Beranda Kolom Sepak Pojok Angkutan Kota dan Teknologi Baru

Angkutan Kota dan Teknologi Baru

157
BERBAGI

Ratusan sopir dan pemilik angkutan kota (angkot) di Bandarlampung hari ini menggelar unjuk rasa di Pemkot Bandarlampung dan Pemprov Lampung. Mereka memprotes kehadiran angkutan online umum (ojek online, taksi online, dll). Mereka mengadu karena periuk nasinya terancam terbalik akibat minimnya pendapatan.

Ini bukan demo yang pertama mereka lakukan. Sebelumnya aksi menolak ojek online (Gojek) dilakukan para tukang ojek tradisional atau ojek pangkalan. Konflik antara tukang ojek dengan gojek pun lumayan masif dan membuat polisi harus bekerja keras meredam konflik.

Dari sisi pemberitaan, pada galibnya media berpihak kepada yang lemah. Dalam konteks angkot versus angkutan online dan tukang ojek tradisional versus gojek, sopir angkot dan tukang ojek adalah pihak yang lebih lemah (secara ekonomi) dibanding angkutan berbasis aplikasi online yang padat modal. Namun, di luar itu ada pihak ketiga yang juga bisa masuk kategori lemah: pemakai jasa angkutan dari kalangan menengah ke bawah.

BACA: Tukang Ojek Tradisional Rencanakan “Sweeping” Gojek di Bandarlampung Sejak Sebulan Lalu

Pemihakan media menjadi sulit ketika dihadapkan pada fakta empiris di lapangan. Dibandingkan dari sisi kemudahan saja, jasa angkutan online jauh lebih mudah. Harganya juga jauh lebih  murah. Pelayanannya pun lebih baik dan aman.

Angkutan berbasis online merupakan sebuah kemestian yang tidak bisa ditolak. Kehadirannya sebagai dampak kemajuan teknologi. Di sisi lain, kota yang makin berkembang pesat tidak memungkinkan moda angkutan dengan pelayanan yang buruk akan bertahan.

Bandarlampung termasuk kota yang angkutan umumnya brengsek dibanding kota-kota lain di Indonesia. Lihat saja bagaimana anak baru gede (abege) bisa menjadi sopir angkot, menjalankan kendaraannya ugal-ugalan, dan menyetel house music dengan salon besar dengan suara yang keras. Musik berdebam-debab seirama dengan hasrat sang sopir memacu kendaraannya. Kalau penumpang menegur, sang sopir bisa marah. Hubungan sopir dengan penumpang kerap tidak setara. Penumpang di bawah otoritas si sopir.

Hal itu sangat berbeda dengan ojek online atau jasa mobil berbasis online. Penumpang bisa berbincang layaknya kawan. Penumpang bisa menegur sopir jika sopir terlalu kencang membawa kendaraannya. Hubungan sopir dengan penumpang bisa setara.

Fenomena angkutan kota berbasis online tidak pernah terbayangkan ada pada sepuluh tahun lalu. Kini semuanya mengalami gegar (syok). Yang baru harus hidup, yang lama juga mesti bertahan. Masalahnya:kerap terjadi keinginan menang sendiri. Parahknya lagi jika keinginan menang sendiri dibarengi dengan aksi main hakim sendiri.

Kini, pemerintah daerah harus bisa menciptakan formula agar semua pihak tidak dirugikan. Tentu saja,menciptakan formula untuk mengatur bisnis angkutan di kota besar tidak mudah.

Oyos Saroso H.N.