Antre

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Saat saya menerima tugas dari pimpinan untuk pergi ke perbatasan Indonesia menghadiri pertemuan penting, terpaksa saya  harus naik ‘burung besi’. Di sini persoalan mulai timbul karena harus mengikuti aturan baru untuk perjalanan jauh. Salah satu aturan itu harus mengantre berjarak dalam segala urusan. Dari melakukan “colok hidung” sampai dengan menaiki tangga pesawat; tidak kurang dua setengah jam waktu harus disediakan.

Antre adalah sudah biasa sebelumnya, Namun, begitu adanya virus Covid-19,  ada hikmah yang tersembunyi di balik itu. Salah satu di antaranya ialah kalau sebelumnya orang Indonesia terkenal tidak tertib jika di suruh antra, namun saat ini suka tidak suka antre harus dilakukan setiap apa pun yang dikerjakan, dan harus tertib.

Berbicara masalah antre jika kita mau merenung sejenak: sebenarnya sejak kita lahir di dunia ini kita sudah masuk antrian dari semua sistem sosial yang ada. Kita dituntut tertib memenuhi semua prosedurnya. Dari perkembangan kita harus mengikuti proses masa balita, kanak kanak, remaja dan dewasa.

Dari masa pertumbuhan juga kita harus mengikuti tahapan tahapan penguasaan akan keterampilan tertentu. Demikian juga halnya tugas sosial lain; seperti untuk menduduki jabatan tertentu harus melalui tahapan tertentu sebagai aturan sosial, yang semua itu sering disebut sebagai proses sosial. Oleh karena itu, dalam perjalanannya proses sosial dalam konteks “antre dan hidup”; memunculkan dua aliran besar, yaitu pendapat pertama mengatakan bahwa manusia hanyalah wayang dalam pentas semesta.

Dalang pertujukannya adalah Tuhan. Segala hal yang terjadi pada wayang adalah kehendak Sang Dalang. Wayang tidak memiliki kemampuan apa pun untuk memutuskan nasibnya sendiri. Ilustrasi di atas adalah saripati pemikiran aliran Jabariah yang kerap pula disebut fatalisme.

Dalam sejarah perkembangan ilmu kalam Islam, paham Jabariyah muncul sebagai respons pada lahirnya aliran Qadariyah. Apa perbedaan antara aliran Jabariyah dan Qadariyah yang paling mendasar? Perbedaannya terletak pada paham tentang bagaimana posisi di hadapan kuasa Allah SWT. Aliran Qadariyah meyakini bahwa manusia memiliki kekuasaan penuh atas perbuatannya sendiri. Adapun paham aliran Jabariyah berada di kutub sebaliknya. Dalam paham Jabariyah, pendapat Qadariyah yang menyatakan manusia memiliki kehendak yang bebas dan daya buat menentukan nasibnya sendiri, sudah melenceng dari ajaran Islam. Menjawab kemunculan Qadariyah, paham ini hadir menjadi aliran tersendiri (diunduh 3 Desember 2021 PKk 03.00 WIB).

Kedua aliran tersebut tidak akan ketemu sampai dunia ini kiamat, biarkanlah pertikaian abadi itu nanti Tuhan yang akan menghakiminya, namun dalam tulisan singkat ini ingin mengatakan bahwa konsekuensi hidup ini manusia diberi kewenangan untuk mematut diri mengikuti antrean dalam hal apa pun, serta usaha bagaimana menjadi warga yang baik untuk menjalani proses antre. Sedangkan ujung di mana antrean berakhir itu sudah menjadi wilayah Tuhan. Dengan kata lain:  wilayah usaha ada pada wilayahnya manusia, sedangkan wilayah ketetapan ada pada wilayah keilahian.

Tidaklah salah jika ada sub aliran yang mengatakan bahwa manusia di dunia ini ibarat “mampir ngombe” (singgah sejenak untuk minum) dalam proses perjalanan ke alam keabadian. Berarti jika kita maknai maka manusia itu tidak lama hidup di dunia, ibarat orang dalam perjalanan jauh, sejenak singgah untuk minum, kemudian melanjutkan perjalanannya lagi.

Lalu apa hikmah yang terkandung dalam antrean?  Pertama, menyadarkan kita bahwa pada akhirnya semua mahluk ciptaan NYA, akan memasuki antrian kematian; hanya soal waktu kapan, itu adalah wilayah keilahian, oleh karenanya kita mengenal daftar cabut bukan daftar urut, karena semua mahluk tidak mengetahui kapan waktunya mati.

Kedua, menyadarkan makhluk di dunia ini, termasuk manusia tentunya, memiliki waktu yang singkat, karena harus berperan di banyak tempat pada waktu yang sama untuk mengambil posisi antre. Untuk setiap makhluk berbeda beda posisinya. Oleh karena itu, setiap waktu ada orangnya, setiap orang punya waktunya.

Semua di atas diteguhkan dalam kitab suci sebagai petunjuk dari Yang Maha Memiliki Waktu , “Demi waktu (Ashar). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” ( QS al-‘Ashr).

Petunjuk sudah ada, antrean sudah tersedia, tinggal bagaimana manusia sebagai makhluk Tuhan melakonkan perannya. Namun demikian, ada wilayah yang tidak akan mungkin manusia mengaturnya, yaitu sang waktu itu sendiri yang berkaitan dengan kapan kita mendapatkan rezeki, jodoh, bala, dan maut. Itu semua wilayah keilahian.

Selamat ngopi pagi.