Aku Cuma Bisa Terharu Menyambut Hari Guru

  • Bagikan
Oleh
Slamet Samsoerizal

Sehari menjelang peringatan Hari Guru 2014, Mendikbud Anies Baswedan  melaksanakan  jumpa pers 
di Kantor Kemendikbud. Sebagaimana dikutip dari laman Kemendikbud RI,
Anies menyampaikan poin-poin berikut:

(1).
Mendikbud menyampaikan puncak peringatan Hari Guru
pada tanggal 27 November 2014 di Istora Senayan, Jakarta pukul 10.00 WIB, akan
dihadiri Presiden Joko Widodo.
(2).
Pada puncak peringatan HariGuru tanggal 27 November 2014 akan diberikan
penghargaan bagi guru.
(3).
Pada tanggal 25 November 2014 digelar upacara peringatan Hari Guru di
Kemendikbud, Jakarta, akan hadir konduktor Addie M.S. menyuguhkan orkestra yang
merupakan simbol pendidikan sebagai sebuah gerakan
(4).
Tema peringatan Hari Guru 2014 adalah “Mewujudkan
Revolusi Mental melalui Penguatan Peran Strategis Guru
(5).
Guru adalah kunci pencapaian revolusi mental. Bagaimana guru menjadi ujung
tombak perubahan pola pikir dan mental karena guru adalah garda terdepan proses
pendidikan
(6).
Guru bukan sekadar salah satu profesi, guru adalah hulunya perubahan bangsa.
Mari sama-sama memuliakan guru dan tempatkan guru pada posisi terhormat
(7).
Guru tidak sempurna, guru juga bukan malaikat, tetapi mayoritas guru seperti
orang tua yang cinta pendidikan dan cinta anak didiknya
(8).
Ayo datangi guru, cium tangannya, ucapkan terima kasih dan tanyakan kabarnya!
Dari delapan
poin yang disampaikan, poin terakhir : “Ayo
datangi guru, cium tangannya, ucapkan terima kasih dan tanyakan kabarnya
” terasa
lebih menyentuh nurani kemanusiaan. Kita patut mengapresiasi gagasan baik ini,
karena selama ini rasanya penyepelean masyarakat terhadap profesi guru bukan
merupakan hal baru.
Potret
Baur Guru
Jika
dalam keluarga, memiliki anak di atas rata-rata kecerdasannya, sangat kecil
kemungkinannya bagi anak untuk bermimpi menjadi guru (TK, SD, SMP, SMA dan
SMK). Apalagi niatan dari orang tua. Saya berani menyatakan, hanya 1 dari
sejuta orang tua yang menghendaki anaknya menjadi guru. Selebihnya, akan
memilih profesi yang menurut para orang tua lebih menjanjikan, misalnya:
pegawai Bank, TNI, Polisi, dan menjadi Pegawai Negeri Sipil selain guru.  
Ironi?
Tidak juga, jika kita melihat Pemerintah sejak kita merdeka masih belum tuntas mengapresiasi
profesi guru secara layak. Bahkan negara lebih mengesankan memperlakukannya
setengah hati. Benar, belakangan ada tunjangan sertifikasi. Tapi, nanti dulu
jangan buru-buru berkomentar: menjadi guru di zaman kini lebih makmur dan
sejahtera daripada para pendahulunya.
Yuk,
mari sama-sama kita catat yang terjadi di lapangan. Meskipun para guru telah
mengantongi sertifikat sertifikasi, mereka tidak serta merta menikmati
fasilitas itu dengan mulus. Sejumlah ganjalan masih dibebankan ke pundaknya. Jumlah
mengajar dalam seminggu mesti 24 jam. Kelancaran uang yang diterimanya pun tak
selancar lewat tol. Ada-ada saja ragam alasan yang dikemukakan, tiap
keterlambatan penerimaan. Walau selalu dijanjikan akan dibayarkan mulai dari
isu pembayaran dilakukan tiap bulan, tiga bulan, toh kenyataannya tidak selalu
tepat waktu diterima bapak dan ibu guru.
Para
guru selalu ditegur sinis ketika berada dalam sebuah forum yang dihadiri
pejabat pemerintah. Si pejabat sering nyinyir dengan ujaran “uang sertifikasi
bukan uang hadiah percuma yang diberikan negara kepada guru. Itu dipakai untuk
meningkatkan kualitas guru terutama dalam menyiapkan kader-kader bangsa.   
Bergejolakkah
menyikapi keadaan ini? Guru paham posisi dan perannya. Meskipun uang
sertifikasi adalah haknya, namun ketika tenggat waktu sudah kadaluarsa dan tak
kunjung menyapa, mengajar tetap dilakukan tanpa pernah melakukan mogok massal. Di
kelas, guru selalu berakting alihalih artis berkelas Piala Oscar. Suasana riang
ria selalu tercipta, tanpa dioprak-oprak dengan komando: “ciptakan suasana
kondusif!” Guru sangat paham bagaimana menyegarkan dan mencerdaskan kader-kader
bangsa.
Reuni
Alumni
Satu
hal yang perlu digarisbawahi ketika memperingati Hari Guru (juga Hardiknas), adalah
para alumni dimana pun kala  melaksanakan
reuni, jarang yang bangga dengan SD apalagi TK-nya. Mereka lebih bangga, secara
berturut-turut: perguruan tinggi, kemudian SMA/SMK-nya. SMP dan SD sangat
jarang dicolek. Padahal, perjalanan mereka berpendidikan justru diawali dari
(kebanyakan) SD baru SMP, SMA/SMK, dan terakhir perguruan tinggi.
Ingatan
para alumni pun suka amnesia ketika mencoba mengingat nama-nama gurunya ketika
SD. Selalu dan selalu, tiap ada acara temu kangen, SD acap diabailupakan.
Dimana-mana spanduk, iklan di media massa selalu bertajuk Reuni Akbar SMA/Perguruan
Tinggi Angkatan sekian dan seterusnya. Gebyar itu menunjukkan, betapa kita
miskin sikap bangga apalagi hormat terhadap tempat mula seorang anak diajarkan
baca tulis hitung.
Ah,
semoga aku bukan si Maling Kundang itu. Aku akan menyambangi SD-ku, guru-guruku
yang pasti kini telah uzur dan pensiun tidak karena hari ini adalah Hari Guru,  Aku kangen mencium tangannya. Aku akan –
minimal berterima kasih, telah diangkat dari 
kegelapan, ketidaktahuan, menuju ke tempat terang dan menjadi tahu
banyak hal.

* Guru, alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Rawamangun Jakarta (UNJ), tinggal di Jakarta




Baca Juga: Guru Juga Makhluk Politik

  • Bagikan