AJI Yogya Buka Sekolah Jurnalisme S.K. Trimurti

  • Bagikan
YOGYAKARTA, Teraslampung.com– Setelah dua kali mengadakan sekolah jurnalisme, mulai 2013, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta kembali menggelar “Sekolah Jurnalisme S.K. Trimurti” Angkatan III,, November-Desember 2014. 
Pembukaan sekolah jurnalisme ini dilakukan  pada Senin, 3 November 2014,  dengan diskusi publik di Sekertariat AJI Yogyakarta Jalan Pakel Baru, dengan pembicara Eko Riyadi Derektur Pusat Studi Hak Asasi Manusia (PUSHAM) UII dan Bambang Muryanto Jurnalis The Jakarta Post.
 
Ketua Divisi Sekolah Jurnalistik Anang Zakaria menjelaskan tujuan Sekolah Jurnalisme SK. Trimurti adalah memberi ruang bagi mahasiswa untuk belajar  teori dan praktek jurnalistik. “Teknisnya, peserta akan mendapat materi dalam kelas selama dua minggu. Selebihnya praktik di lapangan dan masing-masing peserta mendapat mentor,” katanya.
 
Di sekolah ini, peserta akan menerima materi dasar-dasar jurnalisme, etika peliputan, bahasa jurnalistik, teknik penulisan feature serta narative reporting. “Konsep materi ditekankan pada penulisan feature, misalkan membuat paragraf deskriptif,” ujarnya. Pematerinya antara lain Tommy Apriando jurnalis MONGABAI, Olivia Lewi Pramesti dosen FISIP Atmajaya, dan Bambang Muryanto jurnalis The Jakarta Post.
 
Selama sekolah jurnalisme ini berlangsung, karya tulis para peserta secara aktif dikoreksi mentor. Tulisan yang layak publikasi akan dipublikasikan di laman sekolah, www.sekolahjurnalisme.ajiyogya.com.
 
Salah satu peserta sekolah jurnalisme, Lutfi Fauziah mengatakan termotivasi karena ingin mencari ilmu diluar bangku kuliah. “Belum puas saja kalo cuma belajar di kampus,” kata mahasiswi AMIKOM, jurusan Teknik Informatika, semester 7 itu.
 
Selain itu, ia mengaku tertarik dengan materi teknik penulisan feature yang akan diberikan di Sekolah Jurnalisme S. K. Trimurti. “Saya ingin memperdalam feature, jurnalime sastrawi, dan foto juralistik,” katanya.
 
Pengamat media dari Masyarakat Peduli Media, Darmanto berharap Sekolah Jurnalisme SK. Trimurti dapat meningkatkan pengetahuan calon jurnalis hingga mampu menanggulangi minimnya prespektif pekerja media.
 
Darmanto mengusulkan agar Sekolah Jurnalisme S. K. Trimurti membedakan materi pada peserta yang berasal dari jurusan komunikasi dan non komunikasi. “ Yang berasal dari jurusan komunikasi agar diperbanyak praktek. Sementara yang non komunikasi ditekankan teori dan praktek. Dengan demikian akan tercipta sinergi dunia kampus (teori) dengan realitas (praktek), “ ujar Darmanto. 
 
Sekilas tentang Sekolah Jurnalisme SK Trimurti
    
Nama sekolah jurnalisme diambil dari seorang aktivis perempuan yang juga salah satu jurnalis perempuan generasi awal di Indonesia, yakni Soerasti Karma Trimurti. Perempuan kelahiran Boyolali, 11 Mei 1912 ini dipilih sebagai ikon sekolah Jurnalisme AJI Jogja, karena kesamaan gagasan beliau dengan visi misi AJI, yaitu memperjuangkan kebebasan pers dan kebebasan berekspresi. Ia pernah dipenjara pemerintahan Belanda karena menyebarkan pamflet antikolonialisme pada 1936.
 
Pada masa kemerdekaan SK  Trimurti pernah menjabat sebagai Menteri Perburuhan pada Kabinet Amir Sjarifuddin, 1947-1948. “Dalam kaitan hubungannya dengan perusahaan, jurnalis adalah seorang buruh. Saya pikir, S. K Trimurti sebagai menteri perburuhan juga berupaya meningkatkan kesejahteraan wartawan sebagai buruh,” kata Anang.
 
Sekolah Jurnalisme S. K. Trimurti juga akan membekali para peserta dengan materi tentang laku seorang wartawan yang meletakkan loyalitas mereka untuk kepentingan publik., “Junalis itu bukan sekedar tukang ketik, tapi harus punya tanggung jawab sosial,” katanya.
  • Bagikan