Beranda News Nasional Ahli ITB Ungkap Faktor Penyebab Tsunami Teluk Palu

Ahli ITB Ungkap Faktor Penyebab Tsunami Teluk Palu

1533
BERBAGI
Suasana pemukiman yang rusak akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu, 29 September 2018. ANTARA/BNPB
Suasana pemukiman yang rusak akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu, 29 September 2018. ANTARA/BNPB

TERASLAMPUNG.COM — Gempa Donggala yang bermagnitudo 7,4 SR pada Jumat petang, 28 September 2018, pukul 17:02:44 WIB diikuti oleh tsunami. Air laut setinggi tiga meter masuk ke teluk hingga sampai ke Kota Palu. Beberapa dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung mengulas penyebab tsunami itu.

Dari sudut pandang ilmu kebumian, yaitu ilmu geologi dan ilmu kelautan, kenaikan air laut ini bukan saja disebabkan oleh gempa.

“Tapi bisa diperkuat juga oleh bentuk (geometri) pantai Teluk Donggala atau dikenal sebagai fenomena tidal bulge atau tidal bore,” kata Ahli Teknik Sedimentologi dari Geologi ITB Dardji Noeradi, Sabtu, 29 September 2018.

Fenomena itu diartikan sebagai efek air pasang yang terjadi terutama pada delta yang bentuknya seperti corong. Di dunia, efek air pasang ini terekam di Teluk Benggala Bangladesh dan Teluk Fundy di Kanada. Di Bangladesh, yang terletak dekat Teluk Benggala, fenomena itu sering menyebabkan banjir sebagai akibat dari badai yang terjadi jauh dari pantai.

Kejadian itu karena bentuk Teluk Benggala yang menyempit ke arah utara membuat amplifikasi gelombang ke arah Bangladesh. Kejadian serupa terjadi di Kanada yang menimbulkan kenaikan air laut tertinggi dalam sejarah yaitu pada 1984.

Saat itu pasang surutnya bisa mencapai 15 meter dan bukan karena tsunami. Kondisi pasang surut biasa itu diperkuat (diamplifikasi) dengan geometri teluk.

“Gelombang air laut setelah mengenai tepi teluk memantul dan beresonansi dengan gelombang laut dari sisi teluk yang berhadapan,” katanya.

Kenaikan air laut yang semula kecil akibat tsunami, bisa saja diperkuat oleh bentuk morfologi pantai tempat gempa terjadi. Teluk Donggala memiliki orientasi utara-barat laut-selatan-tenggara. Lautan dari Selat Makassar menjorok sekitar 30 kilometer ke dalam bagian tengah Pulau Sulawesi sisi sebelah barat yang berujung di Kota Palu.

Teluk Donggala memiliki lebar kurang dari 10 kilometer. Kedalaman teluk ini berangsur dari pantai hingga maksimum 200 meter menurut pengukuran batimetri oleh Bappeda Kota Palu.

“Gempa tektonik yang memicu longsoran di bawah laut serta geometri Donggala adalah penjelasan mengapa tsunami bisa terjadi dengan amplitudo yang meningkat saat mencapai daratan,” kata Benyamin Sapiie, ahli Tektonik dari Geologi ITB.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bermagnitudo 7,7 terjadi di Donggala, Sulawesi Tengah, tepatnya di Garis Lintang 0.18 LS dan Garis Bujur 119.85 BT pada kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut. Gempa diumumkan dengan potensi tsunami.

Sementara itu, peneliti gempa dari Geoteknologi LIPI Bandung Mudrik Daryono mengatakan, tsunami di Teluk Palu bisa terjadi akibat beberapa faktor, seperti retakan permukaan yang bergerak vertikal. Bisa pula akibat bidang sesar yang miring serta longsoran bawah laut dengan kondisi palung laut di daerah itu curam dan dalam.

“Perlu penelitian lebih dalam soal sebab pastinya,” kata Mudrik.

Tempo.co

Loading...