Beranda Views Opini Akuisisi Pertagas oleh PGN, Untung atau Rugi?

Akuisisi Pertagas oleh PGN, Untung atau Rugi?

760
BERBAGI
Ketua Yayasan Alfian Husin, Dr. Andi Desfiandi, M.A.

Andi Desfiandi

PGN dan Pertagas adalah BUMN yg memiliki usaha yang sama di bidang gas dari midstream ke downstream (hilir). Pertagas adalah anak perusahaan Pertamina, sedangkan PGN adalah BUMN yang sudah go public dengan kepemilikan saham mayoritas dimiliki negara.

Pemerintah berniat untuk membentuk Holding (Perusahaan induk) Migas yaitu Pertamina akan menjadi induk perusahaan BUMN yg bergerak di migas khusus menangani Upstream hingga Midstream (Hulu) dan PGN sebagai induk dari BUMN khusus migas yang menangani midstream hingga ke downstream (hilir).

Rencana akuisisi saham Pertagas oleh PGN patut diduga adalah bagian dari rencana pembentukan Holding Migas tersebut di atas dengan tahapan awal akuisisi saham pertagas oleh PGN. Dan kemudian akan dilakukan merger agar memudahkan aksi korporasi dari PGN kedepannya, akuisisi saham Pertagas tersebut menandai dimulainya “Corporate Restructuring” di tubuh BUMN yg bergerak di bidang migas.

Kemudian pertanyaannya apa untung dan ruginya dari aksi korporasi tersebut ? Atau apa maksud dan tujuan utama dari corporate restructuring tsb dalam hal ini akuisisi saham Pertagas ? Dalam teori merger and aquisition  hal tersbut dilakukan untuk mendapatkan keuntungan baik dalam sisi laba, modal, economic of scale, pendapatan yg lbh besar, cost efficiency dsbnya.

Akuisisi yang akan dilakukan oleh PGN tsb termasuk dalam katagori akuisisi horisontal dimana jenis usahanya sama. Sehingga apabila saham Pertagas diambil alih mayoritas oleh PGN maka Laporan Keuangan Pertagas bisa dikonsolidasi dan PGN memiliki kontrol terhadap pengelolaan Pertagas. Ketika akuisis tsb dilakukan maka PGN maupun Pertagas bisa menghemat biaya infrastruktur pipa gas termasuk biaya operasionalnya karena selama ini masing-masing membangun dan mengelola infrastruktur hilir yang sangat mahal.
Biaya operasional juga akan semakin rendah, struktur modal akan semakin kuat karena dapat dikonsolidasikan, pendapatan usaha juga akan semakin meningkat karena penggabungan, biaya investasi juga akan lebih rendah karena tidak ada lagi duplikasi, penghematan biaya pajak, dan sebagainya.

Kemudian apa yang didapat oleh Pertamina sebagai induk perusahaan Pertagas? Tentu saja yang sudah pasti adalah “Fresh Money” dari penjualan saham yg nilainya sekitar 16 Triliun untuk 51% saham dan juga terhindar dari rencana “CAPEX” untuk tambahan infrastruktur Pertagas yang sudah dianggarkan ratusan juta dollar bahkan miliaran dollar. Sehingga, Pertamina akan lebih sehat keuangannya karena mendapatkan tambahan modal yang cukup besar untuk memperbaiki kinerja keuangannya.

Akuisisi Pertagas tersebut sebenarnya adalah “Corporate restructuring” yang akan menjadi solusi bagi Pertamina dan juga PGN termasuk Pertagas dengan hanya sekali aksi korporasi.

Yang menjadi masalah adalah mengenai “Organization” karena apabila nanti dilakukan merger maka biasanya akan berakibat kepada “Downsizing Organization” yang artinya ada kemungkinan besar PHK karena memang tujuan akuisisi dan merger salah satunya adalah efesiensi.

Sehingga dibutuhkan juga kebijakan dari PGN dan juga Pertamina terhadap keberlanjutan Karyawan Pertagas dari bayang-bayang PHK pada masa depan.

Apakah PGN dan Pertamina misalnya juga sudah merencanakan aksi korporasi lainnya dengan rencana diversifikasi ataupun misalnya jaminan bahwa aksi korporasi yang akan dilakukan oleh pemerintah tidak akan merugikan karyawan.

Dan yang perlu juga diperhatikan bahwa tahapan dari “Corporate restructuring” tsb benar2 transparan, akuntable dan semata untuk kebaikan BUMN migas milik negara, selain memang tahapan akuisi tsb harus tetap mengikuti aturan dan perundang- undangan dan sesuai dengan “Good Corporate Governance”.

Wallahualu ‘alam.

Loading...