Anomali Dinamika Atmosfer Pemicu Peningkatan Curah Hujan pada Musim Kemarau

  • Bagikan
Tangkapan layar hasil citra satelit di Indonesia pada Selasa, 5 Oktober 2021. Sumber:BMKG
Tangkapan layar hasil citra satelit di Indonesia pada Selasa, 5 Oktober 2021. Sumber:BMKG

Oleh: Ramadhan Nurpambudi
Prakirawan BMKG Lampung

Musim kemarau tahun ini rasanya tidak begitu kering. Selama periode musim kemarau masih sering turun hujan, bahkan dengan intensitas yang lebat. Hal ini memang sedikit di luar dugaan. Sebab, ketika monsun Australia sedang dalam fase kuat pun pembentukan awan-awan hujan malah sering terjadi. Umumnya ketika monsun Australia aktif dan arah angin mulai bertiup dari daratan Australia menuju ke daratan Asia akan langsung berimbas terhadap pembentukan awan-awan hujan yang minim untuk wilayah Lampung.

Pada saat tersebut udara kering akan membuat kelembapan udara di lapisan penting dalam proses pembentukan awan-awan hujan akan mengalami periode yang kering. Namun, hal ini tidak terjadi pada tahun ini.

Anomali kelembapan udara pada periode musim kemarau tahun ini menjadi salah satu faktor kuat mengapa masih banyak pembentukan awan-awan hujan. Baik itu kelembapan udara di lapisan 700mb dan juga di lapisa 500mb. Kedua ketinggian atmosfer ini menjadi paramater kuat dimana ketika kelembapan pada ketinggian tersebut basah maka proses pembentukan awan-awan hujan diyakini akan dengan mudah terbentuk. Bahkan jika kondisinya basah sampai ketinggian 500mb. Hal ini mengindikasikan awan yang nantinya terbentuk adalah awan Cumulonimbus yang dapat menghasilkan hujan dengan intensitas lebat, dapat disertai dengan angin kencang, dan juga petir atau kilat.

Lantas apa yang menjadi penyebab kelembapan udara masih dalam kondisi basah selama periode musim kemarau? Kami meyakini hangatnya suhu muka laut di wilayah barat dan timur Lampung yang menjadi salah satu kuncinya. Bahkan ketika gerak semu matahari bergerak ke belahan bumi paling utara pada bulan Juni yang lalu, kondisi suhu muka laut di wilayah Lampung masih menujukkan nilai anomali yang positif.

Anomali suhu muka laut yang positif menggambarkan kondisi lautan yang lebih hangat dibandingkan dengan kondisi rata-ratanya. Lantas apa yang menyebabkan anomali suhu muka laut masih tetap bertahan lebih hangat dibandingkan kondisi rata-ratanya sampai saat ini kamipun masih berusaha mendalaminya.

Curah hujan yang cukup tinggi pada periode musim kemarau bukan sekedar perasaan saja namun kami membuktikan dengan data pengamatan pada beberapa titik pos hujan yang tersebar di wilayah Lampung. Tercatat ada beberapa wilayah yang memiliki curah hujan lebih dari 100mm pada bulan Juni yang lalu yaitu wilayah Kota Agung, Pesisir Utara, Sekincau, Abung Kunang, Abung Tengah, Abung Selatan, Abung Barat, Abung Semuli, Bekri, Padang Cermin, Batu Ketulis, Bumi Agung, Ngambur, Pakuan Ratu, Batanghari Nuban, Bukit Kemuning, Metro Timur, Jati Agung, Kalianda, Marga Punduh, Kasui, Negeri Besar, Liwa, Banjar Agung, Pekalogan, Pesisir Tengah, dan beberapa wilayah lainnya. Bahkan di beberapa wilayah diatas curah hujannya diatas 200mm.

Selain itu, juga tercatat ada beberapa kejadian bencana hidrometeoroogi di fase musim kemarau (Juni-Juli-Agustus) yang lalu seperti kejadian puting beliung di Lampung Timur, banjir di Kalianda setinggi 1 meter, banjir di Semaka Tanggamus, banjir di Jalinbar Tanggamus, angin puting beliung di Bandar Lampung, dan juga Banjir di Sragi Lampung Selatan. Namun, ada hal positif dari kejadian ini yaitu kebakaran hutan dan lahan dan juga kekeringan air bersih tidak banyak terjadi untuk tahun ini karena curah hujan yang cukup sering turun.

Di sisi lain ternyata banyak badan meteorologi dunia termasuk BMKG yang menyatakan La Nina kembali aktif di tahun ini bahkan terus berlanjut hingga bulan Februari tahun depan. Hal ini tentunya akan semakin berdampak ke wilayah Indonesia terkait suplai pembentukan awan-awan hujan apalagi bulan ini saja sudah mulai masuk musim hujan untuk beberapa wilayah Lampung.

La Nina sendiri berdampak terhadap peningkatan curah hujan untuk wilayah Indonesia sebesar 40%, namun untuk wilayah Lampung prosentasenya tidak sampai sebesar itu. Hal yang menjadi perhatian bersama adalah ketika gelombang atmosfer aktif seperti MJO, Rossby, atau Kelvin dan melintasi wilayah Lampung. Hal ini memiliki dampak yang cukup signifikan akhir akhir ini terhadap distribusi hujan di sebagain besar wilayah Lampung.

Sebelum periode musim hujan semakin intens kedepan ada baiknya untuk wilayah yang memiliki tingkat kerawanan banjir dan tanah longsor agar bisa mengambil langkah pencegahan mulai dari sekarang, kerjasama dari semua pihak tentunya akan sangat berdampak. Jangan lupa untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca yang setiap hari dikeluarkan oleh BMKG melalui akun media sosial resmi.***

  • Bagikan