Beranda Views Kopi Sore Arti Merdeka Menurut Penjual Durian

Arti Merdeka Menurut Penjual Durian

1361
BERBAGI

Yudi Nopriansyah

Saya pulang kampung untuk menghindari kegiatan kerja yang bisa mengikis independensi berpikir saya.

“Berpikir merdeka”. Itu slogan yang oleh rekan dan guru-guru saya menjadi motto dalam melaksanakan aktivitas kehidupan. Denggan semangat berpikir merdeka, kami berharap tak ada satu pun manusia atau lembaga di dunia ini bisa mengkooptasi pemikiran kami. Kami harus bisa merancang, mengolah, dan menyebarkan ide dan gagasan yang bersumber pada pemikiran kami.

Tentu saja ini sulit, karena ketika berbenturan dengan realitas kehidupan, apa yang menjadi panduan kami sebagai manusia merdeka melaksanakan prinsip-prinsip berpikir merdeka.

Saya lebih banyak belajar melatih prinsip ini dulu ketika mahasiswa. Melatih ide, gagasan dan perilaku sosial yang bersandar kepada hati nurani. Saya mencari tahu bagaimana nurani bisa menjadi pembisik gerak motorik raga saya yang hampir semua dipengaruhi oleh realitas kehidupan yang kausalitas,  yang selalu pamrih mentransaksikan sebab-akibat.

Alhamdullilah saya tak merasa khatam melatih nurani saya ketika di kota. Dan saya putuskan melatih Berpikir Merdeka saya di desa kelahiran saya Suban, Lampung Selatab, pada 2009. Saya melihat dunia dari ‘Blankspot,’ nama warnet yang saya usahakan di Desa Suban. Saya belajar berpikir merdeka mengunakan cangkul dan keringat di kebun.

Kawan, jika kalian tanya apakah 10 tahun di desa saya khatam belajar melaksanakan prinsip-prinsip berpikir merdeka yang bersandar hati nurani. Jawabnya tidak mungkin keluar dari mulut saya, karena saya sudah tidak berharap hasil dari proses melatih nurani. Dan saya akan terus berproses melatih kepekaan nurani untuk melatih saya menjadi manusia. Berpikir Merdeka akhirnya hanya menjadi bahan bakar jiwa dan raga saya selama ini.

Dan di hari yang berbahagia ini, hari perayaan kemerdekaan ke-75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Saya ucapkan selamat ulangan atau selamat 17-an. Dan selamat membaca tulisan yang endingnya garing, seperti cengkih kering yang tersimpan di lumbung petani.***

* Yudi Nopriansah adalah alumni Universitas Lampung yang kini menekuni bisnis duren di kampung halamannya, Desa Suban, Lampung Selatan