Beranda News Nasional Antisipasi Krisis Energi, Kurtubi Usul UU Migas Segera Direvisi

Antisipasi Krisis Energi, Kurtubi Usul UU Migas Segera Direvisi

205
BERBAGI
Kurtubi

TERASLAMPUNG.COM — Anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi mengatakan meskipun potensi sumber daya migas di Indonesia masih sangat besar, tetapi ancaman krisis energi sudag ada di depan mata. Sebab itu, ia menyarankan UU Migas segera direvisi agar sistem tata kelola pengembangan sumber daya migas lebih sederhana dan tidak birokratis, sesuai koridor Pasal 33 UUD 1945.

Kurtubi menandasakan, perlu bagi pemerintah dan DPR untuk segera merevisi aturan ada dalam UU Migas dengan pola B to G-nya. Sebab menurutnya, pola inilah yang menyebabkan proses investasi selama ini menjadi panjang dan birokratis.

“Solusinya agar investasi explorasi bangkit kembali, sederhanakan sistem menuju pola B to B. Bubarkan dan gabung SKK Migas dengan NOC/Pertamina. Dan hapus pajak selama explorasi. Semoga sistem yang efisen dan sejalan dengan konstitusi bisa segera dilahirkan lewat UU Migas yang direvisi. Pilihan ada ditangan kita, tanpa itu ancaman krisis energi akan semakin nyata,” kata politisi NasDem ini, Selasa (30/5/2017).

Kurtubi mengatakan, secara geologis potensi sumber daya (resources) migas di Indonesia masih sangat besar. Ia tersebar di sekitar 120 cekungan baik yang ada di darat (onshore) atau di laut (offshore). Wilayah darat dan laut RI sangat besar. Luasnya hampir sama dengan benua Eropa atau daratan Amerika Serikat.

Namun untuk mengkonversi resources menjadi cadangan (reserves) untuk wilayah seluas Indonesia, dengan potensi sumber daya minyak mentah sekitar 50 miliarr barrel dan potensi sumber daya gas sekitar 200 tcf, dibutuhkan investasi explorasi yang besar.

“Faktanya sistem tata kelola saat ini masih didasarkan atas UU Migas No.22/2001. Sehingga kegiatan investasi explorasi anjlok. Sebab Pasal 31 UU Migas mewajibkan investor untuk membayar pajak dan retribusi meski masih pada tahap eksplorasi,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, ancaman krisis energi menghantui Indonesia akibat semakin tipisnya cadangan migas nasional. Menurut Dewan Energi Nasional, ini karena Indonesia masih mengandalkan migas sebagai sumber energi dalam beberapa tahun mendatang

Loading...