Beranda Hukum Kriminal Aksi Perampasan Sepeda Motor “Debt Collector” Makin Menggila di Lampung Utara

Aksi Perampasan Sepeda Motor “Debt Collector” Makin Menggila di Lampung Utara

2873
BERBAGI
Saidan korban kekerasan debt collector tergolek lemah di ruang Paviliun Cendana Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandarlampung, saat ditemui Teraslampung.com, Kamis lalu (7/1/2016).

Feaby/Teraslampung.com

Kotabumi–Meski melanggar hukum dan bisa dijerat dengan pasal KUHP, aksi “perampasan” motor‎ di jalan dengan berkedok sebagai debt collector ‎atau penagih hutang kian menggila di Lampung Utara.‎

Satu hari in‎i saja, setidaknya terjadi dua kejadian percobaan perampasan motor yang dilakukan para oknum yang hendak merampas motor para kreditur macet tersebut di waktu dan lokasi yang berbeda. Beruntung, aksi ini dapat digagalkan karena para korbannya melawan dan berteriak sehingga memancing kerumunan warga.

“Ada 4 orang yang mengaku sebagai debt collector dari dealer yang mau ngambil motor bapak saya saat melintas di perlintasan kereta api di Jalan Ahma Akuan, Kotabumi tadi sore,” kata Irawan (19), warga Kotabumi Selatan, Jum’at sore (24/6).

Saat itu, menurut pemuda lajang ini, ayahnya hendak mengunjungi kerabatnya yang berada di Kelurahan Rejosari, Kotabumi. Dengan mengendarai dua motor, para oknum ini ngotot memaksa ayahnya untuk menyerahkan sepeda motor yang sedang dinaikinya. Kendati demikian, ayahnya tak mau mengikuti kemauan para oknum tersebut sehingga terjadi cekcok mulut.

“Bapak minta mereka datang ke rumah saja untuk menyelesaikan persoalan ini kalau memang mereka dari pihak dealer,” terusnya.

Ajakan ayahnya ini ditolak mentah – mentah oleh para oknum tersebut. Mereka tetap ngotot ingin memboyong sepeda motor ayahnya. Lantaran merasa kenyamanannya terganggu dengan aksi kawanan oknum ini, ayahnya kemudian berteriak sehingga warga sekitar berkumpul di lokasi. Melihat warga kian ramai, oknum – oknum itu lantas ambil langkah seribu meninggalkan lokasi.

“Bapak teriak “begal..begal”..warga lalu ramai – ramai menuju tempat ayah saya. Oknum – oknum itu langsung kabur melihat kerumunan warga,” kata dia.

Di tempat berbeda, Yanto (31), warga, Ogan Lima, Abung Barat yang juga nyaris menjadi korban keganasan oknum – oknum yang mengaku sebagai debt collector menceritakan kejadian yang menimpa terjadi di dekat jembatan Jalan Lintas Tengah Sumatera tepatnya di depan SMAN 3 Kotabumi, sekitar pukul 17:00 WIB.

Motor yang dikendarainya dihentikan secara mendadak oleh empat pemuda yang mengaku sebagai debt collector. Merasa tak ada tunggakan kredit, ia dengan tegas menolak kemauan mereka. Tak hanya itu, ia pun menanyakan surat tugas keempat pemuda itu jika memang dari pihak dealer. Sayangnya, tak ada satu pun dari kawanan itu yang mampu menunjukan surat tugas mereka. Meski begitu, para oknum itu tetap ngotot berusaha merampas motornya.

“Angsuran motor saya baru saya bayar kok tiba – tiba mau diambil. Karena mereka masih maksa ngambil motor saya, saya jeritin mereka begal, dan mereka langsung kabur,” terang dia.

Mengingat aksi perampasan motor di jalan yang mengatasnamakan dealer atau sejenisnya ini dilarang secara aturan, keduanya berharap, pihak Kepolisian mau turun tangan menertibkan para debt collector ini. Jika terus dibiarkan, dikhawatirkan akan jatuh korban baik dari pihak konsumen maupun para oknum. Selain itu, dikhawatirkan juga, para oknum itu merupakan kawanan begal motor yang berkedok sebagai debt collector.

“Polisi harus turun tangan. Tangkap mereka itu karena secara aturan, mereka tak berhak merampas motor konsumen di tengah jalan. Harus ada surat dari Pengadilan jika ingin mengambil motor kreditur macet bukan cara preman seperti ini!!” tegas mereka.

Pemerintah telah menerbitkan peraturan larangan bagi leasing untuk menarik paksa kendaraan nasabahnya melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.130/PMK.010/ 2012, tentang pendaftaran Fidusia bagi perusahaan pembiayaan yang dikeluarkan tanggal 7 Oktober 2012. ‎

Akan tetapi, dengan aturan itu bukan berarti nasabah terbebas dari beban cicilan. Dengan adanya peraturan Fidusia tersebut, pihak leasing memang tidak dapat mengambil kendaraan Anda secara paksa, tapi hal tersebut akan diselesaikan secara hukum. Artinya, kasus itu akan disidangkan, dan Pengadilan akan mengeluarkan surat keputusan untuk menyita kendaraan Anda. Dengan demikian, kendaraan konsumen akan dilelang oleh pengadilan, dan uang hasil penjualan kendaraan melalui lelang tersebut akan digunakan untuk membayar utang kredit konsumen ke perusahaan leasing, lalu uang sisanya akan diberikan kepada konsumen. Berdasarkan aturan itu, tindakan Leasing melalui Debt Collector yang mengambil secara paksa kendaraan di rumah, merupakan tindak pidana Pencurian. Jika pengambilan dilakukan dijalan, merupakan tindak pidana Perampasan