Beranda Pendidikan Kampus Bahas HKI, FH Unila Undang Konsultan dari Prancis

Bahas HKI, FH Unila Undang Konsultan dari Prancis

216
BERBAGI
Dr. Wahyu Sasongko dan Patrick Monlouis saat memaparkan soal HKI. (dok Unila)

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com —  Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH Unila) menggelar sosialisasi hak paten pada Senin (11/8) lalu. Acara digelar di gedung bagian hukum perdata FH Unila dengan mengundang Patrick Monlouis, seorang konsultan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk Prancis dan Eropa, yang tinggal di Paris, Prancis.

Acara yang diselenggarakan selama dua jam ini diikuti beberapa peserta yang berasal dari kalangan dosen dan mahasiswa di Fakultas Hukum Unila. Selain Patrick Monlouis, Fakultas Hukum Unila juga menghadirkan fasilitator lain yakni Dr. Wahyu Sasongko, S.H., M.H., sebagai pakar HKI di Indonesia dan Fathoni S.H., M.H., sebagai moderator.

Patrick mengatakan, digelarnya kegiatan ini berawal dari pertemuan dirinya dengan Dr. HS Soejatisnanta beberapa bulan lalu di Perancis. Saat itu Dr. HS Soejatisnanta beserta tim yang terdiri dari para dosen Fakultas Hukum Unila sedang melakukan penjajakan kerja sama dengan beberapa fakultas hukum yang ada di Perancis.

“Saya dan istri pada waktu itu mencoba membantu bapak HS Soejatisnanta beserta tim. Kebetulan kerja sama yang ingin dilakukan berhubungan dengan bidang pekerjaan saya, di bagian paten. Muncul lah ide untuk membuat satu acara di Unila ketika saya di Lampung,” ungkap Patrick yang memiliki istri dari daerah Lampung ini.

Menurut Patrick, dilangsungkannya kegiatan ini dilatar belakangi oleh pertumbuhan perekonomian tiap-tiap negara yang harus ditopang oleh kemajuan teknologi. Dengan teknologi misalnya, proses produksi dapat berlangsung dengan mudah, cepat, berdaya hasil tinggi, dan presisi. Inovasi yang lahir dari proses Research and Development (R&D) merupakan kekayaan intelektual yang memerlukan perlindungan.

Hal ini sejalan dengan pengertian paten sebagai hak khusus yang diberikan negara kepada seorang penemu. Prosedur perlindungan terhadap paten sebagai hak inventor di Indonesia telah diatur dengan mekanisme pendaftaran ke Dirjen HKI Kementerian Hukum dan Perundang-undangan.

Ia menjelaskan, ekonomi Indonesia semakin maju sehingga teknologi yang dipakai industri-industri semakin canggih. Di situ muncul dua masalah. Pertama untuk bertahan. Proses dan produk perlu ditingkatkan secara terus menerus. Usaha di bidang R&D yang dilakukan perlu dijaga supaya hasil usaha itu tidak dipetik oleh saingan begitu saja.

Kedua, lanjutnya, adalah dunia industri. Para saingan perusahan-perusahaan di Indonesia memakai paten untuk mencoba melindungi usaha-usaha mereka dan menghambat para kompetitornya. Di masa yang akan datang, para pengusaha di Indonesia membutuhkan bantuan di bidang paten untuk memperdalam efek-efek paten dari para kompetitor dan mencari solusi serta membangun strategi untuk lolos dari ancaman paten-paten lain.

“Untuk para peserta kegiatan ini merupakan kesempatan untuk lebih mengetahui soal paten. Unila bisa memberi gambaran kepada mahasiswa-mahasiswa soal paten dari sisi lain. Juga membandigkan hukum paten di Indonesia dan di Perancis bisa membantu untuk lebih menguasai soal paten,” kata dia. (R/Dewira)

Loading...