Beranda News Lingkungan AJI Bandarlampung – Bestari Gelar Talkshow tentang Kopi, Hutan, dan Perubahan Iklim

AJI Bandarlampung – Bestari Gelar Talkshow tentang Kopi, Hutan, dan Perubahan Iklim

213
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM — AJI Bandarlampung bersama Pelestarian Habitat Prioritas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) atau Bestari menggelar talkshow bertajuk “Hutan,Iklim, dan Kopi” di Hotel Whiz Prime Bandarlampung, Minggu, 15 Desember 2019.

Kegiatan yang diikuti puluhan jurnalis itu menghadirkan beberapa narasumber: Siti Muksidah, Kepala Bidang Pengelolaan TNBBS  Wilayah 1 Semaka; Okmal, Kepala Bappeda Lampung Barat; Agustanto Basmar,  Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Lampung Barat; Sutarno, praktisi dan Manajer Program Bestari, dan Syamsu Dwi Jadmiko dari CCROM SEAP IPB. Talkshow dipandu Oyos Saroso HN, Pemred Teraslampung.com.

David Purmiasa, Koordinator Program Bestari menuturkan kegiatan ini merupakan bagian dari Program Bestari. Tujuannya, kata dia, melestarikan habitat prioritas di TNBBS: gajah, harimau, badak. Program BESTARI merupakan kerjasama antara Wildlife Conservation Society (WCS), WWF Indonesia, Yayasan Badak Indonesia (YABI), dan Balai Besar TNBBS.

“Pelestarian alam selalu bersinggungan bahkan berbenturan dengan kepentingan ekonomi. Kebutuhan ekonomi menuntut untuk terus dipenuhi dan di sisi lain, pelestarian alam juga tidak boleh dikesampingkan,” kata David.

David mengatakan, di Lampung terdapat hutan lindung tata air dan hidrologi, hutan produksi yang boleh dikelola utk kepentingan keberlanjutan.

“Namun tidak jarang di area yang ditentukan ditemukan fungsi yang berbeda dan menemukan tantangan, seperti taman nasional dan hutan lindung yang digunakan untuk kepentingan mata pencaharian,” kata dia.

Menurutnya, hal ini disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, kurang pahamnya masyarakat tentang fungsi dan pentingnya kelestarian hutan. Kedua,  belum optimalnya upaya pengelolaan dan pelestarian hutan. Penegakan hukum harus diperkuat agar menjadi pembelajaran yang baik akan pentingnya hidup proporsional.

Banyaknya persoalan terkait isu lingkungan di Lampung, David berharap ke depan para jurnalis memberikan perhatian lebih terhadap isu-isu lingkungan.

“Diharapkan liputan para jusnalis bisa mendukung dalam pengambilan kebijakan bagi pemerintah dan menumbuhkan kepedulian bagi para pembaca,” katanya.

Pada talkshow tersebut terungkap tingginya angka degradasi lahan di TNBBS sejak sepuluh tahun terakhir akibat perambahan liar.

“Perambahan liar terutama disebabkan pembukaan perkebunan kopi. Hal itu harus segera bisa diatasi agar kelestarian TNBBS yang sudah ditetapkan Unesco sebagai warisan dunia bisa tetap terjaga,” kata Siti Muksidah.

Menurut Muksidah, banyaknya perambah yang masuk kawasan TNBBS menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pihak terkait.

“”Perambah yang masuk kawasan Taman Nasional tidak dapat ditangani sendiri oleh pihak Balai TNBBS,” katanya.

Okmal, Kepala Bappeda Lampung Barat, mengatakan kondisi geografis Lampung Barat yang dikelilingi taman nasanal dan hutan lindung selalu problematis.

Di satu sisi, rakyat hidup di dekat hutan, tetapi mereka tidak bisa memanfaatkan hutan.

Lebih dari 50 persen wilayah Lampung Barat adalah Kawasan Taman Nasional dan Hutan Lindung, dan 46 persennya yang bisa dikelola oleh pemerintah setempat. Sementara sekitar 42 pekon atau desa yang ada di Lampung Barat berbatasan dan berdampingan langsung dengan hutan kawasan,” katanya.

Kondisi itu, kata Okmal, aksi perambahan tidak bisa dihindari.

“Tapi harus dicatat, yang masuk ke TNBBS untuk menanam kopi bukan hanya warga Lampung Barat. Mereka justru berasal dari daerah lain, bahkan ada yang dari luar Lampung,” kata dia.

Syamsu Dwi Jadmiko dari CCROM SEAP IPB memaparkan pentingnya antisipasi dan mitigasi perubahan iklim agar tidak merugikan masyarakat luas.

Syamsu mengingatkan bahwa perubahan iklim tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi berlangsung dalam kurun panjang. Meski begitu, dampaknya akan terasa dan berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat.

“Di Liwa, misalnya, pada tahun 1990-an dinginnya sangat terasa. Tapi sekarang masyarakat sudah merasa kepanasan sehingga perlu menyalan kipas angin atau AC. Tanaman kopi yang dulu layak ditanam di ketinggian tertentu, misalnya, kini sudah tidak cocok lagi dan perlu tempat yang lebih tinggi untuk menamalnya. Akhirnya, masyarakat terpaksa mencari lahan yang lebih tinggi,” kata Syamsu.

Bahayanya, kata Syamsu, jika masyarakat kemudian beramai-ramai masuk ke taman nasional atau hutan lindung untuk membuka lahan kopi karena merasa bisa mendapatkan hasil yang baik.

Loading...
BERBAGI
Artikel sebelumyaTP PKK Kabupaten Lampung Selatan Sabet Juara 3 Lomba Masak Serba Ikan Tingkat Nasional
Artikel berikutnyaBahas Persiapan Pilkada 2020, PKS Lampung Gelar Rakorwil
Portal Berita Lampung: Terkini, Independen, Terpercaya