Beranda Hukum AJI: Bisnis Internet Sudah Seperti Rimba Tanpa Penguasa

AJI: Bisnis Internet Sudah Seperti Rimba Tanpa Penguasa

141
BERBAGI

JAKARTA, teraslampung.com–Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menilai bisnis online di  Indonesia kini sudah seperti rimba tanpa penguasa. Penyebab utamanya, menurut AJI, adalah kekosongan aturan. Padahal, raksasa bisnis online asing sudah mulai merangsek ke Indonesia dan menggaet jutaan pemakai.

Ketua AJI Indonesia, Eko Maryadi,mengatakan perkembangan media online di Indonesia tumbuh pesat secara konten maupun bisnis. Media berbasiskan internet kini tak hanya menyuguhkan pemberitaan, tapi menyediakan berbagai menu yang melibatkan audiens secara interaktif.

“Selama beberapa tahun terakhir sudah ada perdagangan di internet, namun pemerintah belum punya aturan jelas soal itu. Beberapa pemain bisnis online seperti ebay, agoda, msn, melakukan transaksi bisnis via internet tapi tidak ada regulasi yang melindungi konsumen dan pemain lokal,” kata Ketua AJI Indonesia, Eko Maryadi, dalam Seminar tentang Tata Kelola Internet dan Kebebasan Media Berbasis Internet di Hotel Morrissey, Jl KH. Wahid Hasyim No. 70, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (16/1).

Di tengah tumbuhnya media online lokal, AJI mencatat Indonesia saat ini baru menjadi pasar bagi media online asing. Beberapa pemain online asing seperti Google, Yahoo, Google, meraup jutaan pengguna di tanah air sekaligus merebut profit kue iklan bisnis online. Pendapatan yang diperoleh para pemain asing itu, sayangnya hanya dinikmati pemilik di negeri pembuatnya, Amerika Serikat.

Kekosongan aturan itu, kata Eko, menyebabkan bisnis online di Indonesia seperti “rimba maya tanpa penguasa”. Apalagi aturan yang ada saat ini (UU ITE) sudah tidak memadai mengatur tata kelola internet Indonesia. 

“Informasi tidak hanya didominasi oleh media pembuat berita, tetapi juga pembaca. Hal ini terlihat dari munculnya berbagai forum warga, komentar pembaca, hingga blog,” kata Eko Maryadi,

Eko mengatakan AJI, khususnya Divisi Penyiaran dan Media Baru, dalam dua tahun terakhir konsentrasi dalam isu penguatan etik media online.

“Banyak masalah etik dalam pemberitaan media Siber, sampai masalah bisnis internet yang centang-perenang”, ungkap Eko Maryadi.

Loading...