Beranda Views Sepak Pojok Agnez Mo dan Kita

Agnez Mo dan Kita

685
BERBAGI
Ilustrasi/Supriyanto

Oyos Saroso H.N.

Negeri Netizen sedang heboh membincangkan pernyataan Agnez Monica atau Agnez Mo soal darah keturunan. Perihalnya tidak sederhana: Agnez Mo dalam wawancara dalam BUILD Series dengan pembawa acara Kevan Kenney adalah tentang darah atau keturunan.

Kevan Kenney bertanya kepada Agnez tentang penampilan fisiknya yang berbeda dari orang Indonesia pada umumnya. Agnez Mo dalam potongan video itu kemudian berkisah soal DNA (daerah keturunan) pada dirinya.

“Saya tidak memiliki darah Indonesia sama sekali. Saya sebenarnya (berdarah) campuran Jerman, Jepang, dan China. Saya hanya lahir di Indonesia,” jawab Agnez.

Agnez lantas menjelaskan bahwa dia minoritas di Indonesia.

“Saya juga (beragama) Kristen, di mana mayoritas masyarakat Indonesia adalah Muslim. Jadi saya selalu merasa… saya tidak akan bilang saya merasa tidak berasal dari sana karena saya selalu merasa orang-orang menerima saya apa adanya, tapi selalu ada rasa ‘ehhh, saya tidak seperti orang lainnya’,” kata Agnez.

Potongan video itu yang kemudian viral di media sosial. Dan tentu, seperti biasa: mahabenar Netizen dengan segala penilaian dan ocehannya.

Kalau saat ini Anda misalnya menilai omongan Agnez Mo wajar dan bisa dimaklumi, maka Anda akan kena bully dari tukang sorak sebelah kanan yang seabrek jumlahnya.

Jika saat ini Anda menilai Agnez Mo tidak nasionalis, maka Anda akan mendapatkan tepuk sorak dari sebelah kanan. Anda sedikit saja berpendapat yang sedikit menguntungkan Agnez Mo dalam situasi seperti saat ini, maka Anda akan dicibir dan dicap anasionalis juga.

Baiklah. Biar aman, mari lupakan soal Agnez Mo. Toh Agnez Mo juga sudah mengklarifikasi ucapannya. Soal kebenarannya, biar dia dan Tuhan saja yang tahu.

Kita bicara saja tentang kita. Apa arti Indonesia bagi kita? Tempat kita dilahirkan dan tempat terakhir kita menutup mata, seperti lirik lagu wajib itu? Mungkin. Seperti apa kebanggaan kita terhadap Indonesia? Dengan cara apa kita mencintai Indonesia?

Kita melabeli seseorang nasionalis dan tidak nasionalis, tetapi seperti apakah diri kita sendiri? Sudah nasionaliskah kita? Apa itu nasionalis? Kita toleran terhadap korupsi itu apakah termasuk nasionalis? Kita sebagai pegawai yang digaji negara dengan uang rakyat tapi kerja kita malas-malasan itu apakah nasionalis? Kita bisa menjadi pejabat ini-itu dengan cara menyogok itu apakah kita nasionalis?

Menurut saya yang tidak pernah makan bangku sekolahan dan tidak nasionalis ini, yang mendaku dirinya nasionalis belum tentu aslinya nasionalis. Bisa jadi label nasionalis sekadar bahan jualan. Menjadi nasionalis itu berat, kawan. Mudah diucapkan tetapi sangat sulit dipraktrikkan.

Lebih baik bersikap biasa-biasa saja, seperti Mang Midin yang mata pencahariannya hanyalah tukang mengoret kebun kopi. Karena mencintai Indonesia, Mang Midin tidak mau ikut ingar-bingar politik berbau SARA.

Ia tetap memasang bendera Merah Putih tiap tanggal 17 Agustus meskipun rumahnya berada di sudut gang. Dada Mang Midin selalu sesak karena menahan tangis setiap mendengar lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Mang Midin juga tidak mau disogok dengan uang saat musim pilkada atau pemilu agar memilih calon tertentu.

Mang Midin tidak ingin seperti Bu Jarkoni, kades kampung sebelah yang selalu mengajarkan generasi muda meniru dirinya yang sukses bisa jadi kades di usia muda, tetapi tidak pernah bercerita bagaimana ia membagi-bagi amlop berisi uang, jilbab, dan sarung agar menang pilkades.

Bu Jarkoni juga mendaku nasionalis. Pak Suto Blawong yang korupsinya sak hohah (baca: maling uang negara gede banget) juga mengaku nasonalis dan sangat mencintai Indonesia.

Tentu fakta sebenarnya ada banyak warga negara Indonesia yang nasionalis. Mereka tidak selalu mendaku dirinya nasionalis. Bahkan mungkin mereka tidak tahu apa artinya nasionalis.