Beranda Politik Alumni 212 Tidak Paksakan Nama Koalisi Keumatan ke Partai

Alumni 212 Tidak Paksakan Nama Koalisi Keumatan ke Partai

792
BERBAGI
Ketua Garda 212 Ansufri Idrus Sambo dalam konferensi pers di Kemang, Jakarta, 13 Januari 2018. Garda 212 didirikan oleh Alumni 212 sebagai penyalur calon anggota legislatif ke empat partai, yaitu Gerindra, PKS, PAN, dan PBB. (Foto: TEMPO/Ahmad Faiz)

TERASLAMPUNG.COM, Jakarta — Mantan Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 Ansufri Idrus Sambo membebaskan partai-partai untuk memilih nama koalisi yang akan digunakan dalam pemilihan presiden 2019 nanti. Sambo mengatakan PA 212 tak akan memaksakan nama koalisi keumatan yang dicetuskan oleh pimpinan Front Pembela Islam sekaligus tokoh alumni 212 Rizieq Shihab.

“Terserah apa namanya, yang penting ini oposisi pemerintah, begitu,” kata Sambo ketika dihubungi Tempo pada Sabtu, 9 Juni 2018.

Baca: Golkar: Koalisi Keumatan Baru Sebatas Wacana, Bukan Kekuatan Baru

Koalisi keumatan ini dicetuskan oleh Rizieq Shihab kepada empat partai, yakni Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, dan Partai Bulan Bintang. Ia mendorong keempat partai bergabung dan menjadi penantang koalisi yang mengusung inkumben dalam pemilihan presiden 2019. Hal tersebut disampaikan saat Rizieq menerima kunjungan dari Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Sambo dan Slamet Maarif sebagai tokoh PA 212 ikut hadir dalam pertemuan yang dilakukan di Mekah itu.

Menanggapi itu, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid mengatakan partainya belum sepakat dengan istilah koalisi keumatan. Hidayat mengatakan nama koalisi itu sebaiknya yang bisa merangkul semua golongan. Kata umat, menurut dia, masih identik dengan kelompok Islam saja. “Sebaiknya nama itu yang kemudian bisa merangkum semuanya dan tidak menghadirkan perasaan terdiskriminasi,” ujarnya di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta pada Jumat, 8 Juni 2018.

Baca: Terkesan Diatur Rizieq Shihab, Demokrat Ogah Gabung Koalisi Umat

Sambo mengatakan perihal nama itu dapat diperbincangkan dan diputuskan bersama nantinya. Yang jelas, kata dia, koalisi tersebut sama-sama menganggap pemerintahan saat ini tidak sukses melaksanakan pembangunan. “Yang penting harapannya, ini oposisi yang tidak setuju dengan pemerintah sekarang, ya harus bersatu,” kata Ketua Garda 212 itu.

Sambo juga menanggapi pernyataan Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean ihwal posisi partai politik yang terkesan menjadi subordinat Rizieq. Sebelumnya, Ferdinand mengatakan partainya tak tertarik bergabung jika arah politik mereka kemudian ditentukan Rizieq.

Sambo mengatakan, relasi partai-partai dan PA 212 terjalin dengan setara, saling menghormati, dan berdasarkan asas saling membutuhkan. “Tidak mendikte yang lain, tdak men-subordinat, partai membutuhkan massa, massa membuthukan partai,” kata Sambo.

TL/tempo.co