Beranda Seni Baca Puisi di Lamban Isbedy, Ketua PKS Lampung Ternyata Punya Bakat Terpendam

Baca Puisi di Lamban Isbedy, Ketua PKS Lampung Ternyata Punya Bakat Terpendam

179
BERBAGI
Ustaz Ahmad Mufti Salim membaca puisi di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS, Sabtu malam (3/8/2019).

TERASLAMPUNG.COM –– Ustaz Mufti Salim, ketua DPW PKS Lampung dan anggota DPRD Provinsi Lampung ternyata memiliki potensi membaca puisi, mungkin selama ini tersimpan.

Hal itu dikatakan Isbedy Stiawan ZS, pengampu Lamban Sastra Isbedy, mengomentari kegaiatan Politisi Baca Puisi ‘Membaca Kembali Indonesia’, Sabtu (3/9) semalam.

Acara yang berakhir sekira pukul 23.00 itu, disambut antusias para politisi, seniman, dan masyarakat.

Sastrawan berjuluk Paus Sastra Lampung menilai ustad Mufti tampil tenang, intonasi bagus, dan pengahayatan terhadap puisi “Wahai Pemuda Mana Telurmu” karya Sutardji Calzoum Bachri.

“Padahal sebelumnya, ia tak mau baca puisi. Tetapi, saya kuatkan bahwa ia bisa. Bisa,” kata Isbedy.

Lalu, Erika Novalia Sani, politisi asal Nasdem dan anggota DPRD Kota Bandarlampung, dengan puisi “Krawang-Bekasi” Chairil Anwar tampil prima dan di atas lainnya.

“Untuk dimaklumi, ibu Erika dulunya pembaca puisi yang baik dan pegiat di UKMBS Unila,” ujar Isbedy.

Isbedy juga mengapresiasi penampilan Aprikiati, Rakhmat Husein, Muchlas E Bastari, Akhmadi Sumaryanto, Aep Saripuddin, dan Siti Rahma.

“Saya kira kegiatan serupa ini bisa diagendakan misalnya 3 bulan sekali, agar potensi berkesenian para politisi bisa tersalurkan. Juga menyeleraskan yang warna-warni,” imbuh dia.

Direktur Lamban Sastra Isbedy Stiawan, Agusri Junaidi, mengaku kegiatan ini sukses. Dari 23 para politisi, yang hadir 17 orang. Selain itu, penampilan para politisi di panggung juga memberi asupan batin audiens.

“Saya puas sekali, ini yang pertama mungkin di Indonesia,” katanya.

Aguari juga menyumbangkan puisi “Ode buat Isbedy” yang dibacakan Rafika Trisia Ananda yang juga memandu acara tadi malam.

Puisi “pujian dan penghormatan” terhadap Paus Sastra Lampung itu, terbilang kuat. Simbol yang digunakan terpilih. Begitu pula dengan diksinya.

Tentang puisi Agusri, Isbedy menilai, ia seperti masuk ke setiap baris kata, merenungi, dan dia benar-benar terharu.

“Puisi Agusri itu benar-benar mengharukan, dan ia telah menggambarkan diri saya dengan berhasil.”

Loading...