Beranda Kolom Kopi Pagi Badminton

Badminton

686
BERBAGI

Oleh: Gola Gong

Sebetulnya atlet badminton itu tidak peduli siapa atau apa sponsornya. Tapi peduli pada siapa pelatihnya, makanannya, hadiahnya, prestasinya, gedungnya, perlengkapannya, bonusnya, dan agenda sirkuitnya.

Percayalah, setelah sepakbola, badminton kita ke depannya hancur lebur ketika orang-orang yang tidak mengerti olahraga ikut campur, apalagi belum pernah bertanding di lapangan badminton dan juara.

Saya menulis seperti ini, karena saya pernah jadi pemain badminton, atlet Indonesia kategori amputi tangan dan juara se Asia Pasific 1986-1990. Jadi, hentikanlah omongan soal moral. Urus saja moralmu. Saya bisa juara se Asia Pasific karena hati dan pikiran saya tenang, karena saya ingin juara, karena saya ingin ada dan hadir di dunia. Tidak peduli siapa pun yang mengurus.

Oh, Indonesia yang sedang sakit. Biang keroknya adalah para koruptor dan orang-orang yang rakus kekuasaan, dan haus perhatian. Mereka butuh panggung agar kamera dan kilatan blitz mampir ke wajah mereka. Kini olahraga mereka jadikan panggung (politik) juga.

Badminton kita sedang di bibir jurang. Tunas-tunas yang mestinya tumbuh secara alamiah, kini mati sia-sia, karena orang dewasanya bertanding dan bertengkar di luar lapangan.

Saya yakin Ferry Soneville, Tan Yoe Hok, Rudi Hartono, Liem Swie King, Ivana Lie, Susi Susanti, dan Alan Budikusuma menangis…..

*Gola Gong adalah seorang novelis, perintis dan pengelola Rumah Dunia di Serang, Banten

 

Baca Juga: Gola Gong: Dunia Ada di Genggaman Tangannya

Loading...