Arsitektur Kengerian Perpustakaan

  • Bagikan
Arsitektur Kengerian Perpustakaan
Oleh Lutfy Mairizal Putra *
“Aku membayangkan surga itu menjadi semacam
perpustakaan,” ucap
Jorge Luis Borges. Bayangan itu mungkin pernah singgah dalam benak kita. Ucapan Borges bagi kita adalah sebuah harapan besar.
Perpustakaan menjadi sebuah surga, disana adaimajinasi dan pengetahuan yang tak mencapai titik akhir. Kata berkelindan menyelusup dan mengajak
pembaca ke padang imajinasi nan indah sekaligus liar.
Arsitektur Sumber
Kengerian
Jika mendengar seseorang menyebut
perpustakaan, hampir tak ada bayangan indah dalam benak kita. Apa yang terimajinasikan  adalah sebuah gedung tua nan menyeramkan.
Hampir tak ada suasana hangat terpancar. Kita merasa seperti memasuki gedung
tua yang dingin dan tak terurus. Berada di depan perpustakaan saja sudah
menimbulkan kesan menjemukan.
Tak ada niatan serius dalam mengelola
perpustakaan. Pengelola perpustakaan seperti asyik menunggu seseorang yang
hendak “bunuh diri”. Mengorbankan dirinya masuk dalam kengerian-kengerian. Kita
bisa memahami kenapa masyarakat enggan mengunjungi perpustakaan. Pilihan yang
tak menyenangkan untuk menikmati manisnya ilmu. Apalagi hanya untuk sekedar
mengisi waktu luang.
Perpustakaan tak dibuat sebagai tempat yang
menyenangkan. Sumber kengerian pada perpustakaan, salah satunya, berasal dari
arsitektur. Ruang perpustakaan akan menentukan apakah seseorang kerasan berada
di dalamnya. Efek psikologis ruang yang sudah terganggu akan menyurutkan
seseorang kerasan membaca. Hampir tak ada perpustakaan yang membuat kita
bergelora sebelum melangkahkan kaki ke dalamnya.
Buku menjadi media sederhana bagi kita untuk menjelajahi waktu.
Walaupun duduk terdiam, pembaca berubah menjadi nomad. Pembaca menjelajahi tahun demi tahun, abad demi abad.
Menelusuri sejarah memahami dunianya dan menciptakan dunia barunya. Namun,
dalam perjalanan nomad menjadi hal
yang harus diwaspadai. Perpustakaan memasang kamera pengintai. Membaca
mengandung hal yang mencurigakan sehingga perlu diawasi. 
Mengintip
Perpustakaan Tetangga
Kita bisa membandingkan arsitektur perpustakaan
kita dengan perpustakaan negeri lain. Austrian National
Library
, perpustakaan terbesar di Wina yang berada di Istana Hofburg. Arsitektur perpustakaan
menggunakan konsep gaya klasik barok. Abbey
library of St Gallen
, perpustakaan yang berada di gereja Carolingan, Swiss.
Arsitekturnya menggunakan gaya Rukoko. UNESCO telah mengakuinya sebagai situs
warisan dunia.
Bagaimana dengan arsitekur modern?
Perpustakaan dengan arsitektur modern, salah satunya adalah Library of Birmingham. Kali pertama
melangkah, kita dibuat takjub. Tak menyangka bangunan itu adalah sebuah
perpustakaan. Pembangunan perpustakaan memakan biaya hampir tiga ratus juta
dollar. Biaya luar biasa untuk sekedar membangun perpustakaan. Pangeran Charles
pun berharap bangunan itu bisa menjadi “istana bagi rakyat”.
Selain perpustakaan umum, perpustakaan
universitas juga memiliki daya tarik. Trinity
Collage Library di Dublin.
Perpustakaan ini merupakan perpustakaan tertua di Irlandia. Dibangun atas
perintah Ratu Elisabeth I. Disana terdapat lorong buku terbesar di dunia yang
dikenal dengan Long Room. Dalam
lorong mampu menampung dua ratus ribu buku di dalamnya.
Keindahan arsitektur
perpustakaan tak hanya menciptakan efek kosmologis bagi pembaca. Keindahan
tersebut juga bisa dimanfaatkan sebagai lokasi pariwisata. Dalam situs resmi
kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, lokasi tujuan wisata hanyalah objek
bernuansa keindahan alam. Pemerintah terlalu bergantung kepada alam.
Jika dibangun dengan
arsitektur yang indah, perpustakaan bisa menjadi tawaran tujuan wisata. Tujuan
wisata nantinya tak hanya mencari keindahan alam dan budaya. Terlebih sekaadar
mengunjungi pusat perbelanjaan. Dalam berwisata di perpustakaan, kita bisa
menemukan berbagai hal perihal kehidupan.
Perilaku
Pembaca
Dalam buku Bukuku Kakiku (2004), terekam jejak
bagaimana seseorang berhubungan dengan perpustkaan dan buku. Remy Sylado
misalnya, begitu menyukai bergumul dengan perpustakaan. Bagi Remy, “menjadi
kutu buku merupakan siksaan yang menyenangkan.” Kegiatan Remy selepas sekolah
adalah mencari-cari buku. Ariel Heryanto mengakui,  perlakuan manusia terhadap
buku tak jauh beda perlakuan manusia terhadap anggur. Ada cara-cara tertentu yang
harus diperhatikan. Perawatan buku, suhu, rayap semakin memperburuk kondisi
perpustakaan bila tak dirawat. Petugas yang ketus juga tak memberi kenyamanan.
Kapankah perpustakaan akan
menjadi tujuan menghabiskan waktu? Bagi penggemar Foucault, hegemoni peradaban
dibentuk antara lain oleh rezim disiplin tubuh. Lantas, bagaimana kita melatih
disiplin tubuh dalam perpustakaan yang mengerikan? Kapankah pedagang kaki lima
dalam waktu senggangnya berkunjung ke perpustakaan, melepas lelah dengan
membaca. Bila itu terjadi, ia mungkin mengurungkan niat setelah tiba di depan
pintu. Sebuah kalimat menghujatnya: pengunjung dilarang menggunakan sandal.
__________
*) Mahasiswa
Fakultas Ekonomi, Jurusan
Ekonomi Administrasi,
Universitas Negeri Jakarta
  • Bagikan