Beranda Kolom Sepak Pojok Arus Balik

Arus Balik

38
BERBAGI
Karikatur Mudik (sumber: kaskus.co.id)

Sunardian Wirodono

sunardian2Mengapa Idul Fitri di Indonesia disebut Lebaran? Padahal menurut orang Batak, jalanan jadi sempitan, macet di mana-mana. Tak ada sama sekali lebarannya! Jalanan memang diperlebar, dan gencar dibangun oleh Jokowi, tapi tak ngaruh sama sekali. Bukan lebaran, malah sempitan.

Tidak disebutnya Idul Fitri, mungkin takut salah nyebut dikira Idul Anak Sekolahan. Karena kalau Idul Anak Betawi, kok, jadi gubernur Banten? Itupun hanya nerusin Hajah Atut. Emang Abang Rano atut ya? Atut jadi tersangka gegara penyertaan modal BJB?

Sementara media, terutama televisi, terus saja memborbardir berita sampah. Arus sana macet, arus sini ramai lancar, arus situ padat merayap. Memangnya ada cair merayap? Bayangkan kalau ada benda padat merayap di atas tubuh sampeyan. Benda padat itu berupa lelaki tua yang impoten misalnya.

Namanya juga lebaran, setahun sekali. Para urban setahun sekali balik ke sejarahnya. Bisa dibayangkan bukan, kalau berbondong-bondong bolak-balik setiap hari? Itulah makanya, keputusan lebaran setahun sekali sudah tepat. Bayangkan, kalau di tol macet 48 jam, bagaimana mau lebaran tiap hari? Bisa-bisa lebaran dua kali di perjalanan bukan? Apalagi sampai ada yang mati. Kenapa mati? Karena Jokowi!

Tapi, sejak kapan sejarah mudik? Tentu saja setelah ada istilah itu. Setidaknya, sama tuanya dengan istilah sejarah hilir. Masalahnya, sejak kapan sejarah hilir, itulah yang mesti diteliti. Karena, jika sejarah hilir ditemukan, maka sejarah mudik juga akan ditemukan.

Ditemukan? Emang sebelumnya hilang, atau ada yang membuang? Tak selalu yang ditemukan harus dibuang terlebih dulu. Contoh; Ditemukannya bohlam, pesawat telpon, gramophone, sepeda motor. Sama sekali tak ada yang membuang, karena barangnya belum ada. Tapi barang itu dicipta, dibuat oleh orang pintar.

Tapi, kenapa disebut penemu? Karena kalau disebut pencipta, nanti dikira sombong. Bukankah sang pencipta hanya tuhan? Dan tiada tuhan selain allah? Hanya di Indonesia benda yang sudah ditemukan bisa dihilangkan. Apalagi menyangkut barang bukti.

Media juga suka menyebut istilah arus mudik, tapi lawannya arus balik, bukan arus hilir. Kenapa? Jangan-jangan mereka sedang mempromosikan novel Pram, Arus Balik? Itu harus dilaporkan pada Kivlan Zein. Lapooor: Komunisme diam-diam merambah media kita, Pak Kiv.

Bahasa memang menunjukkan bangsa. Tapi, kalau kita saling tunjuk terus, siapa yang bertanggungjawab, kalau jawabannya selalu tanggung?