Beranda Kolom Sepak Pojok Arti Merdeka Menurut Karto Jengkol

Arti Merdeka Menurut Karto Jengkol

3180
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Janganlah tanya arti kemerdekaan kepada Karto Jengkol, jika kita tak ingin dibuatnya kecewa.

Karto Jengkol, juragan jengkol asal dusun Lemah Rengkah, sebuah pojok Negeri Rai Munyuk, konon omongannya sering menyakitkan hati.Maka, janganlah kita bertanya kepadanya tentang makna apa pun bagi dia. Lebih-lebih makna kemerdekaan.

Itulah nasihat yang selalu kuingat dari Mbah Rejo Bungkus, pedagang salak pondoh yang biasa mangkal di Pasar Pring Abang. Meski agak kasar, hati Karto Jengkol, kata banyak orang, tetap selembut kain beludru. Kecerdasannya pun konon hanya dua tingkat di bawah Habibie.

Saya sendiri belum pernah ketemu Karto Jengkol. Sebagai orang baru, saya belum sempat kenalan dengan Karto yang menghebohkan itu. Kabarnya sih otak Karto Jengkol agak sedikit miring justru ketika dia nyemplung ke dunia politik.

“Seharusnya dia masuk ke Partai Kuda Sembrani.Tapi, tiba-tiba dia justru nancap di Partai Gendul Gowang Sontoloyo. Ya jelas to, makin jadilah gilanya…” ujar Mbah Rejo.

“Kok bisa begitu Mbah?” tanya saya.

“Ya jelas….karena untuk menjadi anggota dan pengurus Partai Tak Kan Lari Kuda Dikejar syaratnya harus sedikit gila. Yang tadinya sudah gila, makin gilalah dia. Orang waras justru malah ditolak!”

“Ah, Mbah Rejo ini ada-ada saja…Mana mungkin ada partai yang mensyaratkan anggotanya gila? Tak mungkin ada partai yang menampung orang-orang sinting!” saya mencoba protes.

“Itu dulu.Sekarang lain lagi. Sekarang bahkan banyak partai yang menyodorkan syarat agar anggotanya gila. Kalau enggak gila, ya dipaksa biar gila. Misalnya ditakuti-takuti, diteror, ditenung, dsb. Pokoknya dibikin sedemikian rupa biar otaknya miring,” kata Mbah Rejo.

“Kalau begitu, nanti kalau jadi anggota Dewan juga gila dong, Mbah? Bagaimana kalau nanti ingin jadi calon gubernur, walikota, atau bupati?” saya penasaran.

“Jangankan mau jadi gubernur, kalau mau lurah pun mereka diminta jadi orang gila dulu. Mereka dites, apakah berhasil jadi orang gila apa tidak.Kalau gagal jadi orang gila, ya gagal pula untuk dicalonkan jadi lurah,” ujar Mbah Rejo. “Itu semua penting dalam rangka mengamankan kegilaan di Negeri Rai Munyuk.”

Menurut Mbah Rejo, 37 tahun lalu muncul sejenis penyakit yang belum ada obatnya mewabah di Negeri Rai Munyuk. Wabah itu namanya penyakit ‘Ora Idep Isin’ (Tak Tahu Malu).

Konon orang yang dijangkiti penyakit ini, tiba-tiba mukanya akan menjadi tebal sekaligus lentur. Perpaduan antara tembok dan karet. Anehnya, wabah ini hanya menjangkiti pejabat dan para kroninya. Juga (konon katanya) para wakil rakyat.

Tentu saja saya tidak percaya. Mana mungkin orang-orang terhormat, yang dipilih lewat pemilihan umum di antara ribuan bahkan jutaan rakyat terjangkit penyakit? Bukankah mereka terbiasa punya dokter pribadi yang bisa mendeteksi sejak dini penyakit yang bersemayam di tubuh?

“Sampai sekarang wabah itu pun masih berjangkit! Lihatlah setiap tujuh belasan, pada peringatan hari kemerdekaan! Betapa banyak yang terharu dan menangis sesenggukan lantaran konon trenyuh menyaksikan penderitaan Ibu Pertiwi. Dikiranya cuma mereka yang bisa tersentuh hatinya, tercabik-cabik batinnya menyaksikan negeri tercinta ini koyak-moyak, dirundung derita!”

“Saya tahu Mbah. Simbah mau bilang bahwa tak hanya Tuanku Maharaja yang memiliki negeri ini kan? Simbah juga mau mengatakan bahwa selama puluhan tahun hanya Partai Cap Waru Doyong saja yang merasa memiliki negeri ini kan, lalu ketika Negeri Rai Munyuk bangkrut mereka sibuk mencuci piring dengan berton-ton sabun kan?”

“Nah, kamu mulai menyindir!” semprot Mbah Rejo. “Biarpun membangkrutkan negeri, asal bisa memberi kesejahteraan bagi rakyat, pahalanya tetap dihitung sama Gusti Allah. Jadi nggak apa-apa. Ken Arok saja dipuja jadi pahlawan meskipun dia perampok besar…”

Tiba-tiba, tanpa kami sadari, muncullah serombongan orang berpakaian safari lewat di depan kami. Mereka baru saja turun dari mobil mewah nan mengkilap.

“Nah, ini dia Karto Jengkol!” pekik Mbah Rejo.

“Dari mana To, eh, Kol, kok rombongan begini?”

“Dari gedung parlemen, Mbah. Ya, apa sampeyan lupa bahwa saya sejak beberapa tahun ini menjadi orang penting? Kami baru saja mendengar pidato kenegaraan dari Sang Maharaja. Kami baru saja sedih dan gembira bersama-sama…”

“Lo, la kok bisa? Sedih kok bisa dicampur gembira?” tanya Mbah Rejo.

“Kami sedih karena terharu menyaksikan Maharaja menangis di televisi. Hampir bersamaan kami gembira karena teman-teman bilang akan ada pemilihan ulang Adipati. Itu berarti kami akan segera panen lagi!”

“Lho, sekarang katanya musim puso…semua padi kekeringan karena kurang air sehingga gagal panen…”

“Itu sih panennya petani padi. Panennya kami lain. Makanya, sekali-kali main ke gedung parlemen, biar tahu perkembangan zaman. Jangan jadi orang waras terus! Jadi orang waras itu tidak enak. Miskin terus. Nikmatilah zaman merdeka!” ujar Karto Jengkol.

“Bukankah kita sudah merdeka. Tuh buktinya orang sekampung setiap tahun merayakan hari kemerdekaan dengan aneka macam lomba,” kata Mbah Rejo.

“Itu sih arti kemerdekaan bagi orang kampung. Kemerdekaan bagi kami lain lagi. Merdeka berarti boleh gila sepuas-puasnya. Merdeka berarti boleh nlepak seenak bacot, tetapi tetap dicap sebagai orang alim. Merdeka berarti selalu panen setiap musim pemilihan Adipati tiba. Merdeka berarti bisa karaoke di hotel berbintang, ditemani perempuan cantik, sambil menikmati … (titik-titik)”

Belum sempat Karto Jengkol melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba napas Mbah Rejo tersengal-sengal. Cuma dalam hitungan detik Mbah Rejo jatuh ke tanah dengan sukses. Orang sekampung heboh. Karto Jengkol dan kawan-kawannya pun lari terbirit-birit dengan kemerdekaan yang disimpan dalam saku jas safarinya.

Kini tahulah saya bahwa merdeka berarti sinting!

Loading...