Beranda Ekbis Kuliner Aris Memoles Untung dan Gurihnya Laba dari Usaha Nasi Bakar

Aris Memoles Untung dan Gurihnya Laba dari Usaha Nasi Bakar

2139
BERBAGI
Aris Setiawan (36), Dusun Krajan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan yang kini merintis usaha nasi bakar aneka rasa.

Zainal Asikin |Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Berkali-kali gagal membangun usaha, tidak memupuskan harapan dan semangat Aris Setiawan (36) untuk berwirausaha. Bapak dua orang anak warga Dusun Krajan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, ini pun akhirnya sukses menggeluti usaha kuliner nasi bakar setelah melewati upayanya yang gigih.

Nasi bakar buatan Aris disebut “Nasi Bakar LS”. Ini bukan seperti nasi bakar biasa, sebab Aris mengolahnya menjadi nasi bakar dengan aneka rasa.

BACA: Nasi Bakar Aris Diburu Pencinta Kuliner di Sidomulyo

Umumnya nasi bakar menggunakan nasi uduk sebagai bahan dasarnya. Namun, buatan Aris berbed. Ia memadukan nasi putih yang dicampur aneka racikan bumbu dan diberi isian daging ayam, kambing, hati-ampela ayam, cumi, udang serta diberi tambahan telur puyuh dan daun kemangi. Semuanya kemudian  dibungkus dengan daun pisang.

“Nasi bakar ini bahannya dari beras yang dimasak terlebih dulu lalu di karon (dicampur) pakai aneka racikian bumbu. Prosesnya butuh waktu dua jam. Setelah itu, nasi didinginkan terlebih dulu,baru diberi isian daging, telur puyuh dan daun kemangi lalu dibungkus daun pisang,”tuturnya saat ditemui teraslampung.com di rumahnya, Rabu 13 Februari 2019 sore.

Dikatakannya, bumbu yang digunakan, seperti bawang merah, bawang putih dan bawang bombay, cabai, garam, sere, penyedap rasa dan aneka bumbu lainnya. Untuk menambah aroma kelezatannya, diberi daun kemangi.

Nasi yang sudah dibungkus daun pisang dan siap saji itu, kata Aris, mulai proses dibakarnya diatas bara arang pada saat ada pembeli. Selain gurih, cara itu digunakan agar membuat tekstur nasi bakar memiliki aroma khas dari daun pisang. Selain itu juga, nasi bakar yang disajikan ke pembeli masih dalam kondisi baru matang.

Varian rasa nasi bakar yang ditawarkan Aris pun tergolong inovatif, ada nasi bakar isi daging ayam, nasi bakar isi daging kambing, nasi bakar isi cumi, nasi bakar isi udang dan nasi bakar iai ati ampela dan diberi tambahan telur puyuh, sosis dan diberi daun kemangi. Karena kreasi dan inovasinya itu, tak heran Aris mampu meraup omset dari usaha kulinernya puluhan juta rupiah dalam per bulan.

“Satu porsi nasi bakar aneka varian rasa ini dijual seharga Rp 10 ribu. Setiap harinya, saya buat 10 Kg atau sekitar 70 bungkus nasi bakar dan modal yang dikeluarkan Rp 500 ribu,”ujarnya.

Aris menceritakan, bakat dagang dan usaha makanan yang mengalir dalam dirinya, bukanlah warisan dari keluarga. Melainkan ia dapatkan saat bekerja sebagai juru masak. Sebelumnya, bekerja sebagai buruh serabutan. Tahun 2010, Aris pergi merantau untuk mencari pekerjaan lain di wilayah Bogor, Jawa Barat.

Karena sulitnya mencari pekerjaan di perusahaan, alumnus Madrasah Aliyah Mathlalul Anwar (MA) Sidorejo tahun 1999 ini, akhirnya bekerja di Pondok Pesantren Ibnu Taimiyah, yakni di bagian dapur. Di tempat itulah Aris mendapatkan ilmu memasak aneka menu makanan.

“Tiga tahun saya kerja di dapur jadi juru masak di Ponpes itu, tahun 2014 saya pulang ke Lampung dan mencoba buka usaha kuliner sendiri. Tapi saya belum buat nasi bakar isi aneka varian rasa ini, hanya nasi bakar biasa saja,” katanya.

Pada tahun 2016, Aris memutuskan mencoba merintis usaha kuliner nasi bakar. Satu tahun berjalan, Aris belum menemukan rasa yang pas. Alhasil, penjulan kulinernya terbilang masih stagnan dan tidak mengalami peningkatan. Bahkan Aris cenderung merugi, karena bara arang harus tetap menyala dan hanya beberapa kali saja digunakan untuk membakar olahan nasi bakarnya.

Selanjutnya, Aris mencari cara untuk memanfaatkan bara arang, ia pun kemudian mengutak-atik dari berbagai sumber di google. Akhirnya, didapat menu racikan resep bumbu nasi bakar yang pas dan khas hasil inovasinya sendiri. Jika sebelumnya hanya nasi bakar isi daging ayam, Aris membuat nasi bakar dengan banyak varian rasa seperti nasi bakar isi daging kambing, nasi bakar isi cumi, nasi bakar isi udang dan nasi bakar ati ampela dengan ditambah telur puyuh.

“Di tahun 2017 itulah, adanya peluang cukup menjanjikan dan menjadi awal bagi saya dan istri Umi Sa’adah (37) memulai usaha kuliner nasi bakar aneka varian rasa tinggal bagaimana menyesuaikan seleranya saja. Hasilnya, menu nasi bakar aneka varian rasa hasil inovasinya diminati dan diburu para pecinta kuliner,”ungkap bapak dua orang anak ini.

Karena menghadirkan menu baru, lebel usaha kuliner Aris diberi nama “Nasi Bakar LS”. Nama LS sendiri, sengaja digunakan untuk mengangkat nama Lampung Selatan. Label tersebutterpampang jelas di banner yang dipasang di gerobak kulinernya di area lapangan sepak bola Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo yang dijadikan tempat wisata kuliner malam Deswita Linerrejo (Desa Wisata Kuliner Sidorejo).

Agar semakin dikenal, Aris sering membagikan tester nasi bakar aneka varian rasa hasil kreasinya itu kepada pengunjung yang datang di wisata kuliner malam Deswita Linerrejo. Menurutnya, bahwa bagi-bagi tester itu bertujuan agar pengunjung yang datang mengetahui cita rasa nasi bakar hasil inovasinya itu. Selanjutnya, proses promosi berlangsung alami dari mulut ke mulut para pengunjung.

Meski hanya mengandalkan promosi sederhana, namun cita rasa nasi bakarnya yang gurih dan lezat ini, membuat tempat usaha kulinernya itu selalu ramai dipenuhi pembeli. Hanya berselang tiga jam, nasi bakar Aris sudah ludes terjual. Alhasil, Aris pun mampu meraup omset terbilang cukup fantastis.

“Kalau paling ramai pembelinya di Deswita Linerrejo itu malam minggu, biasanya saya buat hanya 10 Kg tapi kalau malam itu saya buatnya 12 Kg dan itu sudah pasti ludes semua,”terangnya.

Saat ini, usaha kuliner nasi bakar aneka rasa miliknya, paling diburu masyarakat pencinta kuliner di kecamatan Sidomulyo dan sekitarnya di Kabupaten Lampung selatan . Menurutnya, omzet usaha kuliner nasi bakarnya saban hari mencapai Rp 500 ribu. Jika dihitung dalam sebulan, omzet kotor yang didapat Aris mencapai Rp 15 juta. Setelah dipotong biaya beli bahan baku, bayar gaji pegawai dan biaya operasional lainnya laba bersih yang saya dapat Rp 10 juta atau sekitar 75 persen.

“Alhamdulilah dari usaha kuliner nasi bakar aneka varian rasa yang saya geluti selama dua tahun hingga sekarang ini, lebih dari cukup keuntungannya ya bisa untuk membiayai kebutuhan keluarga, buat rumah dan lainnya,”pungkasnya.

Loading...