Beranda Views Sepak Pojok (Baca) Yasin di Penjara

(Baca) Yasin di Penjara

203
BERBAGI

Nusa Putra*

Pejabat banyak yang bebal, hati dan otaknya. KPK sudah berulang kali menangkap tangan pejabat yang menerima suap. Mereka sudah dihukum dan kini hidup di penjara dalam kehinaan sebagai penjahat. Argumentasi apapun yang mereka kemukakan tidaklah berguna. Pengadilan telah memvonis mereka bersalah. Artinya mereka penjahat bejat. Tampaknya jadi pejabat memang potensial berubah menjadi penjahat. Tentu saja bila bebal hati dan otaknya.

Seharusnya para pejabat sepenuhnya menyadari, mereka ada dalam pengawasan ketat KPK. Karena itu syahwat jahatnya harus dikendalikan. Bukankah berbagai tunjangan dan honor yang resmi dan halal sudah lebih dari cukup. Untuk apalagi mencari yang haram dan bisa menjebloskannya ke dalam penjara, kemudian dicap sebagai penjahat bejat?

Rachmat Yasin, Bupati Bogor rupanya tidak belajar dari fakta bahwa para pejabat bisa dengan mudah beralih status jadi penjahat bejat. Dia sama sekali tidak ingat bahwa dia pernah di periksa KPK dalam kasus mega korupsi Hambalang. Waktu itu dia disangka ikut serta dalam proses pembebasan lahan yang sangat bermasalah.

Bahwa akhirnya dia dicokok KPK, juga dalam kasus pembebasan lahan, artinya dia memang ahli berkongkalikong dalam soal itu. Meskipun selama ini ia dikenal sebagai orang baik, berasal dari partai Islam dan selalu berpenampilan santun. Karena itu wajar jika banyak orang Bogor yang kaget.

Kasus Yasin ini sekali lagi menegaskan, tidak ada orang yang bisa menyimpan bangkai terlalu lama. Siapa pun, terutama para pejabat bisa saja merekayasa, memanipulasi, berpura-pura menjadi orang yang baik, santun, dermawan, peduli, bahkan sangat agamis dengan rajin shalat ke masjid, rajin umroh, bahkan membiayai anak buah umroh.

Tetapi bila pada dasarnya mereka jahat, korup, dan suka menyalahgunakan wewenang, pastilah ada saat mereka akan tergelincir, jatuh terjerembab dan terbukti, mereka adalah penjahat bejat. Pengkhianat amanat rakyat.

Sebenarnya secara kasat mata kita pun bisa melihat bagaimana banyak orang yang tiba-tiba melesat hidupnya begitu jadi pejabat, dalam waktu sangat singkat. Semuanya mendadak sontak berubah, mirip power rangers. Rumahnya mendadak berubah jadi istana yang harganya milyaran, mobilnya tiba-tiba menjadi banyak dan berharga mahal. Bahkan anak-anaknya juga mendadak punya segalanya.

Akal sehat kita akan meraba-raba, mengapa bisa seperti itu? Kita kan bisa berhitung secara rasional, berapa tunjangan dan honor yang ia terima. Meskipun tergolong besar, tatapi tidak memungkinkan perubahan secepat itu. Pastilah keadaan ini menimbulkan tanya, rasa penasaran.

Celaknya, si pejabat malah merasa bangga, dan dengan sengaja memamerkam semua harta benda itu secara terbuka. Kayaknya mereka memang tak lagi punya urat malu. Seakan sudah seharusnya pejabat seperti itu.

Bila akhirnya ditangkap tangan oleh KPK, segera saja digeledah dan disita harta bendanya. Barulah si pejabat tahu rasa. Kita pun jadi mendapat kepastian bahwa dia adalah penjahat bejat, bukan pejabat hebat.

Kita sangat berharap KPK terus melakukan perang terhadap korupsi dan koruptor melalui operasi tangkap tangan dan strategi yang lain. Karena sebagian besar kita haqqul yaqin tidak sedikit penjahat bejat itu ada di antara para pejabat. Mereka telah menyalahgunakan kekuasaan, jabatan, dan wewenang untuk memperkaya diri, keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Mereka sudah terbiasa memperjualbelikan kewenangan yang melekat dalam jabatannya.

Negara bangsa ini akan tetap terkebelakang, rakyatnya akan tetap miskin dan menderita, layanan dan fasilitas publik akan terus bermutu rendah, bila para pejabat dengan mental penjahat bejat itu terus dibiarkan. Mereka harus diperangi, dihukum berat, dipermalukan dan dimiskinkan. Hanya dengan cara ini diharapkan menimbulkan efek jera. Media massa juga harus membongkar kehidupan pribadi dan keluarga pejabat yang bermental penjahat bejat seperti ini, bila kejahatan mereka telah terungkap. Agar masyarakat tahu pola dan jaringan kejahatannya. Agar pejabat lain faham dan sadar, begitulah nasib mereka bila jadi koruptor, sang penjahat bejat. Agar keluarga pejabat  yang merupakan penjahat bejat itu sadar, bahwa mereka selama ini memakan uang haram. Agar keluarga pejabat yang lain selalu mengingatkan sang pejabat agar jangan jadi penjahat bejat.

Negara bangsa ini sudah terlalu lama menderita karena ulah para pejabat yang bermental penjahat bejat ini. Yang melakukan korupsi, memperkaya diri tanpa memperdulikan bahwa yang mereka korup itu adalah duit untuk kepentingan rakyat banyak. Mereka sudah sangat terbiasa menerima suap untuk berbagai kebijakan yang mereka buat dan dari berbagai proyek yang ada dalam kendalinya. Suap itu sudah dianggap sebagai keharusan yang harus dibayarkan pada mereka.

Semogalah para pejabat seperti itu semakin banyak yang ditangkap KPK. Agar negeri ini bebas dari penjahat bejat bertopeng pejabat. Khusus untuk si Racmat Yasin, jika dia rajin baca surat Yasin, malam  Jumat kali ini, dia berkesempatan baca Yasin di penjara.

PEJABAT BERMENTAL PENJAHAT BEJAT, TEMPAT TERBAIKNYA ADALAH PENJARA.

*Penulis buku. Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

Loading...