Beranda Views Kopi Pagi Ayo, Tulislah

Ayo, Tulislah

735
BERBAGI

Tomi Lebang

Media sosial membuat setiap orang menjadi pewarta, setiap kita adalah penulis. Setiap peristiwa mudah dikabarkan, setiap rasa tak sungkan diungkapkan.

Jika pusing menjalin kalimat romantis, tulis ala isian formulir: nama, tempat dan tanggal lahir, alamat dan seterusnya. Tinggal mengganti pertanyaan dengan nama-nama, hari dan tanggal kejadian, lokasi, dan jalannya peristiwa. Itu jika engkau hendak mengabarkan sesuatu di sekitarmu. Jika masih rumit, ya jawab sapaan pertama Facebook yang selalu menyambut dalam huruf samar di kotak status linimasa: what’s on your mind?

Engkau tak harus menguasai kosa-kata yang serumit-rumitnya untuk menulis. Bukankah sebagian kata tercipta karena telinga yang mendengarnya mengubahnya jadi aksara?
Kata gonggong, desis, geram, aum, mengembik, kesiur dan lain-lain saya duga tercipta dari suara anjing, ular, harimau, kambing dan hembusan angin yang tertangkap pendengaran manusia.

Bahkan di satu bukunya yang saya lupa judulnya, penulis besar mendiang Pramoedya Ananta Toer pernah menuliskan kata pertama seorang bocah yang datang bertamu: “slekuuum ….”

Mungkin ia ingin memberi imajinasi lebih dalam kepada pembaca tentang bagaimana terdengarnya doa Assalamu’alaikum di keseharian.

Tulis seperti engkau berbicara. Tak ada larangan mencampurkannya dengan bahasa daerah, ini toh halamanmu sendiri. Itulah sebabnya kosakata Jawa, Betawi, elo gue anak Jakarta, bahkan celetukan Makassar, Batak dan Toraja bertebaran di tulisan-tulisan media sosial. Sah-sah saja, asyik-asyik sahaja.

Kata Buya HAMKA, “hanya dengan menulis aku menjadi tuan bagi diriku sendiri”.

Selamat pagi. Selamat mengawali hari.