuk tulisan.

Dalam kasus Afi Nihaya Faradisa, ia tidak hanya dewasa dalam tulisannya. Pada titik tertentu, tulisan Afi Nihaya Faradisa bahkan lebih baik dibanding tulisan orang dewasa. Tulisan Afi menampar wajah kita. Ya, kita para orang tua atau orang-orang yang merasa dewasa tetapi bertingkah seperti anak kecil di media sosial. Kita yang barangkali makan karena gaji dari uang negara tetapi tidak suka negara ini maju karena kita tidak suka dengan rezim yang berkuasa.

Ini adalah abad sakit. Sudah sekian lama sakit. Makin sakit ketika media sosial yang tanpa jenis kelamin dan agama tiba-tiba merangsek hingga ruang-ruang paling privat milik kita.

Sakit parah itu pula yang menyebabkan status atau tulisan positif seorang pemilik akun yang berisi positif justru diberangus, sementara status-status yang menyebarkan kebencian dan menggelorakan membakar negara-bangsa tetap dibiarkan.

Oyos Saroso H.N.

Loading...