Beranda Hukum Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

344
BERBAGI
Terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman (tengah) menjalani sidang pembacaan vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat, 22 Juni 2018. (Tempo.co)

TERASLAMPUNG.COM — Majelis hakim memvonis terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman dengan hukuman mati dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat, 22 Juni 2018. Sebelumnya, beberapa kali Aman Abdurrahman dipidana akibat kasus yang sama.

Nama Aman Abdurrahman mulai dikaitkan dengan aksi terorisme sejak terjadi ledakan di rumah kontrakannya di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, pada 21 Maret 2014. Ia kemudian divonis tujuh tahun penjara karena terbukti melakukan perakitan bom yang menyebabkan ledakan. Aman mendekam selama lima tahun di Lembaga Pemasyarakatab Cipinang, Jakarta Timur.

Tak lama setelah bebas, Aman Abdurrahman kembali terjerat kasus pelatihan militer di Perbukitan Jalin Jantho, Aceh, pada 2010. Ia pun dipenjara di Nusakambangan, Jawa Tengah, hingga 12 Agustus 2017 setelah menerima remisi 20 bulan kurungan.

Bukannya bebas, Densus 88 Antiteror menciduk dan menggelandang Aman Abdurrahman ke Markas Komando Korps Brigade Mobile (Mako Brimob) Kelapa Dua, Depok. Ia didakwa sebagai otak dari serangan bom Sarinah di Jalan Thamrin pada 14 Januari 2016. Sejak itu ia menjalani penahanan di Mako Brimob hingga saat ini dan didakwa sebagai otak dari beberapa pengeboman di Indonesia.

Aman Abdurrahman juga didakwa berada di balik serangan bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur; bom di gereja di Samarinda, Kalimantan Timur; penyerangan kantor Kepolisian Daerah Sumatera Utara; serta penyerangan terhadap polisi di Bima, Nusa Tenggara Barat.

Dalam persidangan, majelis hakim yang dipimpin Akhmad Jaeni menyatakan Aman Abdurrahman terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme dan memberikan vonis maksimal yaitu hukuman mati. Pengacara Aman Abdurrahman, Asludin Hatjani, mengatakan akan pikir-pikir terlebih dahulu atas vonis tersebut.

Asludin mengatakan masih akan melanjutkan konsultasi dengan kliennya itu. Namun dia menambahkan, kemungkinan besar kliennya akan bergeming tidak akan melakukan banding. Kemungkinan itu terbaca dari lambaian tangan Aman Abdurrahman saat tim pengacara memilih untuk pikir-pikir terlebih dahulu ketika menjawab vonis hakim.

“Dari isyarat (Aman Abdurrahman), saya lihat dia tidak ada keinginan (banding). Saat saya menyatakan pikir-pikir, dia kelihatan menolak dengan melambaikan tangan,” ujar Asludin.

Tempo.co

Loading...