Beranda Views Opini Apa Kabar Sektor Informasi dan Komunikasi Selama Pandemi Covid-19?

Apa Kabar Sektor Informasi dan Komunikasi Selama Pandemi Covid-19?

346
BERBAGI
Zulfikar Halim Lumintang, SS/Ist

Oleh : Zulfikar Halim Lumintang

Ancaman Covid-19 memang tidak main-main. Tercatat semanjak per 3 Juni 2020, jumlah pasien positif sebanyak 28.233 jiwa. Jumlah tersebut tentu sangat fantastis. Dan sampai saat ini, pasien positif masih terus bertambah. Kurva yang melandai pun sama sekali belum terlihat.

Kita semua menyadari bahwa jika jumlah pasien terus bertambah, sedangkan personil tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan tidak bertambah. Maka yang akan terjadi adalah semakin banyaknya pasien positif yang tidak terisolasi dengan baik di rumah sakit. Efeknya, jumlah pasien yang meninggal juga akan melonjak. Tercatat per 3 Juni 2020 sudah mencapai 1.698 jiwa atau setara dengan 6,01% dari total pasien positif.

Oleh karena itu, kebijakan untuk tetap berada di rumah, keluar jika ada hal yang penting saja, rasa-rasanya harus lebih diperketat lagi. Kesadaran inilah yang nampaknya kendor akhir-akhir ini. Terlihat sudah mulai banyak masyarakat yang lalu lalang di jalan, melakukan kegiatan kumpul-kumpul yang tidak penting, dan lain sebagainya. Mungkin wabah ini memang tidak membahayakan mereka, tetapi masih banyak orang yang berpotensi tertular oleh mereka di sekitarnya.

Kebijakan #dirumahaja memang hampir mematikan semua sektor lapangan usaha di Indonesia di awal pandemi Covid-19. Oleh karena itu pemerintah berupaya untuk segera memulihkannya dengan agenda new normal. Ternyata, pada saat awal pandemi ini terjadi, masih ada sektor lapangan usaha yang tidak terdampak sama sekali olehnya. Yaitu sektor informasi dan komunikasi. Sektor tersebut meliputi telekomunikasi, aktivitas penerbitan baik itu buku, majalah, game, produksi gambar, program televisi, penyiaran, dan lain sebagainya.

Ya, itu dirasa wajar karena waktu banyak habis di rumah. Akibatnya, menjelajah dunia virtual yang menjadi sasaran. Ketika waktu untuk menjelajah dunia nyata dibatasi. Namun, seperti apa kondisi sebenarnya di lapangan? Bagaimana detail sektor ini dapat bertahan ditengah pandemi?

Fakta Lapangan

Pada masa awal pandemi Covid-19 ini, tepatnya triwulan I 2020. Jika dilihat dari kontribusi sektor informasi dan komunikasi sangat terlihat efeknya. Jelas meningkat. Pada triwulan I 2020 kontribusi sektor informasi dan komunikasi mencapai 4,25%. Meningkat 0,22 poin dari triwulan IV 2019, yang mencapai 4,03%.

Demikian juga secara nilai yang disumbangkan juga mengalami peningkatan. Tercatat nilai PDB pada triwulan IV 2019 sektor informasi dan komunikasi mencapai Rp 162.056,30 miliar. Kemudian pada triwulan I 2020 nilai PDB sektor informasi dan komunikasi berhasil mencapai Rp 166.863,00 miliar.

Kemudian, hasil evaluasi Bank Indonesia pada triwulan I 2020 menunjukkan bahwa kegiatan usaha subsektor komunikasi mengalami penurunan tapi masih terakselerasi. Hal tersebut ditunjukkan oleh Saldo Bersih Tertimbang (SBT) subsektor komunikasi yang menyentuh angka 0,04%. Angka tersebut lebih rendah dari triwulan IV 2019 yang tetap dengan SBT 0,28%. Ya, shock diawal pandemi adalah hal yang wajar.

Namun, Bank Indonesia memprediksi bahwa subsektor komunikasi akan mengalami peningkatan kegiatan usaha pada triwulan II 2020. Dan kegiatan usaha yang juga tetap mengalami akselerasi. Hal tersebut ditunjukkan dengan SBT yang mencapai 0,25%.

Sejalan dengan kegiatan usaha yang menurun pada triwulan I 2020, realisasi penggunaan tenaga kerja subsektor komunikasi juga mengalami hal yang sama. Namun realisasi penggunaan tenaga kerja subsektor komunikasi, sampai mengalami kontraksi. Ditandai dengan SBT mencapai angka -0,05%. Realisasi tenaga kerja tersebut turun dibandingkan triwulan IV 2019, yang mengalami akselerasi di angka 0,00%.

Sama persis dengan ramalan kegiatan usaha pada triwulan II 2020. Bank Indonesia juga memprediksi bahwa realisasi penggunaan tenaga kerja pada triwulan II 2020 sudah mengalami akseleraksi. Hal tersebut ditunjukkan dengan SBT yang mencapai 0,06%.

Bijaklah, Wahai Warga….

Sektor informasi dan komunikasi merupakan salah satu sektor yang bisa bertahan pada saat terjadi pandemi Covid-19. Bahkan, mungkin akan memiliki pertumbuhan yang lebih baik nantinya. Pandemi Covid-19 seakan-akan mewajibkan kita untuk selalu punya paket internet dan paket telepon. Hal inilah salah satu alasan yang menjadikan sektor ini aka “laku” ditengah pandemi.

Pemerintah pada awal pandemi ini, mewajibkan semua kementerian dan lembaga untuk merevisi anggaran APBN masing-masing yang akan dialihkan untuk percepatan penanganan Covid-19 di Indonesia. Termasuk yang dialihkan penggunaannya adalah biaya perjalanan dinas PNS. Baik itu ke dalam/luar kota maupun luar provinsi. Fungsinya adalah agar PNS tidak melaksanakan perjalanan dinas terlebih dahulu, demi memutus rantai penyebaran virus.

Akhirnya, Komunikasi yang tadinya dilaksanakan secara manual dan tatap muka, dengan sekejap menjadi virtual saja. Mulai dari presensi. Selama ini, PNS presensi menggunakan mesin handkey, dimana mereka harus pergi ke kantor terlebih dahulu untuk melaksanakannya. Tapi sekarang, saat Work From Home (WFH), yang terjadi adalah para PNS tidak perlu repot-repot lagi ke kantor. Cukup dari rumah dan menggunakan aplikasi sesuai instansi masing-masing. Kaizala contohnya.

Kemudian untuk keperluan rapat. Dimana sebelum pandemi, mengharuskan kita untuk tatap muka dalam melaksanakannya. Dan lagi, selama pandemi Covid-19, kita mengubah kebiasaan rapat tatap muka langsung menjadi “rapat online”. Contoh aplikasi yang digunakan adalah Zoom. Menggunakan aplikasi tersebut, para peserta bisa bergabung

dalam rapat cukup dengan klik link undangan rapat dan memasukkan password yang dibutuhkan. Setelah itu, mereka bisa bertatap muka virtual.

Demikian juga untuk keperluan pelatihan dan seminar. Bisa menggunakan tambahan aplikasi GDrive dan Youtube untuk berbagi materi yang telah dibahas. Sehingga nantinya materi bisa dipelajari berulang-ulang oleh peserta. Kebutuhan online tidak hanya diperlukan bagi para PNS saja. Bagi mereka para pegawai swasta, BUMN, bahkan anak sekolah pun juga memerlukannya.

Belum lagi pemakaian media informasi semacam televisi juga pasti akan meningkat, disaat banyak waktu yang dihabiskan di rumah. Serta butuhnya asupan informasi terkini mengenai apa yang sedang terjadi saat ini. Jadi, sektor informasi dan komunikasi ini bisa tetap kokoh ditengah pandemi, dikarenakan memudahkan segala keperluan kita pada saat ini.***

 *Zulfikar Halim Lumintang, SST adalah Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara

Loading...