Beranda Views Jejak Aisyah Yaqub , Sang Penyelamat Tapis Lampung

Aisyah Yaqub , Sang Penyelamat Tapis Lampung

890
BERBAGI
Aisyah Yaqub

Oyos Saroso H.N.

“Jangan bilang sudah datang ke Lampung kalau tidak membawa oleh-oleh kain tapis.” Begitulah orang luar Lampung sering berujar tentang Lampung.

Selain terkenal dengan sekolah gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas dan jajanan keripik pisang, Lampung memang terkenal dengan kain tapisnya. Kalau sekolah gajah dan keripik pisang baru ada pada zaman Orde Baru, sedangkan kain tapis Lampung sudah ada sekitar seribuan tahun lalu.

BACA: Kain Tapis Kuno, Warisan Nenek Moyang Orang Lampung yang Makin Langka

Kain tapis adalah salah satu ragam hias warisan lelulur masyarakat Lampung yang berusia lebih dari seribuan tahun. Pada zaman dulu kain yang terbuat dari kain tenun yang disulam dengan benang emas, perak atau sutra itu merupakan simbol status seseorang. Pada zaman Hindu dan awal perkembangan Islam di Lampung, hanya orang Lampung yang berasal dari kalangan bangsawan saja yang boleh mengenakan kain tapis bersulam emas atau sutra itu. Biasanya kain tersebut dipakai pada saat begawi (pesta adat), seperti pesta perkawinan dan pesta pemberian gelar adat.

Memasuki zaman modern, kain tapis mulai digunakan sebagai hadiah atau cenderamata, sebagai ungkapan rasa hormat kepala marga (adat kebangsawanan) Lampung kepada para tamu, terutama tamu-tamu dari luar Lampung. Dalam dua puluhan tahun terakhir, kain tapis pun berkembang menjadi ikon Lampung. Kain tapis tidak lagi menjadi benda sakral yang hanya dipakai oleh kalangan bangsawan, tetapi juga bisa dipakai oleh orang kebanyakan untuk pesta adat perkawinan serta diproduksi dan diperjualbelikan secara bebas di pasar.

Pemasyarakatan kain tapis Lampung sehingga menjadi ikon warisan kebanggaan masyarakat Lampung tidak lepas dari peran Hj. Aisyah Yaqub, 73, penyelamat kain tapis sekaligus pengusaha kain tapis Lampung.

Aisyah adalah salah seorang penyelamat tapis Lampung dari kepunahan. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, kain tapis Lampung bukan saja bisa diselamatkan, tetapi jutsru makin berkembang dan populer di tengah-tengah meruyaknya aneka ikon budaya modern.

Aisyah Yaqub mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi pengrajin dan pebisnis kain tapis. Dia mengaku hanya seorang perempuan desa dari suku Lampung yang kebetulan dipersunting oleh Muhammad Yaqub. Pada tahun 1980-an Yakub terpilih menjadi lurah di Kelurahan Natar, Lampung Selatan. Dari ibu mertuanyalah Aisyah belajar menyulam kain tapis. Itu terjadi tahun 1970-an, ketika orang Lampung sangat sulit menemukan kain tapis untuk acara-acara pesta adat dan tapis Lampung di ambang kepunahan.

BACA: Jejak Sejarah Kain Tapis Lampung

“Saya pertama kali mau belajar menyulam kain tapis karena saya penasaran saat kesulitan mendapatkan kain tapis untuk acara adat. Ternyata, kesulitan itu bukan saya saja yang mengalami, tapi semua orang Lampung. Dari mertua saya, barulah saya tahu bahwa kain tapis sudah nyaris punah karena tidak ada lagi yang membuatnya lagi,” kata Aisyah.

Kisah Kotak Warisan 

Berawal kesedihan menghadapi kenyataan ancaman kepunahan kain tapis Lampung, pada tahun 1981 mulailah Aisyah belajar menyulam dari ibu mertuanya. Mulai belajar menyulam, Aisyah tidak langsung diberi pengetahuan teori oleh sang ibu mertua. Ibu mertuanya justru menyodori sebuah peti warisan leluhurnya.

Dengan rasa penasaran, dibukanya peti kayu berukuran 30 x 60 cm itu. Ternyata isinya adalah selembar kain tapis yang belum selesai disulam. Konon, sudah puluhan tahun kain tapis yang belum selesai disulam itu berada di dalam peti, tanpa disentuh siapa pun.

“Mungkin itulah pertanda bahwa sayalah yang diserahi tugas melanjutkan tradisi menyulam kain tapis oleh keluarga suami saya,” kata nenek beberapa cucu yang masih tampak bugar itu.

Dari selembar kain tapis warisan leluhur keluarga mertuanya itulah Aisyah mulai belajar menyulam dengan tekun. Setelah pintar menyulam, kepandaiannya itu kemudian ditularkan kepada para gadis dan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya.

“Satu pesan yang saya ingat dari ibu mertua adalah, bahwa menyulam kain tapis itu mudah tetapi payah. Mudah, karena bisa dipelajari. Payah, karena penyulam harus tekun sampai berhari-hari hanya untuk menyelesaikan menyulam selembar kain tapis,” ujarnya.

Menurut Aisyah, pada zaman dulu, halus-kasarnya hasil sulaman menunjukkan halus-tidaknya budi seorang gadis yang menyulam kain tapis. Itulah sebabnya, kata Aisyah, agar dinilai berbudi halus, seorang gadis Lampung yang menyulam kain tapis akan sangat berhati-hati agar menarik perhatian para jejaka.

Setelah pandai menyulam dan tahu jalur pengadaan bahan-bahan sulaman, perempuan asli suku Lampung Pubian—suku asli Lampung Tengah—itu pun mulai mengembangkan usahanya. Selain kain tapis yang belum selesai disulam, modal lainnya yang dimiliki Aisyah adalah Rp 200 pemberian mertuanya. Uang sebanyak itu—pada tahun 1981 masih cukup berharga—dibelikan dua stel kain tenun (dasar kain yang akan disulam), jarum, dan benang emas.

Sukses memasarkan dua lembar kain tapis, Aisyah kemudian mulai mengumpulkan para gadis dan ibu rumah tangga yang sudah terampil menyulam untuk menyulam kain tapis dengan target untuk dipasarkan. Memang, usaha kerajinan itu dikerjakan secara manual dengan tangan. Namun, bagi para gadis dan ibu-ibu rumah tangga di Natar, penghasilan dari menyulam tapis cukup lumayan.

“Bagi para gadis, cukuplah untuk tambahan uang jajan atau biaya sekolah. Sementara bagi ibu-ibu rumah tangga bisa untuk menambahi kebutuhan dapur,” ujar Ny. Gusti, tetangga Aisyah yang sudah menyulam bersama Aisyah sejak 24 tahun lalu.

Awalnya Aisyah hanya membina 25 gadis dan ibu-ibu rumah tangga untuk menyulam tapis. Para pengrajin tapis binaannya hanya memproduksi kain tapis untuk keperluan kelengkapan pakaian adat Lampung. Namun, setelah melihat peluang pasar yang cukup menjanjikan, Aisyah pun mengembangkan pelbagai ragam tapis sebagai motif aksesoris untuk hiasan dinding bermotif kaligrafi huruf Arab, tas wanita, dompet, peci khas Lampung, jas, baju kurung, kemeja, sandal, sepatu, hingga gantungan kunci.

“Saya ikut dengan Ibu Aisyah sejak 1981. Sampai sekarang saya masih menyulam kain tapis dan bekerja sama dengan Ibu Aisyah. Dulu sewaktu masih gadis dalam sebulan saya bisa menyelesaikan empat tapis. Sekarang setelah berumah tangga, paling banyak dua lembar tapis,” ujar Ny. Gusti.

Menurut Ny. Gusti, dia tidak memandang Aisyah sebagai majikan, tetapi lebih sebagai kolega. Kerja sama keduanya adalah kerja sama yang saling menguntungkan. “Modal kain tenun dan benangnya biasanya dari Ibu Aisyah. Saya hanya ditugasi menyulam. Satu Upah menyulam kain tapis antara Rp 50—Rp 100 ribu/lembar,” ujarnya.

Hasil kreativitas Aisyah ternyata mendapatkan sambutan positif dari pasar. Seiring dengan makin populernya kain tapis, bisnis galeri tapis pun makin marak di Bandarlampung. Galeri-galeri tapis itu dipasok dari usaha yang dikembangkan oleh Aisyah.

Setelah usahanya berkembang, para pengrajin tapis itu dikumpulkan oleh Aisyah untuk membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB). Sejak KUB terbentuk dan hasilnya mulai dipasarkan, Pemda Lampung Selatan pada era Bupati Abdul Hadi dan Pemda Lampung (ketika itu gubenurnya dijawab Poedjono Pranyoto) mulai memberikan perhatian kepada usaha Aisyah. Melaui Dinas Perindustrian Lampung, Aisyah diberi bantuan berupa sebuah mesin jahit, dua pak kain tenun (berisi 75 lembar kain tenun), dan segulung benang emas.

Ketika Menteri Penerangan Harmoko pada tahun 1990-an berkunjung ke Lampung, Aisyah memanfaatkan momen itu untuk meminta bantuan. “Saya bukan minta bantuan modal, tetapi bantuan pemasaran. Saat itu saya punya cita-cita untuk memasarkan tapis ke luar Lampung. Alhamdulillah, berkat dukungan pemerintah pusat dan daerah peluang pasar itu jadi makin terbuka. Kain tapis Lampung tidak hanya makin populer di Lampung saja, tetapi juga mulai diminati orang-orang luar daerah dan luar negeri,” kata Aisyah.

Pada awal 1990-an pengrajin binaan Aisyah hampir mencapai ratusan orang. Aisyah pun makin rajin membuka stan pada aneka pameran di berbagai kota di Indonesia. Bahkan, dia pernah diundang khusus oleh Departemen Perindustriun untuk berpameran tunggal di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Namun, bersamaan dengan mulai sibuknya pengrajin binaannya—sebagian sibuk menjadi ibu rumah tangga dan keluar daerah—jumlah pengrajin binaan Aisyah pun menyusut. Kini tinggal belasan pengrajin yang masih setia bekerja sama dengan Aisyah untuk menyulam kain tapis.

Di usianya yang sudah merambat tua, Aisyah Yaqub masih tekun mengembangkan usahanya sekaligus mempopulerkan kain tapis. Bukan saja di wilayah Lampung dan Indonesia, tetapi juga ke mancanegara. Karena kegigihannya, kain tapis Lampung sudah menyebar ke Rumania, Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Cina, Singapura, Inggris, dan Jerman.

“Para pembeli di luar negeri tertarik memiliki kain tapis karena motifnya tenunannya sangat unik dan menawan,” kata pengrajin tapis yang pernah mendapatkan penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto pada tahun 1993 ini.

Selamat dari Badai Krisis Moneter

Ketika kain tapis sudah populer dan mendatangkan banyak uang, kini Aisyah memang tidak perlu keliling daerah. Dibantu cucu dan menantunya, Aisyah kini mengelola Sanggar Ragom Mufakat di Kelurahan Natar, Lampung Selatan—sekitar 10 km sebelah utara Bandarlampung. Sanggar sekaligus galeri tempat Aisyah memajang aneka kain tapis itu cukup gampang dijangkau pembeli karena berada persis di pinggir jalur trans Sumatera yang menghubungan provinsi Lampung dengan kota-kota lain di Pulau Sumatera.

Di galeri berukuran 10 x 20 meter yang berhalaman luas itu, selain memajang kain tapis buatan para pengrajin binaannya, Aisyah juga menyimpan sejumlah kain tapis kuno warisan leluhurnya. Aisyah mengaku pernah memiliki Kain Tapis Timbay (kain tapis kuno) yang berusia lebih dari 200 tahun.

“Pada tahun 1990-an tapis itu saya jual kepada kolektor seharga Rp 5 juta. Tapi saya sangat menyesal dan sedih ketika mendengar kabar bahwa kain tapis saya itu laku di luar negeri sampai puluhan juta rupiah,” katanya.

Menurut Aisyah, peredaran kain tapisnya hingga ke luar negeri juga tidak disengaja. Mulanya, kata Aisyah, pada tahun 1994 ada seorang warga Belanda yang datang ke sanggarnya untuk melihat-lihat hasil kerajinannya. Karena tertarik, warga Belanda itu kemudian memesan beberapa lembar kain tapis untuk dijual lagi di Belanda.

“Saya lupa nama orangnya dan berapa nilai transaksi ketika itu. Yang jelas harga kain tapis pada waktu itu masih sangat murah, dalam kisaran puluan ribu per lembarnya. Sekarang harga tapis per lembar minimal Rp 500 ribu,” ujarnya.

Setelah order pertama, lama kelamaan order pun bertambah. Meskipun tidak dalam jumlah besar, order itu cukup bisa menghidupi keluarganya. Berkat usaha tapisnya Aisyah berhasil menyekolahkan semua anaknya di perguruan tinggi favorit di Yogyakarta.

Meskipun bergelut di bidang bisnis, dalam mengembangkan kerajinan tapis Aisyah tidak mau berhubungan dengan bank. Menurut Aisyah ia bukannya anti-bank, tetapi memang tidak terbiasa memiliki tanggungan hutang. Namun, justru hal itulah yang menyelamatkan usaha kerajinannya dari kebangkrutan karena badai krisis moneter pada tahun 1997 lalu.

Ketika para pengrajin kain tapis lainnya bangkrut karena tidak bisa mengembalikan pinjaman uang di bank, usaha Aisyah justru berkembang dan selamat hingga sekarang.

“Memang beberapa kali ada orang yang menawari pinjaman untuk menambah modal usaha. Tetapi saya tidak mau. Saya berusaha dengan kekuatan sendiri saja, biar usaha lebih tenang,” ujarnya.

Menurut Aisyah, meskipun sudah banyak orang yang membuka usaha kerajinan tapis, para pengrajin masih mempertahankan motif tapis asli warisan leluhur. Motif tapis biasanya gambar simbolis terdiri atas unsur-unsur flora, fauna, alam raya, benda-benda, dan motif bercorak manusia. Simbol-simbol tersebut dimaknai sebagai kehidupan timbal balik antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan Tuhan Sang Pencipta alam raya.

Motif tapis yang sangat terkenal adalah motif jung (perahu tradisional Lampung), yang melambangkan aspek kemaritiman Indonesia yang kaya akan sumberdaya alamnya.

“Para pengrajin tidak serta merta membunuh karakteristik yang telah dituangkan dari ide kreatif para leluhur. Meski telah terjadi perubahan dalam motif kain tapis karena pengaruh modernisasi, kami tetap mempertahankan ruhnya,” kata dia.

Loading...