Beranda Ruwa Jurai Lampung Utara Ambil Uang Duka, Bendahara SMPN 1 Abung Semuli Diduga Palsukan Tanda Tangan

Ambil Uang Duka, Bendahara SMPN 1 Abung Semuli Diduga Palsukan Tanda Tangan

890
BERBAGI
Bukti tanda tangan Samiani, istri almarhum Tekatno yang diduga dipalsukan oleh oknum bendahara SMPN 1 Abung Semuli dalam pencairan uang duka alm. Tekatno.
Bukti tanda tangan Samiani, istri almarhum Tekatno yang diduga dipalsukan oleh oknum bendahara SMPN 1 Abung Semuli dalam pencairan uang duka alm. Tekatno.

Feaby Handana | Teraslampung.com

KOTABUMI–Kotabumi–Titing Satria Ningsih, oknum bendahara SMPN 1 Abung Semuli, Lampung Utara (Lampura) diduga memalsukan tanda tangan untuk mencairkan uang duka milik almarhum Tekatno dari Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Utara. Besaran uang duka sebesar Rp12.853.434 yang mestinya menjadi hak ahli waris itu diambil Titing pada tahun 2014 silam.

Pencairan dana itu sama sekali tanpa sepengetahuan ahli waris almarhum Tekadno. Samiani, istri almarhum Tekatno, baru tahu bahwa haknya sudah diambil orang lain saat dirinya  mendatangi kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Lampura pada awal Agustus 2015.

“Saat tanyakan ke Dinas Pendidikan, ternyata menurut pihak Disdik uang duka tersebut telah lama diambil oleh bendahara sekolah tempat alm. suaminya mengajar. Saya sudah beberapa kali nanya ke Bu Titing, jawabannya selalu belum keluar uang itu. Makanya saya sengaja tanya langsung ke Dinas Pendidikan, ternyata uang duka suami saya sudah diambil oleh ibu Titing pada tahun 2014 lalu,” kata Samiani, Sabtu (8/8).

Titing kaget karena dirinya  sama sekali belum pernah menandatangani Bukti Kas Pengeluaran (BKP) yang menjadi bukti pencairan uang duka milik suaminya tersebut. Dalam BKP tersebut terdapat tanda tangannya di atas materai Rp6000. BKP itu ditunjukan oleh pihak Disdik.

“Saya enggak pernah tanda tangan di BKP itu. Kalau saya enggak ke Dinas, pasti enggak tahu ini,” tegasnya.

Mendengar kabar tersebut, ia dan keluarganya langsung mencoba menghubungi bendahara SMPN 1 Abung Semuli untuk menanyakan uang duka itu.

Ia mengaku sempat dimarahi oleh oknum bendahara tersebut lantaran telah mendatangi kantor Disdik tanpa sepengetahuannya. “Dia bilang saya lancang ke sana tanpa beritahu dia dulu,” kata dia.

Kendati sempat dimarahi oleh oknum bendahara tersebut, akhirnya oknum itu mengembalikan uang duka yang memang menjadi hak keluarganya. Sayangnya, uang tersebut tidak dikembalikan secara utuh karena masih kurang Rp1 juta.

“Uangnya sudah dikembalikan tapi masih kurang. Saya harap insiden ini tak akan terluang lagi,” harap dia.

Di lain sisi, Titing saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (8/8) membantah sengaja menggelapkan uang duka tersebut meski uang itu baru ia kembalikan ke keluarga ahli waris pada bulan ini. Padahal, uang itu telah diambilnya pada tahun 2014 silam.

“Maaf mas, itu sudah beres. Tidak ada masalah,” kelit dia.

Meski begitu, ia tak menampik bahwa dirinya telah melakukan pemalsuan tanda tangan Samiani dalam BKP pencairan uang duka dimaksud. Menurutnya, pemalsuan tanda tangan itu tak menyalahi aturan karena selaku bendahara itu berhak melakukan itu.

“Yang penting kan sudah diberikan ke ahli waris. Sisa Rp1 juta akan diselesaikan dalam waktu dekat,” dalihnya.

Loading...