Beranda Views Opini ‘Area Lockdown’ Sebagai Strategi Pencegahan Penyebaran Virus Corona

‘Area Lockdown’ Sebagai Strategi Pencegahan Penyebaran Virus Corona

730
BERBAGI
I.B. Ilham Malik

I.B. Ilham Malik*

Kini kota-kota lain di luar Jakarta sudah punya Pasien Dalam Pengawasan atau PDP virus corona (Covid-19). Dari mana pasien ini? Mereka adalah orang-orang yang memiliki  riwayat perjalanan ke sebuah wilayah yang diidentifikasi sebagai pusat penyebaran virus corona. Mereka kemudian melakukan kontak lagi orang-orang lain sehingga jika ia positif mengidap virus corona ia pun berpeluang menularkannya kepada orang-orang yang baru ditemuinya itu.

Hal itu juga terjadi pada PDP yang ada di Lampung. Kalau menyimak kasus di Lampung, rupanya tiga PDP yang saat ini ada di Lampung punya riwayat melakukan perjalanan ke luar kota dan berinteraksi dengan pengidap Covid-19.

Kisah ini menyadarkan kita, bahwa melakukan perjalanan ke luar daerah, misalnya, telah melahirkan persoalan bagi warga dalam daerah asal itu. Termasuk, tentu saja, masuknya warga luar ke dalam daerah kita, telah juga melahirkan berbagai kemungkinan tertular.

Kini, teman-teman, di dalam kota kita, sudah mulai ada penambahan PDP. Bolehkah kita khawatir? Ya tentu saja boleh. Dan bahkan harus. Apalagi ada rekan birokrat yang terkena. Sedih, tapi juga khawatir. Ia telah berinteraksi dengan banyak temannya, dalam ruangan, dan ini menimbulkan peningkatan Orang Dalam Pemantauan (ODP). Juga dengan keluarganya.

Jika gagasan lockdown seperti yang dilakukan Wuhan dan Italia sudah tidak lagi bisa dibahas dan dipertimbangkan, karena sudah diputuskan tidak boleh oleh pemerintah dan presiden, maka kita perlu gagasan lain. Perlu format lain lockdown. Pemerintah menerapkan kebijakan agar warga mengambil jarak atau social distancing dengan warga lainnya. Namun, social distancing ini dianggap sepele oleh warga.

Lihatlah apa yang terjadi di sekitar kita: konsep social distancing ternyata tetap membuat orang bisa dengan mudah melakukan perjalanan antardaerah. Akibatnya, daerah yang pada awalnya tidak terpapar, menjadi terpapar Covid-19. Hal ini karena orang dari daerah yang terpapar bisa masuk dengan bebas ke mana-mana, termasuk ke daerah yang tidak/belum terpapar.

Tapi ide lockdown klasik, dengan mengunci aktivitas warga hanya di dalam rumah, juga bukanlah gagasan yang baik bagi ekonomi warga, ekonomi daerah, dan ekonomi bangsa kita. Kita tahu keterbatasan energi pemerintah. Tidak mungkin bagi negara untuk mengunci warganya. Tidak mungkin. Tetapi, kita ada opsi lain. Apa itu? Area Lockdown!

Area lockdown adalah suatu bentuk larangan bagi warga untuk keluar daerah daerahnya, dan melarang orang dari daerah lain untuk masuk ke daerahnya. Ibaratnya Jakarta. Orang Jakarta silahkan saja beraktivitas di dalam Kota Jakarta meskipun tetap harus patuh dengan aturan social distancing. Tetapi, tidak boleh ada yang bisa keluar dan masuk ke dalam wilayah Jakarta. Kunci pintu keluar/masuk. Kecuali untuk bahan makanan dan barang lainnya. Atau hal darurat lainnya. Protokol soal ini bisa kita buat.

Area lockdown akan tetap menghidupkan aktivitas warga. Ekonomi masih tetap bisa berjalan. Kehidupan daerah/kota masih tetap bisa dirasakan. Dan ini akan bisa membuat optimisme warga tetap terbangun. Gotong royong akan muncul, karena interaksi warga tetap ada, meskipun social distancing tetap dijalankan dengan baik.

Area lockdown ini cara kita berdamai dengan situasi yang ada saat ini. Social distancing masih memiliki probabilitas penyebaran tetap tinggi. Lockdown mematikan masa depan dan melemahkan kemampuan pemerintah. Berbeda dengan lockdown, area lockdown bisa menurunkan risiko sebaran, tetapi tetap bisa menghidupkan ekonomi daerah/kota. Kita boleh menyebut area lockdown ini dengan sebutan apa pun. Urban lockdown atau city lockdown. Tapi intinya: kunci daerah kita. Jangan ada orang keluar masuk daerah kita untuk sementara.***

Dr. Eng. Ida Bagus Ilham Malik adalah staf pengajar Fakultas Teknik Unversitas Bandar Lampung (UBL),  Alumni Graduate School of Environmental Engineering, Kitakyushu University, Jepang

 

Loading...