AJI Desak Polisi Brutal di Makassar Dijerat dengan UU Pers

  • Bagikan

MAKASSAR, Teraslampung.com — Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Makassar mendesak penyidik Polrestabes Makassar mengenakan Undang-Undang Pers kepada para pelaku penganiayaan wartawan dalam insiden 13 November di Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM).

“Kami mendesak penyidik mengenakan UU Pers kepada para pelaku sebab ini lex spesialis. Ini bukan kasus biasa karena posisi mereka yang jadi korban saat kejadian adalah sebagai jurnalis. Mereka sedang melaksanakan tugas jurnalistik yang seharusnya dilindungi oleh aparat karena dijamin oleh undang-undang,”kata Ridwan Marzuki, Sekretaris AJI Makassar, Sabtu (15/11/2014).

Sebelumnya, tiga dari tujuh wartawan korban kekerasan aparat kepolisian telah melapor ke Polrestabes Makassar dengan waktu yang berbeda. Salah seorang korban, Ikhsan Arham alias Asep, bahkan telah membawa saksi untuk diperiksa oleh penyidik.

Dua saksi yang dihadirkan yakni Asrul, fotografer Harian Radar Makassar dan Zulkifly, fotografer Harian Cakrawala. Mereka diperiksa bersamaan oleh tiga penyidik berbeda, Sabtu petang, 15 November 2014. Pemeriksaan dimulai pukul 16.30 dan selesai pukul 18.00. Hanya saja, Asep diperiksa lebih lama dibandingkan dua saksi yang dihadirkan.

“Penyidik menanyakan posisi saya saat itu, saat polisi melakukan penyisiran dalam kampus. Banyak pertanyaan lainnya,” ujar Zulkifli usai diperiksa di lantai dua Kantor Polrestabes Makassar bagian Reserse dan Kriminal (Reskrim).

Proses pemeriksaan saksi dan korban ini didampingi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Makassar, LBH Makassar, dan LBH Pers Makassar.  Asep ditanya mengenai kronologis kejadian, termasuk bagian-bagian tubuhnya‎ yang kena pukulan saat itu.

“Ada tiga bagian di tubuh saya yang kena pukul dan terasa sakit sampai besoknya. Ada di depan, di pangkal paha, dan di belakang (punggung, red) saya,” ujar Asep saat menguraikan kronologis kejadian yang dialaminya.

Hanya saja, AJI menilai, proses pemeriksaan ini tidak memenuhi rasa keadilan. Penyidik hanya mengenakan pasal pidana umum, yakni pasal 352 KUHP mengenai penganiayaan ringan. Penyidik sama sekali tak memasukkan salah satu pasal UU Pers‎. Padahal, Asep dan kawan-kawan menjadi korban karena profesinya sebagai jurnalis. Polisi yang beringas menyerang kampus saat itu, sengaja melakukan pengrusakan ‎alat kerja jurnalis dan menghalang-halangi mereka mengambil gambar.

“Bahkan para fotografer dan reporter yang jadi korban ini, diuber-uber layaknya pencuri saat mengambil gambar hanya karena polisi tak ingin terekam melakukan aksi vandal, menganiaya mahasiswa, dan merusak fasilitas kampus UNM. Namun fakta itu, sama sekali tak menjadi pertimbangan penyidik untuk memasukkan pasal ‎18 UU Nomor 40/1999 tentang Pers” kata Ridwan.

Menurut Ridwan, dalam UU Pers Pasal 18 disebutkan, (1) Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja dan melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pada pasal 4 di dalam ayat 1 disebutkan bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara, ayat kedua bahwa terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran, ayat ketiga bahwa untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

“Namun hal ini sama sekali tidak muncul dalam pasal yang dikenakan kepada para pelaku oleh penyidik. Penyidik, ‎mengatakan, pihaknya hanya mengenakan Pasal 352 KUHP.” Tukasnya
Sementara itu, pihak penyidik mengatakan dalam kasus tersebut UU Pers masih berpeluang digunakan, yakni saat gelar perkara sebelum ke Kejaksaan.

“Semua endingnya nanti di persidangan. UU Pers bisa digunakan ketika gelar perkara sebelum diserahkan ke kejaksaan. Masih ada peluang ke arah itu,” dalih penyidik.

Diberitakan sebelumnya, peristiwa tersebut diawali dengan aksi penangkapan seorang mahasiswa yang dilakukan oleh anggota Polrestabes Makassar di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, saat massa mahasiswa BEM UNM sedang bergerak menuju kampus UNM.

Dalam insiden 13 November ini beberapa mahasiawa UNM terluka, mobil dosen dan motor mahasiswa juga menjadi sasaran perusakan, serta ruang kuliah dan barang-barang milik kampus juga ikut di rusak, termasuk sejumlah wartawan yang dianiaya lantaran mengambil gambar turut menjadi korban kebrutalan polisi.

Berikut delapan Jurnalis yang dianiaya oleh apara polisi.

1. Waldy Vincent (jurnalis Metro TV).
Mengalami luka di pelipis atas mata kiri sepanjang 5 cm akibat dipukul dengan tameng saat berusaha mencegah aksi polisi merampas kartu memori milik Iqbal. Waldy sempat dirawat ke Rumah Sakit Faizal.

2. Iqbal Lubis (wartawan Tempo).
Mengalami pemukulan dan kamera dirampas, kart memori diambil secara paksa, saat merekam peristiwa pemukulan terhadap Waldy Vincent.

3. Ikrar (wartawan Celebes TV).
Mengalami pemukulan dan kartu memori kamera diambil secara paksa saat berusaha menghalangi aksi pemukulan terhadap Iqbal

4. Rifki (Wartawan Celebes Online).
Saat sedang mengambil gambar Brimob yang menangkap mahasiswa, korban dipukul, digeledah, handphone rusak akibat dibuang oleh aparat.

5. Aco (wartawan TVone).
Saat sedang mengambil gambar di atas tembok pagar kantor Badan Pertanahan Nasional ditarik turun secara paksa oleh aparat kepolisian.

6. Fadli (wartawan Profesi UNM).
Mengalami pemukulan dan kartu memori kamera diambil secara paksa.

7. Asep ( wartawan Rakyat Sulsel).
Mengalami pemukulan dan ditendang dibagian perut.

8. Seorang wartawan lainnya yang juga mengalami tindak penganiayaan.

Sumber: kabarmakassar.com

  • Bagikan