Antek Asing

Ilustrasi
Bagikan/Suka/Tweet:

Oyos Saroso H.N.

Menjelang dan setelah Pemilu 2014 tiba-tiba sebuah wabah aneh berjangkit di Negeri Rai Munyuk: gila mendadak. Banyak orang sehat tiba-tiba menjadi gila. Bukan karena stres atau karena jagonya kalah. Entah karena apa. Yang paling pasti, gila itu mewabah seiring dengan derasnya teriakan “Antek asing lu ya?!”

Wabah gila terutama menyerang kawasan perkotaaan dan pinggir kota yang umumnya dihuni orang-orang terpelajar. Bahasa kerennya: kaum menengah perkotaan. Sementara di kampung-kampung yang rata-rata pendidikan penduduknya rendah, wabah itu tidak mau mampir. Kalaupun ada yang terjangkit wabah, yang kena paling banter adalah orang desa yang dulu pernah sekolah di kota.

Banyak para ibu terpaksa minta cerai karena tiba-tiba suaminya gila. Memang sih, para pria gila itu tidak seperti orang gila kebanyakan, yang biasa jalan ke mana-mana tanpa baju dan celana. Para pria gila itu tetap berpakaian necis, pergi ke kantor tiap hari, dan naik mobil yang suaranya wus-wus-wus … nyaris tak terdengar. Namun, begitu sampai kantor atau tiba di rumah, para pria gila itu akan bikin ulah yang aneh-aneh.

Di kantor, misalnya, mereka bukannya kerja tetapi justru melototin laptonya sendiri di meja kantor. Main fesbuk sambil ketawa keras-keras. Sesampai di rumah, mereka akan kembali membuka laptop dan main fesbuk sampai lupa makan. Bahkan, sama istrinya sendiri pun lupa. Istrinya tak pernah disentuh lagi.

Nah, baru-baru ini kabar kegilanaan itu sudah sampai tahap yang menakutkan. Para pria gila itu sudah mulai melepas bajunya. Bahkan, mulai ada yang melepas celananya. Yang menghebohkan, ada beberapa pria gila di pojok Desa Ringin Putih yang mulai membuang mobilnya ke sungai. Tentu saja, mobil itu jadi rebutan tukang rongsok dan pemulung.

Dari hari ke hari, makin banyak mobil bagus yang dibuang ke sungai. Sepeda motor yang dibuang ke sungai juga tak kalah banyaknya. Akibatnya, Desa Ringin Putih diserbu para pemulung dan tukang rongsok. Para makelar mobil dan motor bekas dari seantero Negeri Rai Munyuk juga berbondong-bondong datang ke Ringin Putih agar bisa membeli mobil dan motor dari para tukang rongsok dan pemulung.

Tiap hari terhitung ada ribuan pemulung dan tukang rongsok menyerbu sungai di Desa Ringin Putih. Mereka bekerja secara berkelompok. Satu kelompok anggotanya 7-10 orang. Setiap kelompok tiap hari bisa mendapatkan minimal 4 mobil yang dibuang pemiliknya.

Para pemilik mobil dan sepeda motor  itu tidak mau lagi memakai kendaraan, Ke kantor, ke pasar, cari seseran dll mereka hanya berjalan kaki. Mereka juga sudah ada yang ke kantor tanpa baju dan celana sehingga membuat karyawan perempuan lari terbirit-birit. Di kantor mereka hanya ketawa-tawa sambil main gaple. Laptop yang dulu sering dipelototi untuk untuk fesbukan sudah dibuang ke sungai.

“Laptop itu produk asing!” teriak mereka.

“Fesbuk bikinan orang Yahudi!” timpal yang lain.

Aku ora sudi dadi antek asing! Asing iku kumunis!” yang lain tak kalah keras berteriak.

 ***

Makin lama, jumlah orang gila makin bertambah. Tidak hanya terpusat di Desa Ringin Putih dan daerah perkotaan. Penyakit gila menghinggapi hampir separo jumlah penduduk  Rai Munyuk.

Makin banyak janda di Rai Munyuk karena para istri ogah punya suami gila. Namun, para istri yang pintar akan segera menyelamatkan harta suaminya lebih dulu sebelum harta berbau asing seperti mobil, sepeda motor, sepatu buatan luar negeri, baju dan celana impor, kulkas, tv, AC, itu dibuang ke sungai.

Lama-lama orang-oang gila itu tidak hanya gila.Mereka juga banyak yang bisu. Entah apa sebabnya. Mereka yang tidak bisu-bisu amat adalah orang gila yang bisa berbahasa ibu (bahasa daerah). Mereka yang tidak bisa bahasa daerah nyaris bisu atau setidaknya gagu karena mereka tidak mau bicara dengan bahasa Indonesia yang menurut Remy Sylado sebagian besar (9 dari 10 kata bahasa Indonesia) berasal kata-katanya berasal dari asing.

“aaa uuuu iiiaaaak aauuuuu aaaiiii aaaaaeeeeeeeek aaaa iiiiing!” teriak seorang gila yang gagu….

Baca Juga: Kesatria Menerima Kalah
Baca Juga: Kopi tanpa Gula
Baca Juga: Negara Kuat Versi Si Bendot dan Si Krempeng
Baca: Seorang Hantu Mati di Waktu Fajar
Baca Juga: Nonton Bal-balan di Kampung Senayan
Baca Juga: Hidup DPR! Hidup Karto Celeng!
Baca Juga: Rakyat Dipecat
Baca Juga: Untunglah Lidah SBY tidak Bertulang
Baca Juga: Bang Sat dan 3/4 Potong Semangka