Ahmad Yulden Erwin, Sastrawan Cerdas dan Berdedikasi Tinggi

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Anshori Djausal
Ketua Akademi Lampung

Tanggal 13 Februari 2022, kabar berpulangnya Ahmad Yulden Erwin, seorang satrawan Lampung yang juga seorang teman baik, kembali membuat banyak kalangan berduka . Walaupun saya terpaut umur yang cukup jauh, Erwin biasa saya menyebutnya adalah seorang teman yang saya suka dan percaya.

Masih terbayang awal jumpa dengan Ahmad Yulden Erwin 30-an tahun yang lalu. Saya memanggilnya Erwin. Banyak sahabat dan koleganya menyebutnya AYE . Ketika mahasiswa ia berambut gondrong dan berwajah ramah. Selalu pakai jaket. Kedatangannya selalu langsung berhasil mengalihkan perhatian orang yang didatangi kepadanya. Sebagai anak muda umur 20-an saat itu sebenarnya seorang pemuda yang cukup ‘cute’ dengan perawakannya yang biasa saja.

Saya mengenalnya bersama dengan mahasiswa lainnya di Unit Kegiatan Bidang Seni Unila karena mendapat tugas dari Pembantu Rektor 3 waktu itu alm Kyai Rizani Puspawijaya pada awal 1990-an. Sejak kenal saya langsung suka dengan Erwin. Bicaranya menarik. Dalam pembicaraan awal terlihat dia sebagai mahasiswa yang cerdas dan pembaca buku yang lebih banyak dari mahasiswa umumnya. Saya tahu itu setelah beberapa kali berbincang. Saya langsung suka dengan Erwin.

Dalam berbagai obrolan dengannya selain cerdas, juga buku bacaannya bermacam-macam. Pernah kami membahas tentang Chaos Theory, malahan pendekatan fisika quantum dalam melihat persoalan masalah sosial politik. Topik pendekatan quantum ini menjadi bahan yang berguna sekali memahami situasi pra reformasi yang tidak menentu. Memahami bagaimana sebuah kekacauan yang akan membentuk sebuah keteraturan yang baru.

Saya lupa judul bukunya, juga lupa apakah Erwin atau Khaidir Asmuni yang memberi saya buku itu. Khaidir Asmuni yang juga saat pra reformasi adalah teman diskusi tentang perubahan yang sedang dihadapi saat itu. Terutama ketika kami sedang menyusun buku Komunitas Gelembung Sabun (1999). Saya yakin, saya dengan Erwin kemudian mempunyai persepsi yang sama menghadapi reformasi yang gegap gempita saat itu. Kami mungkin juga sama bersikap menghadapi harapan cahaya diujung lorong panjang masa orde baru yang harus ditinggalkan.

Dalam berbagai diskusi dan obrolan ke sana-ke sini ternyata kami tidak pernah berdebat. Apalagi memperdebatkan isi sebuah buku. Kami saling mendengarkan pikiran masing-masing. Selain itu saya mengerti juga kenapa kami tidak berdebat dari salah satu ucapannya yang saya ingat ‘ bang ans ini banyak bacaannya tapi jarang ngomong ‘..Sejak itu saya merasa Erwin adalah seorang ‘teman’, banyak hal yang dapat kami perbincangkan walaupun beda umur kami 20an tahun. Ada juga beberapa topik yang saya lewati saja, sambil saya berucap “Itu sudah saya baca 20 tahun yang lalu. Waktu abang seumur kamu, Win. Silakan lewati masa itu. Banyak minat bacaan kami yang serupa semisal ‘Mukaddimah Ibnu Khaldun sampai theory kekacauan.”

Dari awal kenal saya tahu Erwin seorang penyair, pegiat teater sejak masih di sekolah menengah. Puisinya sangat pantas dinikmati apalagi dia sendiri yang membacakan. Dengan caranya sendiri Erwin dengan almarhum Ivan Bonang membuat saya juga ikut membuat beberapa puisi. Selain suka saya percaya kepada Erwin. Ketika dia bilang puisi saya boleh ikut dalam sebuah antologi , saya percaya aja. Toh, saya merasa Erwin seorang teman yang saya percaya, saya senang saja.

Selama ikut UKBMS Unila , Erwin bersama teman teman yang lain seperti Iswadi Pratama, Een, Chepy, Gino Vanoli dan banyak lagi menjadi kumpulan mahasiswa yang saya kangeni untuk bertemu setelah selesai jam kantor hampir setiap hari di awal tahun 1990-an. Kumpulan ini yang menghasilkan banyak ide dan gagasan yang muncul tidak semata kegiatan seni saja. Erwin selalu memberi warna pertemuan yang bernas. Bukan hanya gagasan, tetapi bergerak menjadi seseorang. Ketika Lampung Post menyusun buku 100 tokoh Lampung (2008), ada lima nama berasal dari kumpulan itu yang masuk di dalam buku itu. Tentu saja ada Ahmad Yulden Erwin. Erwin bukan lagi penyair mahasiswa. Kiprahnya nasional dan juga mancanegara.

Ketika saya mendapat tugas sebagai Direktur Eksekutif Forum Rektor (1999) harus melakukan persiapan pemantau pemilu pertama dan kajian-kajian lainnya. Selain saya ditemani kolega saya dari kampus Unila , Syarif Makhya, Nanang Trenggono, alm Armen Yasir dan banyak lagi. Maka Erwin dan teman-teman adalah yang paling membuat saya percaya bahwa kami bisa melakukannya. Karena saya percaya. Tugas itu dapat diselesaikan dengan rasa bangga karena ikut dalam persiapan perubahan kehidupan bangsa Indonesia.

Setelah itu saya dengar justru Erwin mempunyai kegiatan yang brilian sekali dengan membentuk Komite Anti Korupsi (KoAK). Saya sendiri kemudian tidak banyak jumpa dalam pekerjaan karena kesibukan di birokrasi kampus. Tetapi Erwin sering saya temui untuk beberapa hal yang justru saya ingin tahu bukan dari orang lain. Pendapat Erwin selalu saya cermati.

Dalam kegiatannya sebagai aktivis di tengah hiruk pikuk sosial politik, saya sering mendengar Erwin disebut ‘keras’. Saya mengerti kenapa mesti begitu. Idealisme yang dia miliki membuatnya harus begitu. Tapi saya tetap mengingatnya sebagai teman yang sangat humanis. Sayapun tetap percaya ketika Erwin saya minta membantu saya ketika saya ikut pilkada (2013). Erwin mengatakan ‘ abang akan kalah’. Saya percaya dan senang saja karena Erwin yang menyampaikan dengan segala logikanya.

Kabar yang membuat sedih ketika Erwin dikabarkan sakit beberapa tahun yang lalu. Saya hanya bisa jumpa sesekali saja, selebihnya saya mengikuti dari laman Facebook milknya ang sangat aktif. Bukan saja puisinya sendiri dari juga menyajikan 100 penyair lain. Dedikasi Erwin sebagai sastrawan yang luar biasa.

Dua tahun terakhir kami bersama lagi di Akademi Lampung. Kegiatan yang sebenarnya saya sudah ingin saya hindari karena merasa waktunya pensiun. Saya merasa sukar menolak ketika Erwin dalam keadaan sakit dengan sengaja meminta saya agar bersedia. Erwin yang saya suka dan percaya.
Terakhir jumpa pada desember 2021 di pameran lukisan Kolcai dan peluncuran buku lukisan saya. Sebelumnya dia memang mengirim pesan akan hadir. Saat bertemu, ia katakan,”Saya berbahagia karena bang ans menerbitkan buku ini….”

Saya tidak bisa menahan air mata karena ucapannya.

Erwin, selamat jalan temanku. Dedikasimu abadi. Al Fatehah…

 

You cannot copy content of this page