Aku Menulis, Maka Aku Ada

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Saat menyelesaikan atau finalisasi tulisan; ingat ada seorang Doktor berkunjung keruangan kerja dengan berkata sedikit protes, yang isinya beliau mengatakan bahwa belum sempat mencerna satu tulisan, bahkan belum sempat baca, ternyata sudah muncul tulisan baru; bagaimana itu bisa terjadi. Adegan sekelumit itu dibagikan kepada pimpinan media online ini; beliau tidak menjawab, hanya mengirimkan caption orang tertawa dan disertai kalimat yang menjadi judul tulisan ini.

Menerima kalimat itu menjadikan ingatan terfokus pada teori Cogito ergo sum. Itu merupakan ungkapan dari bahasa Latin yang diutarakan oleh Rene Descartes, filsuf ternama Prancis, yang artinya “Aku berpikir maka aku ada”. Ungkapan tersebut dimaksudkan untuk membuktikan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan manusia itu sendiri.

Hasil nukilan dari berburu makna, maka ditemukan bahwa (Kompasiana, diunduh 28 November 2021 Pk.18.20) Cogito ergo sum, berarti karena aku berpikir, maka aku ada. Frase sangat terkenal yang mengemukakan paham logika baru. Rene Descartes yang hidup antara 1596-1650, dalam kajian filsafat dikenal sebagai pendiri filsafat modern (Filsafat Barat, 2007, Zubaidah, dkk., Ar-Ruzz Media, Jogjakarta).

Ketika Rene Descartes berumur satu tahun ibunya meninggal. Peristiwa tersebut menjadikan trauma yang membuat Descartes selalu khawatir dalam hidupnya. Meskipun demikian, dia belajar di suatu sekolah di Prancis. Di sana dia belajar filsafat, logika, matematika dan fisika. “Aku ragu-ragu maka aku berpikir, karena aku berpikir, maka aku ada.” Inilah makna “Cogito Ergo Sum” yang menjadi sangat terkenal mengajarkan pemikiran sistematis. Bahkan perkembangan berikutnya paham inilah yang mendasari terbangunnya paradigma perpikir yang menjadi dasar kerangka pikir dalam penelitian.

Kita tinggalkan sejarah sejenak, kita ambil hikmanya; maka bertemulah kita pada kata kunci “aku ragu ragu maka aku berpikir”. Tampaknya kalau kita menggunakan teori ini dalam kehidupan, mau tidak mau harus selalu bertanya, termasuk pada diri sendiri, seperti tamu doktor pada kalimat pembuka di atas. Selalu bertanya menunjukkan kita berpikir, itulah pendapat teori ini. Kalau pada kalangan cerdik-cendikia masa lalu ada pepatah mengatakan “malu bertanya sesat di jalan”.

Filsafat inilah yang mendasari banyak pemikiran kaum cerdik pandai atau cendikiawan di belahan bumi ini. Maka Profesor Jujun Soerjasumantri mengatakan di situ pembeda antara ilmu dan agama; jika ilmu berangkat dari keragu raguan, sedangkan agama berangkat dari keyakinan. Adalah merupakan keharusan bagi ilmuwan untuk meneruskembangkan keraguannya yang akan menggiring membangun hipotesis, dan kemudian dibuktikan sehingga menjadi tesis baru, dan thesis baru ini kemudian berkembang menjadi antitesis baru. Proses ini terus dan terus berjalan sepanjang dunia ini masih tergelar. Dan inilah kemudian yang juga mendasari pemikiran dialektika oleh para filsuf lainnya, yang kemudian merasuk kebanyak pemikiran ilmuan dunia.

Tidaklah salah jika semboyan atau motto “Aku Menulis, Maka Aku Ada” merupakan jiwa korsanya ilmuwan. Karena dengan tulisanlah mereka meninggalkan jejak jaman pada masanya, dan ini akan dibaca sepanjang masa oleh penerus generasi manusia. maka anehlah jika yang menyatakan diri sebagai ilmuwan tidak pernah menulis pemikirannya, karena jika menulis itu tidak dia lakukan, berarti dia menafikan dirinya sendiri. Namun, kenyataannya banyak ilmuwan yang tersesat dalam menulis, sehingga hasil tulisan sebagai rekam jejak pikir, tidak menggambarkan sepenuhnya apa yang dipikirkan. Oleh karena itu, hasil buah pikirnya yang mungkin sangat cemerlang, hanya dapat dinikmatinya sendiri, kemudian dibawa mati. Ilmuwan serupa ini adalah ilmuwan yang ‘kurang piknik akademik’.

Soal tulis menulis ternyata ilmuwan punya saudara kembar yaitu wartawan. Wartawan sebagai Juru warta merupakan evolusi panjang dari “Juru Woro-Woro” (Bahasa Jawa = Orang yang bertugas memberikan pengumuman atau woro-woro keliling kampung dengan memukul Bende yaitu kenong kecil); kemudian menjadi juru warta yang memberitakan berita untuk disampaikan pada khalayak melalui tulisan. Jika melabeli diri sebagai wartawan tetapi tidak pernah menulis warta; maka samalah dengan ilmuwan tidak pernah menuliskan pemikiran.

Wartawan dan ilmuwan adalah saudara kembar yang beda emak dan beda bapak; namun memiliki penciri yang beda tipis. Jika ilmuwan harus menuliskan pemikiran, berdasarkan hasil kajian dari data temuan penelitian atau gagasan orsinalnya kepada khalayak atau paling tidak teman selingkung. Maka, wartawan harus menyampaikan fakta temuannya kepada khalayak yang lebih luas dengan aturan yang ketat. Mereka sama sama diikat oleh kode etik profesi yang harus dipertanggungjawabkan baik secara personal maupun institusi.

Mari kita meninggalkan jejak zaman melalui tulisan untuk generasi depan, dengan tulisan kita meneguhkan keberadaan kita hari ini, dan mengantarkannya pada masa depan. Dengan menulis kita dapat menggambarkan situasi kekinian dan sekaligus mengekspresikannya; sehingga kelak di kemudian hari kita jadikan penanda zaman; pada alur sejarah peradaban.

Selamat menulis, para sahabat. Dengan tulisan penanda kita ada.***

  • Bagikan