Ahmad Jusmar, Guru Plus-Plus-Plus dari Sumberjaya

  • Bagikan
Ahmad Jusmar

Alexander GB/Teraslampung.com

Meskipun tugas sudah di SMAN 1 Sumber Jaya, mesti menempuh 5-6 jam perjalanan dari Bandarlampung, tak menyurutkan sosok ini untuk terlibat di hampir semua event dan pertunjukan Teater Satu. Sebuah grup teater paling mapan, dan paling produktif di Provinsi Lampung.

Ia terlibat dihampir semua produksi pementasan di Teater Satu, baik sebagai pemain, sutradara, piñata setting, piñata cahaya maupun menangani manajemen produksi, baik untuk pementasan di dalam maupun luar Lampung. Saat ini lebih banyak menangani urusan artistik dan tata cahaya untuk pertunjukan teater satu.

Meski selalu aktif di Teater Satu, tetapi ia tak melupakan tugasnya sebagai pengajar. Namun dengan mengatur waktu sedimikian rupa, ia tak perlu meninggalkan salah satunya. Faktanya segudang prestasi selalu ia sumbangkan, ia bahkan membawa SMAN Sumberjaya, Lampung Barat ke berbagai event nasional, baik melalui teater mau pun musikalisasi.

Bukan hanya piawai mengajar di kelas, sosoknya yang terbuka, sederhana dan cenderung pendiam ini memang menjadi panutan di luar sekolah.   Benar-benar mencoba menjadi guru, yang digugu dan ditiru. Sebelumnya ia pernah menjadi guru honorer di SMA Negeri 11 Bandarlampung selama 8 tahun dan berhasil menghantarkan SMA tersebut berprestasi di tingkat provinsi maupun Nasional diantaranya: menjadi Juara I Festival Musikalisasi Tingkat SLTA se Sumatera, Juara Harapan I Festival Musikalisasi Puisi Nasional di Jakarta. Dua kali berturut-turut menjadi Duta Seni Pelajar untuk pertunjukan teater di Serang dan Bandung.

Jusmar bersama anak didiknya.

Kerja keras, disiplin, dan totalitas di semua lini adalah kata yang layak disematkan pada Ahmad Djusmar, yang lahir di Teluk Betung, 13 Maret 1974. Ia ernah belajar selama 4 semester di Fisip Unila. Namun, pendidikan terakhirnya ia tamatkan  di Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1999. Jusmar sudah aktif berteater tahun 90-an sejak masih di bangku SMA .

Segudang prestasi yang telah dipersembahkannya itu menempatkan sosok yang murah senyum dan ramah ini begitu istimewa. Selain mengajar di Taeter Satu dan Pengajar di SMAN 1 Sumberjaya Lampung Barat, dia juga adalah Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Lampung.

Sekarang tercatat sebagai Guru Seni Budaya di SMA Negeri 1 Sumberjaya Lampung Barat. Dan di sekolah tersebut membentuk wadah sanggar seni bagi siswa-siswinya yang ingin mengekpresikan diri di bidang seni, Teater Cupido yang dibinanya secara rutin memproduksi pementasan, bahkan selain teater dan musikalisasi puisi, Teater Cupido juga memfasilitasi anggotanya yang interes di bidang tari dan film.

Beberapa prestasi yang diperoleh bersama sekolah tersebut adalah. Juara  II Liga Teater SLTA se Provinsi Lampung sekaligus meraih (Aktor Tearbaik, Aktris Terbaik, Ilustrasi Musik Terbaik dan Artistik Terbaik), Juara III Film Pendek Pelajar, JUARA I Musikalisasi Puisi Tingkat SLTA se-Provinsi Lampung, Juara III Festival Musikalisasi Puisi Tingkal SLTA se Sumatera di Padang, Juara  II Student On The Stage Festival Teater Pelajar se Provinsi Lampung sekaligus meraih (Rias dan Kostum Terbaik, Tema Lagu Teater Terbaik, Poster Terbaik), Peraih 3 Penghargaan (Aktor Terbaik, Aktris Terbaik, Naskah Terbaik II ) Festival Nasional Teater Remaja, Bandung, 4 kali berturut-turut sebagai Juara I Teater Festival Lomba Seni Siswa Nasional Tingkat Kabupaten dan Provinsi Lampung, Juara  II Nasional FLS2N Semarang tahun 2014.

Pak Guru Jusmar bersama dua buah hati tercinta.

Saat ini ia menjabat sebagai Kepala Bidang Kesekretariatan untuk Program Kala Sumatera kerjasama Teater Satu dengan Hivos Belanda, Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Lampung.

Beberapa pengalaman berkeseniannya, antara lain menyutradarai lakon “Umang-Umang” karya Arifin C Noer, “Waitting for Godot” karya,Samuel Backet, “Nak” karya Iswadi Pratama, “Penagih Hutang” karya Anton Chekov, “Bila Malam Bertambah Malam” karya Putu Wijaya dll.

Menangani Artistik dan Tata Cahaya untuk pertunjukan “Nyai Ontosoroh” karya Faidza Marzuki sutradara Imas Sobariah, “Nostalgia Sebuah Kota” karya/sutradara Iswadi Pratama, monolog Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El Saadawi Sutradara Iswadi Pratama, monolog “Wanci” karya Imas Sobariah Sutradara Iswadi Pratama, “Kisah-Kisah yang Mengingatkan” karya/sutradara Iswadi Pratama, “Visa” karya Goenawan Mohammad sutradara Iswadi Pratama, “Buried Child” karya Sam Shepard sutradara Iswadi Pratama, “Death and the Maiden” karya Ariel Dorfman sutradara Iswadi Pratama, dll

sumber: wartaseni.com

  • Bagikan