Aktivis Perempuan: Perjuangan Muhammad Nur demi Masyarakat Adat dan Petani

Bagikan/Suka/Tweet:

Ahmad Marhaen/Teraslampung.com

Muhammad Nur (kaos merah) tetap bersemangat memenangkan Jokowi pada Pilpres 2014 meskipun berada di tahanan. 

PALEMBANG –Meski berada dalam tahanan, Muhammad Nur bin Djakfar (79), tokoh adat masyarakat Tungkalulu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumsel, tetap berjuang untuk mendukung Jokowi pada Pilpres 2014. Dari balik jeruji penjara, Muhammad Nur menyerukan agar masyarakat adat dan petani milih Jokowi sebagai presiden Indonesia. Pernyataan Nur itu disampaikan yang saat ini dia ditahan bersama lima petani lainnya, karena dituduh melakukan perambahan di Dangku, Kabupaten Musi Banyuasin.

Hal itu  mendapat apresiasi dari aktivis perempuan di Palembang, Ade Indriani. Ade memberikan apresiasi tinggi kepada Muhammad Nur, karena meskipun sudah tidak muda lagi dia tidak takut memperjuangkan satu cita-cita yang diyakikinya benar.

“Lelaki Tua yang bersemangat ini saya kenal belasan tahun lalu. Sampai saat ini pun saya menaruh hormat teramat padanya, tak ada keraguan dan ketakutan dirinya dalam menyakini kebenaran. Saat dia datang berkunjung ke LBH Palembang atau Walhi Sumsel, akan sangat banyak cerita-cerita baru yang disampaikan. Mendengar ceritanya seperti mendengar Soekarno berpidato,” kata Ade Indriani, direktur Yayasan OWA Indonesia, sebuah organisasi perempuan dan anak, Kamis (3/7/2014).

“Sesungguhnya mendengar Pak Nur ditangkap saya pribadi tak akan tercengang.Ini hanya soal waktu semata, karena rezim akan sangat berduka dan bersedih bila membiarkan Pak Nur melenggang bebas
melakukan pengorganisasian, melakukan kampanye agar para petani di Musi Banyuasin solid, sehingga keberanian dan keyakinannya akan kecintaan pada kaum tani pun diuji,” ujar Ade.

Menurut Ade, seruan Nur kepada para petai terkait Pilpres 2014 bukanlah satu ajakan yang tidak memiliki dasar berpikirnya. “Dia pasti mempertimbangkan banyak hal, terutama terkait dengan nasib kaum tani dan masyarakat adat,” ujarnya.

Sebab itu, Ade mengajak seluruh elemen petani di Sumatera Selatan melakukan berbagai upaya dukungan dalam pembebasan Pak Nur. “Karena Pak Nur adalah salah satu tokoh yang menyambungkan sejarah kita pada ketidakadilan yang bernama perampasan,” tegas Ade.