Aku Ayam, ujar Anak Elang

  • Bagikan
(Sebentuk Esei berdasarkan Filosofi Eksitensialisme Jean Paul Sastre)
Oleh Alexander GB

Suatu siang
Robert Koplak dan Junot mampir ke kantin Mas Min. Langganan lamanya selama mahasiswa.
Keduanya duduk dan memesan mie ayam + jus alpukat. Mereka bertemu sejumlah mahasiswa,
yang cekikikan sibuk dengan gadget dan teman-temannya di pinggir kolam.  Pantas saja, huru-hara negeri ini tak sampai pada
mereka, pantas kebakaran hutan dan wabah kelaparan dan kebodohan tak menggelisahkan
mereka. Mereka seperti membangun dunianya sendiri yang jauh dari gejolak politik,
sosial, kerusakan ekologi yang terjadi di negeri ini.
“Ya, apalah
saya/kami ini?” ujar salah satu mahasiswa.
“Keadaannya
memang sudah begitu, mau diapakan lagi?” ujar mahasiswa lainnya.
“Sudah, jangan
aneh-aneh, kita itu harus nurut dengan dosen kalau mau cepat lulus,” mahasiswa lainnya
lagi.

Roberk Koplak
menghela napas, mengingat setiap tahun di bulan September, ribuan remaja—dari segala
penjuru berdatangan ke berbagai perguruan tinggi. Berbalut almamater yang
menandai level pendidikan yang kini sedang mereka tapaki. Ada yang menampakkan
keriangan, ada yang mukanya masam, dan ada juga yang biasa saja.
Seandainya
mereka (mahasiswa) tahu mengapa mereka memilih jurusan ini dan bukan itu, alasan
berada di perguruan ini dan bukan itu, mengapa mereka berada di sana, dan tidak
di tempat lainnya, tidak serba kebetulan, seandainya mereka di sana adalah
pilihan-pilihan sadarnya, predikat sebagai agen peruba itu memang benar adanya.
Seandainya
situasi belajar-mengajar belangsung lebih menyenangkan, budaya egaliter atau
kesetaraan benar-benar diterapkan. Artinya relasi antara dosen dan mahasiswa dibuat
lebih longgar, sampai pada titik tertentu kedudukannya setara. Keduanya
sama-sama manusia yang bisa menemukan kebenaran, dan juga bisa salah. Dosen dan
mahasiswa, sama-sama mencari, menemukan, dan menyangsikan kebenaran
(pengetahuan) sesuai dengan levelitasnya.
Tapi
sayang, kita hanya bisa mengandaikan. Dan selalu saja yang terjadi di lapangan
tak sejalan dengan harapan. Banyak kampus yang masih menerapkan system feodal
dan pragmatis. Dosen dan pihak akademik bertingkah seperti kaki tangan
kerajaan, yang dengan otoritasnya bisa bertindah semena-mena. Orientasi
utamanya adalah hasil, adalah keuntungan secara materi.
Seandainya
lingkungan kampus membudayakan mental berani bertanya. Namun pertanyaan adalah
sesuatu yang berbahaya. Pertanyaan dianggap menganggu struktur kekuasaan (eksistensi
pengajar) yang ingin mengkultuskan diri sebagai yang maha tahu. Maka, ia
ditabukan, dibatasi pergaulannya. Banyak dosen yang masih gila hormat, yang masih
belum terpenuhi eksistensinya.
Seandainya
ada good will dan keterbukaan dari
semua pihak, maka proses belajar-mengajar akan lebih menyenangkan.
Berdasarkan
pemikiran ini, dosen atau mahasiswa kita, dari
kacamata filsafat eksistensialisme Sartre, baru dalam tahap “Being in Itself”, ada dalam dirinya.
Belum “Being for Itself”, ada karena
dirinya sendiri. Atau bisa juga kita asumsikan mereka baru sampai pada tahap
kesadaran pra-reflektif. Belum atau
mungkin enggan menyadari peran, kebebasan, dan tanggungjawabnya. Atau
sesungguhnya mengetahui, tapi karena sekian banyak alasan jadi menafikannya.
Demikian
halnya mahasiswa. Sedari awal mereka mestinya mempertanyakan dirinya, apa
maksud dan tujuannya datang ke kampus, dan sadar dengan pilihan dan
tindakan-tindakannya selama proses ini.
Mungkin
lingkungan masyarakat kita yang cenderung pragmatis menjadi satu penyebab
mahasiswa yang kita ibaratkan sebagai anak elang, serasa ditetaskan dan diasuh
induk ayam. Sekian lama mereka lupa ke-elang-annya. Sehingga seperti mustahil
memiliki cita-cita yang tinggi, sehingga mustahil untuk memilih sesuai dengan
interesnya. Sehingga tanpa sadar menyebut dirinya ayam, padahal dari segi
potensi mereka adalah elang.
Pada
titik ini, sekolah atau perguruan tinggi, dosen-dosen,  kurikulum dan sistem pengajaran tidak lain
dan tidak bukan mestinya bertugas menyadarkan bahwa mereka itu elang, dan bukan
ayam. Tapi yang terjadi sebaliknya.
Dari
kacamata eksistensialisme, sudah jelas apa yang membedakan antara keber-ada-an manusia
dengan benda. Jika benda keber-ada-annya  sudah jelas bahkan ketika dia belum di
ciptakan. Setiap orang sudah tahu fungsi benda itu untuk apa, esensi mendahului
eksistensi. Sementara manusia beda, manusia itu esensi menentukan eksistensi. Artinya
keber-Ada-an manusia ditentukan kesadarannya, kebebasannya memilih, dan
tindakannya yang kelak menentukan esensinya. Istilah lain dari on going procces adalah  kontingensi. Bebas, terus berubah
(berevolusi).
Maka dalam
konteks pembelajaran, dosen atau pihak akademik mendorong individu yang bebas
itu untuk menemukan dirinya yang otentik, menciptakan ruang-ruang bagi kreativitas,
termasuk strategi pengajaran.  Memang
membutuhkan good will dari dosen dan
pengelola universitas.
Pembatasan
kegiatan mahasiswa, pemberlakuan jam malam dan aturan-aturan lain pada titik
tertentu adalah satu bentuk rendahnya penghargaan dosen dan pengelola universitas
terhadap mahasiswa sebagai individu, sebagai manusia. Hubungan antara Dosen dan
Mahasiswa, yang mestinya adalah Subyek- subyek, bergeser menjadi Subjek-Obyek.  Alih-alih disadarkan kemanusiaannya, mahasiswa
justru dipaksa sebatas obyek dari dosen dan pengelola universitas semata.  Jadi boro-boro dirangsang untuk kreatif,
justru mereka dipasung dan ditumpulkan kreatifitasnya.
Sekarang
kita bandingkan dengan pengalaman Jean Gustiniani (91 tahun), salah satu mantan
murid Sastre.  Ia mengatakan;  Saya selalu masih ingat Sartre guru filsafat kami,
berbadan kecil, dengan pipa di tangan mengumumkan  di depan kelas: “Sekarang kalian boleh
merokok di kelas’, ujarnya ketika itu. Belum pernah ada ada hal seperti itu di
tempat kami. Kaum Borjuis langsung melihat bahaya di depan mereka.” Jauh
sebelum gerakan 1968 mengobarkan semangat est
interdi d’interdire
, “dilarang melarang”, Sartre sudah menghidupinya. Ia
menghapus larangan merokok, ia mengajar dan berdiskusi dengan murid-muridnya
seperti dengan teman sendiri, ia mengajar di tepi pantai, berdiskusi di bar
sambil minum bir, dan ia pergi ke rumah bordil tanpa sembunyi dari
murid-muridnya. Sartre membawa semangat kebebasan, semangat mencari “diri
sendiri” dalam berfilsafat. 

“Jangan pergi ke sekolah dengan buku filsafat,
datanglah dengan otak terbuka,” ujarnya. Buku pelajaran adalah untuk dibaca di
rumah, tetapi begitu sampai di sekolah, saatnya untuk berdiskusi dan mencari
“diri kita sendiri”.

Itulah kesan-kesan Jean Gustiani saat menjadi murid Sarte.
Ini dipetik dari penuturan Jean Gustiniani saat masih SMA.

Kita
bisa membandingkan cara Sastre mengajar dan cara guru-guru atau dosen kita
mengajar. Memang tidak akan se-extrim
ini. Kita juga mesti menyesuaikan dengan kultur kita. Tetapi secara prinsip,
kita bisa memahami, bagaimana upaya Sartre untuk mengajak murid-muridnya yang
secara jujur mendorong kebebasan individu dalam upaya menemukan jati-dirinya.
Filsafat bisa kita ganti apa saja, bahasa, sastra, ekonomi, politik, ekologi
atau apa pun.
Intinya
adalah bagaimana instansi atau lembaga pendidikan, guru dan dosen, menghormati,
menempatkan, dan mensikapi mahasiswa sebagai individu, dengan kebebasan (yang
tetap terbatas) dalam proses belajar mengajar. Bagaimana setiap mahasiswa
dijamin kebebasannya mengeluarkan pendapat, berekspresi, dan lain
sebagainya. 
Karena
itulah, sebagaimana Sartre, penyeragaman apa pun bentuknya, termasuk model
pendidikan yang tak partisipatif, pemberlakuan aturan-aturan secara
semena-mena, sudah jelas mematikan potensi dan hak sebagai individu. Pemasungan
semacam ini bertentangan dengan prinsip eksistensialisme.
Dan
celakanya, karena sudah berlangsung bertahun-tahun, semuanya mengganggap itu
sebagai kebenaran. Padahal awal mulanya adalah ketidakberdayaan. Sartre
menyebut situasi mahasiswa ini sebagai gejala malafide. Individu yang tanpa sadar, dan barangkali tak mau sadar
untuk sekadar memperjuangkan haknya. Individu yang menyerah dan terpaksa
menerima sebagai objek, yang tak memiliki otoritas, dan menyerahkan dirinya
pada aspek eksternal. Individu-individu yang takut bebas, takut memilih karena
akan dituntut tanggungjawab. Sehingga dalam terminologi Sartre belum pantas
menyandang gelar sebagai manusia.
Sartre
merumuskan, sarat untuk disebut manusia adalah kesadaran akan kebebasan, atau
dengan kata lain individu harus bebas menentukan pilihan-pilihan dan
tindakannya, yang kelak akan menentukan esensinya atau keber-Ada-annya di dunia.
Oleh sebab itu setiap orang dituntut untuk berani memperjuangkan kebebasannya. Dan
jika ada pihak yang hendak memasungnya, ia berani untuk melawan. Jika tidak
difasilitasi berani menuntut, jika haknya tidak dipenuhi berani menggugat.
Nah,
bagaimana kabar mahasiswa kita hari ini?
***

 (Alumnus Peserta penulisan Esei Mastera 2014) 
  • Bagikan