Anak yang Pandai Memantas-mantas Diri

  • Bagikan
Oleh: Ukim Komarudin*
Seorang teman jamaah masjid mengajak bicara secara khusus dengan saya di suatu subuh. Ia berbisik. Inti ceritanya mengungkap kebingungan yang mendalam karena anak gadisnya akan dipinang seorang direktur perusahaan terhormat. Saya mengerti kebingungannya karena bisa jadi ia merasa tak sebanding. Mungkin, ia khawatir kemiskinannya kini atau kelak akan menjadi perintang kebahagiaan ananda tercinta. Saya menguatkan hati teman saya dan meminta merapikan rumah sebisanya dan  seadanya. Saya katakan bahwa saya akan menemaninya jika keluarga direktur muda itu datang kelak.
Betul saja. Di hari yang disebutkan pihak keluarga calon besan datang. Nampak betul mereka keluarga terdidik dan terhormat. Bukan sebatas kendaraan yang dipakainya, tetapi dari cara berpakaian dan bersikap terhadap keluarga yang mereka datangi. Saya mengambil alih sebagai tuan rumah karena teman saya panas dingin mendapat anugrah ini. Ia banyak diam meski berusaha senyum yang diwajar-wajarkan. Pembicaraan kedua belah pihak diserahkan bulat-bulat pada saya. Ia dengan segala kebingungannya hanya bisa hadir dan duduk manis. Sesekali  dirinya menganggu untuk menyatakan persetujuannya.Lalu, hari pernikahan pun tiba. Lagi-lagi teman saya meminta saya menemaninya sepenuh acara. Saya juga yang diminta mengobrol dan menemani besan. Saya bingung khawatir melewati yang menjadi kewenangan saya. Tetapi, rasa kasihan membuat saya memenuhi permintaannya. Maka, jadilah saya tuan rumah Bapak hajat menemani dan menguatkannya berdampingan dengan besan kaya dan terhormat itu.
BACA JUGA:   Tentang Vaksin Covid-19

Selang waktu dan beragam kesibukan menyebabkan saya lupa permasalahan teman saya itu. Artinya, saya kurang tahu apakah rasa mindernya juga berkepanjangan. Sampai sebuah bingkisan dikirim  ke rumah oleh salah satu agen pengiriman yang cukup terkenal. Saya mau tak mau peduli pada bingkisan mewah  itu karena dengan jelas dialamatkan untuk saya. Ketika saya tanyakan kepada istri  terkait kiriman barang mewah itu ia membenarkan dan menyodorkan sebuah surat dengan amplop masih tertutup yang juga dialamatkan untuk saya.

Saya membaca tulisan yang ditulis tangan. Saya kaget sebab surat itu ditulis oleh besan teman saya itu. Isinya singkat tetapi mampu menyebabkan saya terharu.

Assalamu alaikum,
Sebelumnya saya mohon maaf apabila surat dan kiriman dari saya ini menggangu waktu luang Anda. Tetapi tolong dipahami bahwa saya menyampaikan hal ini dengan maksud baik. 


Taufik,  anak saya yang menikah dengan Annisa anak teman Anda adalah pasangan muda yang baik. Mereka saling dukung. Saling menyemangati. Saling bela dan saling menjaga keberkahan. Saya merasa sangat beruntung mendapatkan menantu seperti dia. Perusahaan anak kami semakin maju dan perilaku anak dan menantu kami makin menunjukkan  hormat kepada orangtua. 


Saking bahagianya kami, saya bersama istri pernah datang dan mengucapkan terima kasih kepada besan. Mereka adalah orang-orang yang berjasa bagi keluarga kami. Dari merekalah lahirnya perempuan baik yang begitu mulia yang mau menerima anak kami. Saya datang dengan hati tulus dan mengucapkan terima kasih itu secara langsung kepada mereka. Sayang, besan kami agak pendiam.  Padahal kami ingin banyak bicara  sebagai tanda rasa bahagia yang tak berkesudahan. 


Pak Ukim, terima kasih atas bantuan Bapak yang berkenan membuat acara lamaran dan pernikahan itu terlaksana dengan baik. Selalu, ketika anak saya berulang kali  berterima kasih karena diridhoi menikahi Annisa, di saat itu pula saya teringat besan saya yang hebat dan Bapak yang baik hati  yang berkenan menjadi jembatan keluarga kala itu sehingga pernikahan itu terjadi. 


Mohon doanya dari Bapak agar pernikahan anak kami mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. 


wassalamu alaikum,


Hidayat dan Keluarga

BACA JUGA:   Unpad Masuk PTN Terbaik di Indonesia

Saya terharu membaca surat itu. Saya turut berbahagia karena Annisa pandai menjaga kehormatan diri dan keluarga. Saya pikir, teman saya harus tahu bahwa dirinya pantas menjadi besan Pak Hidayat yang kaya raya itu.

* Kepala Sekolah SMP Labschool Kebayoran, Jakarta Selatan

  • Bagikan