Beranda Views Sepak Pojok Antasari…. Tuhan Tahu Kebenaran, Tapi Tuhan Menunggu

Antasari…. Tuhan Tahu Kebenaran, Tapi Tuhan Menunggu

420
BERBAGI

Budi Hutasuhut

Berita besar hari ini sudah ditunggu publik bertahun-tahun lamanya. Antasari Azhar akan bebas setelah Presiden Joko Widodo mengabulkan permohonan grasi tentang pengurangan masa hukuman pidana dari 18 tahun menjadi 12 tahun.

Salut untuk Antasari Azhar. Luar biasa, ada manusia punya kisah hidup seperti dirinya. Di negara yang sangat menghargai hak asasi manusia (HAM) pula.

Ah, Antasari, nasibnya mengulangi riwayat Ivan Dmitrich Aksionov, tokoh dalam cerpen Leo Tolstoy berjudul God Sees the Truth, But Waits. Cuma, kalau Askinov mendapat pengurangan dan pembebasan hukum setelah kematiannya, alhamdulillah Antasari masih segar bugar.

“Saya ingin hidup bebas, berjalan-jalan di luar bersama cucu dan anak-anak saya,” kata Antasari.

Betapa mahal kebebasan bagi Antasari. Ia seorang pejabat negara, pemimpin pada sebuah lembaga negara yang punya peran penting dalam urusan memberantas korupsi. Tapi, karena lembaganya baru dan pengalaman lembaga itu belum matang, para koruptor yang sudah berpengalaman sepanjang sejarah manusia lebih cerdik.

Sebelum koruptor ditangkap Antasari Azhar atas nama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), koruptor lebih dahulu menyerang. Koruptor memang cerdik, pintar, dan menamatkan banyak buku strategi perang. Pertahan terbaik bagi koruptor adalah menyerang.

Tapi, ada yang tak asyik dari sikap Antasari Azhar, yang justru gembar-gembor ingin membongkar kriminalisasi yang menderanya. Ah, sekian tahun di dalam penjara, memang menyedihkan. Cuma, alangkah bagusnya bila hukuman itu membuat segala dendam itu jadi energi.

Belajar dari Aksionov, yang seumur hidup menderita, dan tahu siapa orang yang telah menjebaknya. Orang itu teman satu selnya, Semyonich. Tapi ia tidak pernah ingin menghukum orang Semyonich, dan tak mau mengadukan Semyonich yang ingn melarikan diri. Aksionov malah melindungi Semyonich, diam saja ketika ia dipaksa sipir penjara mengakui siapa diantara narapidana yang ingin melarikan diri.

Sikap Aksionov itu membuat Semyonich sangat terpukul. Ia telah menzolimi Aksionov, tetapi Aksionov malah melindunginya. Ia menangis, menyesali semuanya.

Seperti Aksionov, Antasari Azhar juga tahu siapa yang menzoliminya, menuduhnya sebagai pembunuh. Cuma, hidup Aksionov di dunia literasi, di negeri para Tsar yang Agung. Sedangkan hidup Antasari, di dunia nyata, di negeri tak ada Tsar kecuali dalam penegakan hukum.

Antasari, Tuhan tahu Kebenaran, tapi Tuhan menunggu agar kebenaran itu jadi dirimu.