Beranda News Pers AJI Bandarlampung, Tentang “Kecil Itu Indah” dan Kesukarelawanan Menjaga Pers yang Sehat...

AJI Bandarlampung, Tentang “Kecil Itu Indah” dan Kesukarelawanan Menjaga Pers yang Sehat (2)

55
BERBAGI
Padli dan Wandi Barboy, Ketua dan Sekretaris AJI Bandarlampung 2016-2019

TERASLAMPUNG.COM — Sejak awal berdiri, AJI Bandarlampung tidak mengenal pola pemilihan ketua dengan permainan uang. Semua anggota berhak menjadi ketua sepanjang siap dicalonkan, mau mengabdi, dan didukung oleh peserta konferensi AJI Kota. Pemilihan ketua dan sekretaris digelar dengan riang gembira. Tidak ada rumus jegal-menjegal di antara calon ketua. Calon yang kalah dalam pemilihan biasanya akan dengan sukarela membantu ketua dan pengurus baru.

Di AJI Bandarlampung juga belum pernah terjadi ketua menjabat  selama dua periode. Sejak berdiri, para pendiri memang sudah meniatkan agar regenerasi berlangsung baik sehingga ketua hanya menjabat satu periode. Agar ketua dan pengurus baru kuat, ketua dan sekretaris lama akan bertugas sebagai mentor. Para pendiri hanya bertugas di belakang memberi dorongan dan dukungan. Hal ini berbeda dengan beberapa AJI Kota di daerah lain yang para pendiri atau senior AJI Kota terus ‘nongkrongin’ kantor AJI Kota sehingga AJI justru tidak berkembang.

Meski berada di belakang, para pendiri dan para mantan Ketua AJI Bandarlampung  akan tampil jika ada ‘serangan’ dari luar. Itulah sebabnya, meskipun ketua dan para pengurus AJI Bandarlampung umumnya para jurnalis muda, mereka tidak mudah dan tidak bisa didikte atau ‘dinego’ dalam penyelesaian kasus terkait pers. AJI Bandarlampung memiliki sistem berlapis yang tidak memungkinkan ketua untuk bermain sendiri.

Cara berorganisasi seperti itu membuat AJI Bandarlampung kerap dipandang aneh. Ada pula yang menyebut para anggota AJI sok idealis dan sok suci. Mereka sudah kebal dengan tudingan semacam itu. Mereka meyakini bahwa di tengah-tengah rusaknya dunia pers akibat aksi premanisme para wartawan tanpa media dan para wartawan bodreks yang merangkap sebagai ‘aktivis LSM’, AJI harus tetap eksis dan progresif di daerah. Meskipun jumlah anggotanya sedikit, AJI Kota Bandarlampung harus mewarnai perkembangan dunia pers di Lampung.


Apa Untungnya Ber-AJI?

Pertanyaan serupa itu biasanya dilontarkan ketika calon anggota baru AJI Bandarlampung ikut tes wawancara. Pertanyaan itu sangat penting. Alasan logis dan jujur juga penting untuk menilai apakah calon anggota bakal ‘ngeblenyon’ sehingga layak diterima atau tidak sebagai anggota.

AJI bukankah NGO atau LSM yang kekuatannya mengandalkan dana. Menjadi anggota AJI harus siap tidak menerima uang amplop, siap tidak mendapat jatah setoran dari pejabat/narasumber, dan siap menegakkan kode etik jurnalistik. Siap menegakkan kode etik jurnalitik terdengar sederhana dan mudah diucapkan. Namun, faktanya hal itulah yang susah dilakukan seorang jurnalis.

Secara finasiaal, menjadi anggota dan pengurus AJI jelas tidak menguntungkan. Namun, berdasarkan pengalaman, AJI merupakan tempat yang baik untuk belajar berorganisasi, mengembangkan sikap objektif-independen-kritis, dan meningkatkan kapaitas profesional. Menjadi anggota AJI berarti siap ‘membranding’ diri menjadi jurnalis profesional dan tahan godaan uang.

Oyos Saroso H.N.