Beranda Hukum Aksi Tolak Omnibus Law di Bandarlampung: Objek Vital Dirusak, Polisi Sebut 5...

Aksi Tolak Omnibus Law di Bandarlampung: Objek Vital Dirusak, Polisi Sebut 5 Pelajar Bisa Dipidana

671
BERBAGI
Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad.
Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad

Zainal Asikin | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG—Aksi unjuk rasa penolakan UU Cipta Kerja atau Omnibus Law yang berujung kericuhan di Kantor DPRD Provinsi Lampung pada Rabu (7/10/2020) kemarin hingga malam berbuntut panjang. Polisi mengamankan 24 orang yang diduga melakukan perusakan sejumlah objek vital di Kota Bandarlampung, lima di antaranya memenuhi unsur pidana.

BACA: Mau Ikut Aksi Tolak Omnibus Law, 7 Pria Diamankan karena Bawa Botol Isi BBM

Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad saat dikonfirmasi mengatakan, usa aksi unjuk rasa kemarin, terjadi aksi anarkis yang dilakukan sekelompok orang dengan merusak sejumlah objek vital di Kota Bandarlampung.

“Ada empat objek vital yang menjadi sasaran pengrusakan pascaaksi unjuk rasa, salah satu objek vital yang jadi sasaran pengrusakan adalah Pos Lantas di Tugu Adipura,”ujarnya kepada teraslampung.com, Kamis (8/10/2020).

Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad mengutarakan, hasil penyelidikan dan pemeriksaan yang dilakukan petugas hingga semalam saat aksi unjuk rasa, berhasil diamankan 13 orang dan kini menjadi 24 orang yang diamankan yang merupakan dari unsure pelajar. Namun dari 24 orang yang diamankan, 19 orang dari unsur pelajar sudah dikembalikan kepada keluarganya dengan syarat jaminan orangtuanya.

“Agar tidak mengulangi perbuatannya, ke-19 pelajar tersebut sudah diberikan imbauan melalui orangtua mereka masing-masing. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah dan Dinas Pendidikan setempat,”ungkapnya.

Sementara untuk lima orang lainnya, kata Pandra, saat ini masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut karena kelima orang tersebut memenuhi unsur pidana karena kedapatan memiliki alat bukti berupa batu, pecahan kaca, besi, kayu dan bahan bakar minyak (BBM) yang dikemas dalam kantong plastik.

“Untuk lima orang tersebut, tiga orang merupakan pelajar dan dua lainnya warga biasa. Saat ini masih menunggu statusnya, apakah naik jadi tersangka atau tidak karena masih ada waktu prosesnya 2×24 jam,”terangnya.

Dikatakannya, pihaknya meminta kepada seluruh masyarakat, agar tidak mudah termakan isu-isu yang menyesatkan (hoaks) terkait aksi massa ini dan tetap menjaga kondusivitas.

“Masyarakata harus bijak bermedia sosial, jangan mudah terprofokasi dengan isu yang menyesatkan. Sama-sama kita menjaga situasi Kamtibmas agar tetap kondusif, apalagi masih ditengah pandemi Covid-19 dan juga saat ini kita masih dihadapkan masa kampanye Pilkada,”katanya.

Pandra menambahkan, dari aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja atau Omnibus Law di Kantor DPRD Provinsi Lampung, Rabu (7/10/2020) kemarin, menyebabkan enam orang mahasiswa menjadi korban kerusuhan dan mengalami luka.

Mahasiswa yang mengalami luka tersebut  sempat dirawat di Rumah Sakit di Kota Bandarlampung seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) A. Dadi Tjokrodipo, RSU Abdul Moeloek, dan Rumah Sakit Bumi Waras.

“Semalam yang dirawat enam orang, pagi tadi tiga orang sudah pulang ke ruamahnya masing-masing. Sementara untuk tiga orang lainnya, saat ini masih dalam tahap pemulihan,”pungkasnya.

Loading...