Beranda Teras Berita AJI Menolak Kedaluwarsa Kasus Pembunuhan Udin

AJI Menolak Kedaluwarsa Kasus Pembunuhan Udin

411
BERBAGI

JAKARTA, Teraslampung.com – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menolak kedaluwarsa kasus pembunuhan wartawan Harian Bernas, Yogya,  Fuad Muhammad Syafrudin atau Udin. AJI menegaskan Kasus Udin  hendaknya dianggap belum selesai dan dilanjutkan dengan pengusutan tuntas oleh polisi, sehingga  diketahui pelaku dan motif pembunuhan yang berlagsung 18 tahun lalu itu.

“Kasus itu sudah berjalan, meskipun dalam sejarahnya, pengusutan oleh polisi hanya sebuah sandiwara saja. Karena itu, aturan kedaluwarsa yang ada di KUHP tidak berlaku untuk kasus Udin,” kata  Ketua AJI Indonesia, Eko Maryadi, Jumat (15/8/2014) di Jakarta.

Kasus Udin  berawal dari ditemukannya Udin dalam keadaan berdarah di pintu masuk rumahnya, di Bantul, Yogyakarta, 13 Agustus 1996 oleh Marsiyem, Istrinya. Seorang tamu yang diduga pelaku, yang datang sebelum kejadian, sudah tidak ada di tempat. Udin dilarikan ke RS Bethesda, Yogyakarta. Tiga hari kemudian, 16 Agustus 1996, Udin meninggal dunia.

Data yang dimiliki AJI menyebutkan, perjalanan kasus pembunuhan Udin berlangsung laiknya sandiwara. Satu-satunya proses hukum yang pernah dijalankan melibatkan Dwi Sumaji, warga Yogyakarta, sebagai “pelaku”. Meski akhirnya, Iwik yang disebut-sebut mengalami kekerasan dalam proses pengusutan polisi itu dibebaskan oleh Pengadilan Negeri (PN) Bantul pada 3 November 1997.

Menurut Eko Maryadi, sandiwara pengusutan kasus Udin yang sempat melibatkan Iwik, bukanlah pengusutan kasus yang sebenar-benarnya dilakukan. Buktinya, polisi tidak berhasil menemukan pelaku dan mengungkap motif di balik peristiwa itu. “Kasus ini belum pernah benar-benar diusut oleh polisi,” tegas Eko.

Karena itulah, ketentutan Pasal 78, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang menyatakan perihal kedaluwarsa kasus pembunuhan, tidak terpenuhi. Polisi, kata Eko, harus melakukan pengusutan kembali kasus itu dari awal, dan menuntaskannya.

“Kasus pembunuhan wartawan karena pemberitaan, bukan sebuah kasus pembunuhan biasa. Semua dilakukan secara sistematis. Karena itulah, sandaran hukumnya bukanlah KUHP, melainkan pelanggaran HAM dan diselesaikan melalui pengadilan HAM, dan tidak memiliki masa kedaluarsa,” jelasnya.

Eko mengingatkan, polisi tidak lagi main-main dalam pengusutan kasus ini, seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Bahkan, polisi juga harus menghukum anggotanya yang terbukti terlibat dalam sandiwara pengusutan kasus Udin di masa lalu.

“AJI mencatat, setidaknya ada 28 orang yang bisa dimintai keterangan atas kasus pembunuhan Udin,” kata Eko. Sebagian besar adalah pejabat polisi yang dulu pernah bekerja di Polwil Yogyakarta (kini Polda Yogyakarta) dan Polres Bantul, Yogyakarta.

Eko menjelaskan, komentar senada pernah dikatakan Hakim Agung Artidjo Alkostar, tentang tidak adanya kedaluwarsa dalam kasus pembunuhan Udin. “Hakim Agung Artidjo pernah mengatakan kasus ini tidak akan kedaluwarsa karena tidak ada tersangka baru setelah Dwi Sumaji,” jelas Eko.

Di Yogyakarta, AJI Yogyakarta, AJI  Solo dan AJI Semarang, bersama kelompok masyarakat sipil lain setempat yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat untuk Udin (K@MU) membuat sejumlah kegiatan untuk mengingat kembali kasus pembunuhan Udin.

Dalam rangkaian acara yang digelar mulai 13 – 16 Agustus 2014 itu diawali dengan diskusi peluncuran buku Komik Udin karya Pusham UII dengan tema  “Menagih Tanggung Jawab Polisi untuk (Alm) Udin”.

Kemudian dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) penyikapan kasus Udin secara hukum oleh sejumlah advokat dan akademisi di Yogyakarta, untuk kemudian diserahkan ke Polda DI Yogyakarta.

Puncak acara di Yogyakarta ditandai dengan digelarnya aksi bersepeda bersama bertajuk penolakan kedaluwarsa kasus Udin dengan tema “A Bike 2 Remember – Tolak Kedaluwarsa Kasus Udin!”.
Acara gowes ini akan dimulai dari Alun-Alun Utara Yogyakarta jam 16:00 WIB dan berakhir di Titik 0 kilometer.

Di perempatan simbol Kota Jogja ini akan diputar informasi-informasi singkat tentang kasus Udin melalui layar besar yang dipersiapkan sebelumnya. Acara ditutup dengan ziarah ke makam Udin di Bantul, Yogyakarta. (R/Dewira)

Berita Terkait: Bertemu Wakapolri, AJI Serahkan Bahan Penyidikan Kasus Pembunuhan Udin

Loading...