Beranda News AJI Gelar Nonton Bareng Working Class Heroes

AJI Gelar Nonton Bareng Working Class Heroes

36
BERBAGI
TERASLAMPUNG.COM —Pertumbuhan ekonomi negara berkembang merupakan magnet tersendiri bagi perusahaan-perusahaan besar untuk menanamkan investasi. Perusahaan bertaraf nasional dan internasional menjamur. Dampaknya, perekrutan pekerja secara besar-besaran pun terjadi.

Sayangnya, hal tersebut kerap tidak diimbangi dengan pengupahan yang layak. Jaminan-jaminan yang semestinya diberikan pekerja pun banyak yang tidak terpenuhi. Kondisi tersebut akhirnya menjadi sebuah dilema bagi pekerja. Ada lapangan pekerjaan yang tersedia tetapi hak dan kewajiban yang diterima tidak berimbang.

Huub Ruijgrok dan Arno van Beest dari World Report mendokumentasikan dilema pekerja tersebut dalam sebuah film dokumenter berjudul Working Class Heroes. Pengambilan gambar film dokumenter itu mengambil lokasi di Indonesia dan Kolombia.

Film berdurasi 60 menit tersebut menggunakan bahasa Belanda, Indonesia, Inggris, dan Spanyol. Walau begitu, terjemahan bahasa disesuaikan dengan bahasa negara tempat film diputar.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung bekerja sama dengan Federatie Nederlandse Vakbeweging (FNV) Mondiaal mengadakan screening film atau nonton bareng film Working Class Heroes pada Jumat (29/11/2013) pukul 14.30 WIB.

Acara yang berlangsung di gedung D lantai 2 Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila) turut menghadirkan diskusi pembahasan film bersama Iwan Satriawan (akademisi Unila) dan Aman Sentosa (Federasi Serikat Buruh Lampung, FSBL).

Kegiatan ini juga bekerja sama dengan Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Hak Asasi Manusia (PKKPHAM), Komunitas Konstitusi, dan Aliansi Pers Mahasiswa (APM) Lampung.
Koordinator Screening Film Working Class Heroes, Tri Purna Jaya mengatakan, film tersebut mampu memberikan gambaran bagaimana kondisi pekerja di negara berkembang.

“Pembuat film mampu memberikan gambaran utuh. Film tidak hanya memberikan gambaran kondisi pekerja pada satu sisi saja. Tetapi, perusahaan juga diberikan tempat untuk memberikan komentar,” terang Purna, Kamis (28/11/2013).
Naqib Revolusi