Beranda Teras Berita Bagaimana Menulis Seperti Chekov? (1)*

Bagaimana Menulis Seperti Chekov? (1)*

148
BERBAGI

Oleh Iswadi Pratama

Anton Chekhov lahir pada tahun 1860 di Taganrog, Pelabuhan Laut Azov. Ayahnya adalah penjaga toko, anak seorang petani yang membawa diri dan keluarganya menjauh dari perbudakan. 

Chekov mulai menulis cerita pendek selama menjadi mahasiswa di Universitas Moskow, dan setelah lulus dari sekolah kedokteran ia merangkul dua profesi: sebagai dokter yang seperti “isteri sah”-nya, dan sastrawan sebagai “isteri simpanan”. Selama melanjutkan menulis cerita-cerita pendek , Chekhov juga tertarik dengan teater dan, di awal kariernya ia juga mulai menulis naskah drama. 

Drama panjang pertamanya yang cukup sukses adalah , “Burung Camar”, yang diproduksi pada tahun 1896, menyusul kemudian “Paman Vanya” dan “Tiga Dara Bersaudara”. Sedangkan “Kebun Cherry” tampil pada 1904, dan pada tahun yang sama Chekhov, yang telah cukup lama menderita TBC, mati pada umur 44 tahun.

Dalam hal menulis, Chekov selalu melakukannya dengan cara amat detil dan senantiasa menyajikan gambaran yang sangat kuat atas pengalaman pribadinya, baik sebagai penulis cerita pendek, drama, novel singkat, karya non fiksi dan sebagai pembaca teks-teks sastra yang cerdas. Ia tahu beban kesunyian yang harus ditanggung demi menulis. Kebutuhannya untuk menulis selalu menggebu meski seringkali ia dihajar rasa putus asa atas penerimaan masyarakat yang acuh tak acuh.

Bagaimana menulis seperti Chekov dimulai dengan sekumpulan nasihat atau saran yang saya kutip dari beberapa buku yang mengulas perihal Chekhov dan proses kreatifnya dalam menulis. Saya berharap bahwa apa yang telah dikatakan oleh penulis masyhur ini melalui karyanya maupun melalui tulisan-tulisan para ahli dapat bermanfaat bagi yang lain sebaik pada Chekhov sendiri. Salah satunya ahli yang menerapkan nasihat dan kiat-kiat menulis seperti Chekhov adalah Raymond Carver—orang yang telah mengajar penulisan kreatif selama bertahun-tahun mengenai cerpen dan puisi. Raymond mengakui bahwa menggunakan kiat Chekov menimbulkan pengaruh yang sangat besar pada karyanya sendiri dan oleh sebab itu ia juga menyebarluaskan pelajaran dari Chekhov itu berupa;

a. meniru kesederhanaan namun dengan bahasa yang sangat cermat dan tepat;
b. membuang kata-kata yang terlalu dibebani emosi yang tak terkendali,
c. menyampaikan kesaksian yang sungguh-sungguh tentang hidup kita, dan
d. mengingat bahwa kritik bisa meredakan perasaan dari pengalaman yang sunyi pada siapa
saja yang menulis dengan semua itu.

Di antara begitu banyak nasihat-nasihat Chekhov yang disampaikannya pada semua penulis, kritikus, kerabat yang keranjingan menulis, dan editornya bisa diambil dari surat-suratnya antara tahun 1886 dan 1902. Jumlah surat-surat Chekhov yang sangat berlimpah itu menunjukkan sosoknya yang sangat disenangi karena kemurahan hatinya untuk membagi waktu dan energinya. Itulah mengapa Chekov selalu dikepung dengan naskah dan permintaan saran dari semua yang mengagumi atau bahkan bersebrangan dengannya. Topik yang dibahas dalam surat-surat Chekhov itu pun sangat beragam. Secara umum menyangkut masalah motif untuk menulis, hubungan karya dan pembaca, menentukan sudut pandang, pendekatan, memilih timing, dan cakupan; dan topik yang lebih spesifik misalnya seperti prinsip atau hakikat, deskripsi, karakter, emosi, apa yang harus dihindari, dan bagaimana membuat kesepakatan dengan sesama penulis.

Selain bahan-bahan di atas, tulisan ini juga menyerap kiat-kiat Chekhov menulis dari pendekatan lain, yakni diambil dari laporan ilmiah perjalanan Chekhov yang bertajuk; “Pulau Sakhalin”. Awalnya dipahami sebagai disertasi doktornya di bidang kesehatan, meskipun tidak pernah dimanfaatkan, ekspose yang sangat besar dilakukan Chekhov di masa Tsar dilakukan dalam semangat ilmiah Claude Bernard, psikolog abad 19 yang memperjuangkan filsafat skeptisisme sebagai perangkat dasar dari penyelidikan di bidang kesehatan. Di sini, sebagaimana bentangan narasinya, dengan kepekaan rasanya Chekhov selalu menakar pikiran, menimbang, dan mengukur apa yang didengar di balik sumber pertama pengetahuan, Ia menjaga keheningan hal-hal yang menyentuh dalam seni-nya.

Dalam tulisan ringkas ini, nasihat, teori, anekdot, maupun praktik, disusun dalam cara ilustratif. Semoga penjelajahan atas penemuannya dalam hal menulis ini tidak hanya bermanfaat untuk para penulis yang melakukan perjalanan panjang dan berharap bisa menulis tentang semua itu, tetapi juga untuk semua yang ingin mengerti kehidupan yang lebih dekat dengan rumah.

Prosa-prosa Chekhov adalah sebuah model untuk para penulis yang lebih sedikit perduli pada plot daripada “apa yang berlangsung di dalam rongga nafas mereka”, dalam pertemuan dua titik, dalam sebuah momen kejutan ketika segala sesuatu bersifat nyata dan batiniah.

Ada ungkapan dari jurnalis Italia Francesca Sanvitale, mengatakan dengan acuan pada karya Katherine Mansfield, penulis yang juga telah menyebarluaskan pandangan Chekhov melalui karyanya; “Karya-karya Chekhov senantiasa merefleksikan Kepastian dunia eksternal di satu sisi, dan gejolak hidup dalam perubahan terus menerus di sisi lainnya.” dan mempercayai bahwa “Keindahan dalam hidup akan ditemukan di dalam gejala-gejala yang terus berubah-ubah”. Mansfield, sebagaimana sebagian penulis modern,mengagumi secara khusus keingintahuan Chekov yang langka: “ Ia Seniman yang melihat hidup sangat dekat,” tulis Katherine dalam suratnya tahun 1921.

”For Chekhov, there could be no contradiction between action and observation because for him observation—objective, scrupulous, open-minded, and profoundly respectful—was itself the most hopeful and productive form of action.”

Penulis Kontemporer—misalnya, penulis Italia Natalia Ginzburg (1916—1991), yang mengenali keseimbangan yang baik dalam karya-karya Chekhov ini mengatakan, karya-karya Chekhov mensyaratkan perpaduan komitmen sosial yang bersifat intelektual dan ilmiah dan sudut pandang seorang seniman yang menggunakan kepekaan rasa. Itu merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan sebagai novelis.

Lalu bagaimana seseorang (pemula) bisa mulai belajar menulis? “Saya pernah mendengar bahwa penari belajar, bukan dengan menonton pelatih atau seorang murid termasyhur, tetapi dengan menirukan siapa yang cuma sedikit lebih baik dari mereka. Anggapan yang sama terjadi dalam menulis. Saya tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Saya hanya tahu bahwa seseorang harus belajar menulis dari seorang seperti Chekhov, seorang ahli. Selain itu, seperti kata Vladimir Nabokov, Ia (Chekov) memiliki keramahan yang sangat fenomenal—keajegannya dengan suka rela untuk bergaul dengan siapa pun, untuk menyanyi dengan penyanyi dan untuk mabuk dengan pemabuk,” tulis Natalia.

Namun, Chekhov bukanlah seniman yang dengan mudah meraih semua kekaguman dan penerimaan dari publik—meski Ia sendiri tak pernah memikirkan hal itu. Bahkan sepanjang abad 19 Anton Chekhov adalah pengarang Rusia yang meraih rekor publisitas paling buruk. Seorang sarjana dan peneliti sastra abad ini, Lena Lencek, mencatat bahwa para penulis, kritikus, dan teman-teman yang menjadi saksi hidup kekaguman tanpa batas pada karya-karya Chekhov mengutukinya dengan nada pujian yang bisa membunuh reputasi. Di antaranya: “Chekhov adalah penyair dari keputusasaan. Keras kepala, penyedih, monoton, sepanjang tahun dari aktivitas sastranya, hampir seperempat abad yang panjang, Chekhov mengerjakan sesuatu sendirian: melalui satu atau pengertian lainnya ia adalah pembunuh harapan manusia.” Namun ada pula yang bernada lain, datang dari rekan kolaborasi teaternya Constantin Stanislavsky: “Suasana hati Chekhov seperti goa di mana terpelihara semua harta yang sangat gamblang dan tersembunyi dari Jiwa Chekhov.

Maxim Gorky, who owed Chekhov a vast debt of gratitude for tireless mentoring and encouragement, came up with the following: “The author’s mind…shows up in hard outlines the monotonous roads, the crooked streets, the little squalid houses in which tiny, miserable people are stifled by boredom and laziness and fill the houses with an unintelligible, drowsy bustle.”

Prerevolutionary and Soviet critics doggedly promoted Chekhov as a kind of aesthetic phenobarbital, labeling him as “a singer of twilight moods,” “a poet of superfluous people,” “a sick talent,” “a poet of anguish,” a voice of “world sorrow,” and—the clincher in the bunch—an “optimopessimist.”

Chekhov berbailk menjadi “raksasa” di antara para penulis: namanya diukir di atas batu, harum, murah hati, berpengaruh, dan penuh perhatian dari pembacanya dalam cara dimana penulis Rusia lainnya dengan kelas promosi yang lebih baik bahkan tidak bisa membayangkan. Ia mempublikasikan 568 cerita seumur hidup yang dihabiskan selama 44 tahun. Ia bersurat dengan semua penulis, kritikus, dan seniman baik dari kalangan utama maupun pinggiran. Membimbing ribuan penulis; dan meninggalkan warisan termasuk begitu banyak nasihat dalam seni menulis—abadi–masyhur.

“Pengarang-pengarang sezaman Chekhov,” tulis Lencek, “bisa jadi telah menemukan penjelmaan kembali kesedihan, tetapi saya agak mencurigai bahwa mereka telah kebingungan bagaimana mematok suara novelnya yang mengejutkan. Kesulitan memahami; terambing antara tragedi dan komedi yang sering berwujud gerundelan yang menandai karyanya adalah fakta pertama yang mencirikan kesadaran dan kepekaan modern”.

Namun bagi saya, ujar Lencek, kita harus menguraikan penjelasan reduktif mengenai karya Chekhov dengan mengeluarkannya dari sentiment ideologi, dogma, aturan-aturan agama yang berlaku ketika itu. Karya-karya Chekhov meneropong keragu-raguan kita, kegelisahan, nafsu untuk setiap kesenangan atas kemolekan, ironi, dan kesepakatan pada ketunggalan nilai yang dahsyat: kemerdekaan. Kaya dengan kompleksitas soiologis, ekonomi, dan politik dari kekaisaran Rusia terakhir darimana Ia menggambarkan warna lokal Rusia. Cerita-cerita Chekhov juga menawarkan sejumlah hiburan pada pembaca yang mencari pelarian dari kehidupan sehari-hari yang kehilangan makna atau ketatnya aturan prilaku. Semua itu tanpa kegetiran, tanpa solusi-solusi yang gagah yang berakar pada metafisika.

* Diterjemahkan dari berbagai sumber oleh Iswadi Pratama

Loading...