Beranda Views Kisah Lain Asal-Usul Nama Pahoman di Kota Bandarlampung

Asal-Usul Nama Pahoman di Kota Bandarlampung

123287
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Bandarlampung–Pepatah lama menyebutkan gajah mati menyisakan gading harimau meninggalkan belang. Namun bagi manusia, dia meninggal namanya kekal.

Begitulah Hoffman, warga Bandarlampung memiliki bengkel kendaraan berat (dan mobil) di jalan yang kini bernama Jalan Radin Intan. Ada yang menyebut Hoffman adalah keturunan Belanda, namun sumber lain meyakini pengusaha bengkel kendaraan berat ini berasal dari Jerman.

Hoffman adalah pengusaha bengkel mobil dan kendaraan berat amat terkenal kala itu. Bengkel tersebut berada yang kini menjadi Toko Buku Fajar Agung. Area Bengkel Hoffman termasuk luas: dari Toko Buku Fajar Agung hingga Fajar Net dan menjorok ke dalam. Karena Bengkel Hoffman itu, kawasan di sekitarnya disebut Rawa Bengkel.

Pak Hoffman tidak menetap di tempat usahanya itu. Rumahnya sekitar 5 kilometer dari bengkelnya, persisnya ke arah Stasiun RRI Tanjungkarang.

Sebelum nama jalan atau kawasan ada, penamaan pun sesuai dengan apa yang mudah ditandai. Misalnya Gedong Air, karena adanya penampungan air milik Hindia Belanda—kini PDAM Way Rilau. Atau Pejagalan, rumah potong hewan yang juga dibangun pada masa Belanda.

Jalan Baru juga punya nama karena sebuah tanda. Dahulu, warga di Jalan Baru tersebut banyak memiliki sado, maka disebutlah Umbul Sado. Begitu pula Umbul Kapuk lantaran banyak warga di sana memberi jasa membuat kasur. Padahal di daerah ini, hanya ada satu-satunya pohon kapuk (randu) persis di atas bukit yang kini disulah menjadi Hotel dan Resto Bukit Randu di Kebon Jeruk, Bandarlampung.

Demikian pula Pahoman. Menurut cerita turun-temurun, kawasan ini mulanya tidak bernama (noname).

Kemudian masyarakat saat itu, yang notabene keturunan Banten, jika hendak ke daerah sekitar ini cukup menyebut dekat (rumah) Pak Hoffman.

Misalnya, kata Hazairin, apabila ada yang bertanya tujuannya hendak ke kawasan ini maka orang itu akan menyebut rumah Pak Hoffman.

Akhirnya, lama-kelamaan lantaran kebiasaan menjadi nama kawasan. Sementara Pak Hoffman, karena lafal yang terus-menerus disebut, jadilah Pahoman. Huruf “k” dan “ff” hilang tak tersebut lagi.