Beranda Ruwa Jurai Lampung Utara Anggota Gafatar Lampung di Kalimantan Masih Ratusan Orang

Anggota Gafatar Lampung di Kalimantan Masih Ratusan Orang

90
BERBAGI
Seorang ibu eks anggota Gafatar membimbing anaknya turun dari bus rombongan eks. anggota Gafatar Lampung Utara yang dipulangkan dari Kalimantan Barat saat tiba di kompleks Islamic Center, Kotabumi. Minggu siang (31/1/2016).

Feaby/Teraslampung.com 

Kotabumi–Jumlah eks. pengikut Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) asal Lampung Utara (Lampura) yang masih tinggal di Kalimantan Barat diperkirakan mencapai ratusan jiwa.

Terungkapnya kemungkinan masih banyaknya eks. pengikut Gafatar ini diungkapkan oleh Rian (31), eks. pengikut Gafatar asal Lampung Utara yang baru saja tiba di Lampura, Minggu (31/1) siang.

Meski masih terlihat letih lantaran baru tiba di kompleks Islamic Center, Kotabumi yang menjadi tempat penampungan sementara, bapak dua anak ini dengan ramah melayani pertanyaan sejumlah wartawan yang ingin mengetahui seputar kehidupan mereka di Kalimantan.

“Saya tinggal Di Desa Segowa, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Di Desa itu masih ada sekitar 60 kepala keluarga yang belum dipulangkan ke Lampung Utara,” kata dia.

Bapak dua anak ini mengaku baik ia dan rekan – rekannya merasa sangat bahagia tinggal di sana. Lantaran di sana, mereka dapat bercocok tanam pada lahan yang mereka beli dengan harga yang terbilang murah yakni Rp1 juta/hektar. Sayangnya, belum sempat menikmati hasil panen, ia dan rekan – rekannya ‘dipaksa’ pulang ke Lampung Utara.

“Padahal, sebentar lagi panen. Tapi, kami sudah disuruh berkemas – kemas (pulang,red) oleh Polisi,” imbuhnya.

Rian menceritakan, selama tujuh bulan tinggal di Desa Segowa itu, ia dan rekan – rekannya yang dikoordinir oleh anggota Gafatar lainnya saling bekerja sama dalam menggarap lahan dan membangun rumah yang akan ditempati mereka masing – masing. Kerja sama itu diwujudkan dengan membentuk tim ekonomi dan tim pembangunan.

“Tim ekonomi tugasnya mengurusi cocok tanam. Kalau tim pembangunan itu tugasnya untuk membangun tempat tinggal. Untuk makan, kami juga sumbangan Rp7.000/hari,” urai dia.

Berbagai pengalaman baik yang didapatnya semasa mengikuti Gafatar membuat Rian heran mengapa Gafatar yang diikutinya begitu jelek citranya dan dikatakan sesat oleh masyarakat. Padahal, sepanjang pengetahuannya, Gafatar hanya berkonsentrasi pada hal – hal yang berbau sosial dan bukan organisasi yang berazaskan agama. Hanya saja, ia tak menampik jika pemimpin spiritual yang diikutinya ialah Ahmad Musadeq yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru.

“Betul, kalau guru spiritual saya itu Ahmad Musadeq. Tapi, dalam Gafatar kami diajarkan menjunjung tinggi nilai budaya bangsa dan dilarang untuk berzinah, membunuh, mencuri, dan berdusta,” kilahnya.