Beranda Kolom Sepak Pojok Arteria Dahlan di Indonesia, Celeng di Negeri Rai Munyuk

Arteria Dahlan di Indonesia, Celeng di Negeri Rai Munyuk

4534
BERBAGI
"Saatnya Anjing Menggonggong" karya Indrotomo Brigandono.

Oyos Saroso H.N.

Saya tak hendak menyamakan Arteria Dahlan, anggota DPR RI dari PDIP yang sangat hebat, amat sangat terhormat, amat sangat mulia, teramat pintar, dan sudah pasti semua ucapannya benar–dengan Karto Celeng di Negeri Rai Munyuk. Tidak. Saya tidak ingin membandingkan itu karena saya nanti bisa dijerat pasal penghinaan dan perbuatan tidak menyenangkan. Arteria Dahlan hidup di Indonesia pada zaman kiwari, sedangkan Karto Celeng hidup di Negeri Rai Munyuk. Kalau dibanding-bandingkan maka tidak seimbang. Bahasa kerennya: tidak apple to apple. Artinya, apel harus dipadankan dengan apel, janganlah apel dibandingkan dengan buah ceremai atau duku.

Kenapa tidak apple to apple? Karena Arteria Dahlan jelas makhluk mulia, berbudi luhur, cerdas, berpendidikan tinggi. Sebab itulah ia terpilih menjadi wakil rakyat di level nasional (DPR RI). Menjadi anggota DPR bukan baen-baen, kata wong Brebes. Tidak sembarangan. Pastilah ia orang hebat. Sedangkan Karto Celeng, meskipun ia juga wakil rakyat, ia berpendidikan rendah. Selain berpendidikan rendah, Karto Celeng hanyalah anak seorang juragan kulit sapi. Sedangkan ayahnya, Pak Sukarto Wijoyo bin Suro Ngampleh, hanyalah seorang tukang berburu celeng (tentang latar belakang Karto Celeng bisa dibaca di SINI).

Saya sebenarnya tidak tertarik dengan Arteria Dahlan kalau istri saya tidak bertanya siapa sih sebenarnya Arteria Dahlan yang tiba-tiba namanya sangat populer di media sosial. Linimasa medsosku dengan aneka cuitan dan tautan berita dan video anak muda memaki-maki orang tua saya biarkan saja. Karena makin heboh dan membuat telinga saya berdengung akhirnya saya sempatkan membuka tautan video. Karena videonya tidak utuh, saya menduga Arteria Dahlan sedang berdebat (lebih tepatnya) atau lebih tepatnya memaki-maki narasumber dari unsur pengamat yang usianya jauh lebih dibanding Prof. Emil Salim.

Ketika membaca tautan berita detik.com, tahulah saya bahwa kehebohan itu benar adanya. Maksudnya, Arteria memang tidak menganggap Prof. Emil Salim (89 tahun) berilmu. Tokoh berintegritas yang juga keponakan tokoh nasional Kyai Haji Agus Salim itu dianggap tidak punya kapasitas untuk bicara soal hukum karena Emil adalah ahli lingkungan hidup, bukan ahli hukum. Kemarahan Arteria memuncak dan tangannya menunjuk-nunjuk Pak Emil Salim karena dia merasa lembaganya (DPR RI) direndahkan.

Arteria Dahlan adalah wakil rakyat hebat. Itulah sebabnya semua kata-katanya harus didengar. Ia sangat agung dan mulia, itulah sebabnya ia terpilih menjadi wakil rakyat. Ada pun ia dihujat publik karena tidak sopan terhadap orang yang lebih tua, hal itu haruslah dimaklumi sebagai sebuah kemestian. Ia memang mesti seperti itu karena ia sedang tampil di acara talkshow televisi. Ia berada di panggungnya, ia merasa paling fasih berbicara tentang dunianya. Ketika dunianya diserang, menjadi wajar dia balik menyerang dengan lebih garang.

Sementara talkshow di televisi, kita tahu, hanyalah sebentuk panggung pertunjukan yang dari sononya memang bukan untuk berdebat dengan argumen dan pemikiran jernih. Yang diperlukan talkshow di media populer dan kapitalis semacam televisi bukanlah voice (pandangan, pemikiran, aspirasi, ide, suara lain), tetapi noise (kehebohan, kontroversi, rating, popularitas). Akal menjadi tidak harus jadi pertimbangan untuk berdebat. Yang penting adalah okol, tarikan urat leher, kekerasan dalam bersuara –apalagi keras suara diimbangi dengan sedikit literatur yang bisa dikutip dari sumber sana-sini.

Dari dunia cuap-cuap bermodal okol dan pokrol bambu kerap lahir tukang sihir. Ialah mereka yang mampu menyihir pikiran para penonton dengan pukau kata-kata. Entah benar entah tidak. Yang penting isi kata-kata si tokoh pas dan kena di hati, maka jadilah narasumber itu menjadi narasumber idaman dan akan dipelihara sepanjang masa. Ia pun tiba-tiba menjadi selebritas. Bisa jadi ia akan dipinang menjadi pejabat teras partai, komisaris perusahaan besar, dosen tamu, atau pengisi materi pelatihan komunikasi publik.

Dengan alasan seperti itu maka saya tidak akan menyalahkan Arteria Dahlan. Karena memang seperti itulah “hukum talkshow” dalam kemasan mutakhir. Mestinya memang tidak seperti itu. Tapi kalau cuma datar-datar tidak akan heboh. Acara menjadi tidak laku. Rating jadi rendah.

Meskipun begitu, saya akan lebih angkat topi jika ada pemilik stasiun televisi atau pengelola acara talkshow yang punya tanggung jawab sosial dan pendidikan terhadap masyarakat penonton. Artinya, saya akan menaruh rasa hormat jika pemilihan narasumber dan tema dikancah secara ketat dan tidak sembarangan dan tidak ragu untuk menghentikan debat jika sudah mengarah ke laku barbar.

Harus diingat, tontotan televisi di era kiwari jauh beda dengan tontonan zaman baheula. Sekarang acara tv tidak berdiri sendiri, tetapi bisa bisa berkelindan dengan media sosial. Kehebohan dan perilaku tak patut yang semula hanya ditontot sedikit orang terdiri atas orang dewasa, bisa menyebar ke medsos dan ditonton oleh anak-anak sekolah yang masih dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan berpikir.

Kepada para sahabat yang sudah telanjur ditenung bintang talkshow pujaan, saya cuma ingin berpesan: segeralah singkirkan televisi (jangan dipalu tv-nya) jika ada orang barbar muncul di acara debat sementara anak-anak anda ikut menonton atau sekadar mendengar suaranya dari kamar. Cepat matikan tv. Debat barbar dengan aksi narasumber yang barbar dan kehilangan sopan santun bukan hanya menjadi racun bagi anak-anak. Ia jauh lebih lebih porno dibanding film biru dan akan merusak akal sehat-sanubari anak-anak.

Bagaimana dengan Karto Celeng di Negeri Rai Munyuk? Tidak usah dipikirin! Biarkan saja ia kesepian. Toh yang memilih dia sebagai wakil rakyat bukan kita di Indonesia. Yang memilih Karto Celeng adalah para celeng di Negeri Rai Munyuk.

***

Usai menonton video Arteria Dahlan memaki-maki Profeser Emil Salim, tiba-tiba saya teringat pesan kawan lama: Rasulullah Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk menghindari berdebatan yang berkepanjangan apalagi debat kusir. Ada jaminan luar biasa bagi mereka yang mau mengikuti perintah Rasulullah mengindar dari perdebatan.

Menurut kawan saya yang seorang ustaz itu, dalam sebuah hadis diriwayatkan Mu’adz bin Jabal RA, Rasulullah SAW pernah bersabda: Aku menjamin sebuah istana di tepian surga untuk orang yang meninggalkan debat (debat kusir atau debat yang berkepanjangan) meskipun ia dalam posisi yang benar, dan meninggalkan berbohong meskipun pada saat ia bercanda, dan berakhlak mulia.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Loading...
BERBAGI
Artikel sebelumyaEmpat Pimpinan DPRD Lampung Selatan Resmi Dilantik
Artikel berikutnyaMenko Polhukam Wiranto Ditusuk di Perut
Portal Berita Lampung: Terkini, Independen, Terpercaya