Beranda Views Suara Publik Pria Asal Jetis Yogya Ini Dicari Anak Gadisnya yang Ditinggalkannya Sejak 17...

Pria Asal Jetis Yogya Ini Dicari Anak Gadisnya yang Ditinggalkannya Sejak 17 Tahun Lalu

473
BERBAGI
Supriyadi alias Dapri (kini berusia sekitar 51 tahun).
TERASLAMPUNG.COM, Waykanan — Alumni Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) PC Ansor Way Kanan Lampung bersimpati padan nasib yang dialami Oktavia Denada Arolla Kusuma Putri (17), gadis yang mencari ayahnya, Supriyadi alias Dapri.

Supriyadi adalah pria asli Jetis, Bantul, Yogyakarta yang lahir pada 1965. Ia pergi meninggalkan Denada saat Denada masih bayi.

Ketua Alumni Sanlat BPUN 2016 Riky Ryan Saputra, di Blambangan Umpu, Selasa (14/6) menjelaskan, Denada merupakan warga RT 003,RW 002, Kampung Sumber Tani, Kecamatan Buay Madang Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Provinsi Sumatera Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Way Kanan, Lampung.

“Bagi masyarakat yang mengetahui keberadaan Pak Supriyadi bisa menghubungi nomor 081540890056,” kata Riky.

Denada mengaku sekitar 1997 ayahnya yang bernama Supriyadi merantau ke Pulau Jawa. Setelah beberapa waktu mengirim surat pada kakeknya yang bernama Suraji meminta dijualkan tanah untuk bekal kerja di Korea, namun permintaan tersebut ditolak.

Sejak itu keluarga Denada di Waykanan tidak pernah mendengar kabar dari Supriyadi.

“Saya anak tunggal. Ibu saya namanya Murniati. Setelah cerai dengan ayah pada 1998, ibu kembali ke Belitang, Sumatera Selatan, sejak itu tidak ada lagi kabar mengenai ayah saya,” ujar gadis yang dilahirkan di Bekasi, 12 Oktober 1997 itu.

Denada mengaku dirinya mencari ayahnya setelah dirinya berusia 17 tahun karena ingin memastikan di mana keberadaan ayahnya. Denada ingin mematikan apakah ayahnya masih hidup atau sudah tiada.

“Saya juga ingin mendengar apa alasannya meninggalkan dan melupakan saya selaku anak kandungnya,” tuturnya.

Selain itu, Denada juga ingin memecahkan belenggu hidupnya selama ini.

“Apakah saya harus membenci atau menyayanginya karena tidak pernah menghiraukan saya. Kenapa saya mencarinya setelah umur 17 tahun karena saat inilah saya memiliki keberanian untuk mencari,” katanya.

“Saya hanya ingin seperti anak-anak pada umumnya yang mengetahui dan dekat dengan ayahnya. Saya ucapakan terima kasih kepada pemuda Nahdlatul Ulama tergabung dalam alumni Sanlat BPUN yang memprakarsai gerakan mencari ayah saya melalui media sosial dan media massa,” Denada menambahkan.